Pengalaman Geli Bersama Br Mulyanto OFM

    670
    0
    SHARE
    Foto: Facebook Bruder Tanto OFM

    Rabu 14 Desember 2016 pagi, saya membaca di media sosial tentang kepulangan Bruder Mul OFM atau Petrus Kanisius Mulyanto OFM untuk selamanya ke rumah Bapak. Saya terkejut, saudari maut telah menjemputnya. Sebab, saya tidak pernah mendengar Br Mul sakit selama ini. Tiba-tiba, ia datang dengan berita duka. Saya sedih.

    Mendapat kabar ini, lalu memori saya berputar ulang ke sebuah peristiwa geli di Biara St Yosef Pagal, Manggarai, Flores, NTT, pada 1994. Ketika itu, saya menjadi salah satu postulat OFM di biara tersebut setelah lulus dari Seminari Pius XII Kisol beberapa bulan sebelumnya. Sementara Br Mul tinggal di Biara Rivo Torto, Karot, di pinggiran Kota Ruteng. Jaraknya hanya 45 menit dengan bis dari Pagal.

    Suatu hari Br Mul datang ke Postulat, Pagal. Seperti biasa, siang hari setelah pelajaran, kami kerja tangan. Ada yang urus kebun sayur di halaman tengah biara dan ada yang bersihkan kandang babi di belakang dapur. Saya termasuk yang mendapat tugas di kandang babi hari itu.

    Ketika sedang asyik membersihkan kotoran babi, Br Mul tiba-tiba datang. Ia pakai celana pendek dan kaus putih dengan kepala yang selalu gundul. Ia sangat paham dengan babi. Ia tahu bahwa babi-babi itu sudah memasuki masa kawin.

    Tanpa banyak bicara, ia menggiring babi jantan ke kamar babi betina yang sudah kami bersihkan. Dan, si jantan langsung mengejar betina yang juga sudah tidak sabar karena sedang birahi. Ketika babi jantan menaiki betina, Br Mul turut membantu mengarahkan alat vital sang jantan untuk masuk pada sasaran yang tepat. Dan berhasil.

    Setelah dua ekor babi itu menyelesaikan urusannya, Br Mul kemudian tertawa lepas. Kami, para postulan pun ikut tertawa geli sambil memujinya sebagai orang yang sangat paham dan ahli dengan kebutuhan para saudara babi ini.

    Saya sendiri tidak pernah tinggal satu rumah dengan Br Mul untuk jangka waktu yang panjang. Selama di rumah pendidikan di Jakarta, Br Mul masih berkarya di Flores. Lalu ketika saya kembali ke Pagal pada tahun 2000 untuk tahun orientasi pastoral, Br Mul sudah pindah ke Jawa. Setelah itu, Akhir November 2000, saya mengundurkan diri dari Persaudaraan.

    Meski demikian, Br Mul tidak pernah lupa nama saya. Beberapa kali bertemu di Keramat setelah saya sudah lama berada di luar biara, ia masih mengenal saya. Semoga di alam sana pun Br Mul tidak lupa dan menjadi pendoa bagi saya dan keluarga. Selamat jalan Br Mul. Selamat bersekutu dengan para kudus Ordo Serafin. (Alex Madji)