Home Inspirasi Perjalanan Ke Sebuah Kampung (1)

Perjalanan Ke Sebuah Kampung (1)

377
0
SHARE

Tanggal 7-12 Juli 2010 saya berlibur ke Wela, sebuah kampung lereng gunung di Desa Goloworok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT). Kampung yang pada sore hari selalu diselimuti kabut dan bersuhu dingin itu berbatasan langsung dengan Golowelu, ibu kota Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat.

Saya berangkat dari Jakarta hari Selasa (6/7) pukul 20.30 WIB dengan pesawat Air Asia dari terminal tiga Bandara Internasional Soekarno Hatta bersama Egi, Ino dan Kaka Memi. Mendarat di Bandara I Gusti Nurah Rai pukul 23.00 Witeng. Sedangkan Joni yang juga pakai Air Asia dengan nomor penerbangan berbeda mendarat di Ngurah Rai 30 menit berselang. Sementara Robert yang menggunakan Batavia Air sudah tiba satu jam lebih dulu di Ngurah Rai. Dia dengan Onsi yang beberapa tahun terakhir menetap di Bali menunggu kami di Solaria dalam kompleks bandara itu.

Onsi, saudara bungsu Joni dan sepupu kandung saya sudah mencari hotel buat kami di wilayah Popies II kawasan Kuta Bali. Tadinya, muncul ide untuk melewati malam itu dengan nonton bareng semi final pertama Piala Dunia antara Belanda dan Uruguay di kafe pinggir jalan ke Kuta karena besok pagi-pagi jam 07.00 harus melanjutkan penerbangan ke Labuan Bajo. Tetapi niat itu urung, karena Onsi ternyata sudah bayar dua kamar hotel. Terpaksa kami lewatkan malam itu dengan nonton bareng di kamar hotel yang cukup luas tetapi dengan televisi buram. Gambarnya tidak terlalu terang.

Malam itu total tidak tidur. Begitu sampai hotel, kami istirahat sebentar sambil menunggu Ustin yang juga baru tiba di Bali dengan bis dari Jakarta. Dia dijemput Onsi. Setelah mereka datang, kami lalu mencari makan malam di bibir Pantai Kuta sekedar menghabiskan waktu menjelang semifinal Piala Dunia 2010. Kami makan di Mc’Donald di ujung gang Popies II, Kuta. Robert, Ustin, Onsi, dan Joni makan, sedangkan saya hanya makan es krim dan Memi tidak makan sama sekali. Sambil makan kami menikmati bule-bule perempuan yang mengenakan pakaian seadanya. Empat orang perempuan bule yang masih muda-muda dan duduk di samping meja kami tertawa geli karena Onsi makan Mc’Donald (ayam goreng dan nasi) plus sup. Bagi mereka itu tidak biasa.

Setelah makan kami kembali ke hotel, bercakap sambil menunggu jarum jam menunjuk pukul 02.30 WIB. Joni, Ino, Ustin, Onsi tertidur. Yang lihat bola hanya saya, Egi, Robert, dan Ricard “Sapek” (ponakan kami dari kampuang yang bekerja di Bali). Setelah pertandingan Belanda-Uruguay yang berakhir dengan skor 3-2, jarum jam menunjukkan pukul 05.00. Kami tidak bisa tidur lagi. Apalagi jam enam sudah harus sampai di bandara. Kalau tidur, bisa-bisa ketinggalan pesawat. Egi, Ino, Robert, dan Kaka Memi masih sempat mandi. Saya dan Joni sengaja tidak mandi. Jam 05.30 kami cabut ke bandara dan langsung check in.

Saya masih sempat cuci muka di bandara biar agak segar. Tapi kantuk tak bisa ditahan. Begitu duduk di ruang tunggu, kami tertidur sampai pengumuman, “penumpang pesawat Indonesia Trans Nusa tujuan Labuan Bajo dipersilahkan naik ke pesawat melalui pintu nomor 18” disiarkan melalui pengeras suara. Dalam keadaan setengah sadar, saya berdiri dan angkat tas. Tidur kemudian dilanjutkan di pesawat. Perjalanan 55 menit dengan pesawat Aviastar bermesin jet ganda tidak terasa. Tiba-tiba terbangun karena dicolek pramugari supaya sandaran kursi ditegakkan menjelang mendarat di Bandara Komodo Labuan Bajo. Saking nyenyaknya, sampai-sampai “jatah” voucher nginap di Hotel Jayakarta (hotel bintang empat) Labuan Bajo diambil Robert. Tapi tidak apa-apalah, yang penting saya bisa tidur nyenyak.

Pesawat itu mendarat tepat pukul 08.00 di Labuan Bajo. Di parkiran bandara, travel yang sudah dihubungi dari Denpasar sudah siap. Mobil colt L 300 milik Pater Marsel Agot SVD juga ternyata siap menjemput kami di bandara. Tidak hanya itu. Toyota Avanza milik Bapa Koe Bapad Berti yang mengantar Om Mus ke Labuan Bajo juga siap membawa kami ke Wela. Ah, kami seperti tuan-tuan besar saja. Tetapi karena Soni, sopir travel yang dipesan Egi dari Denpasar, sudah menolak penumpang lain dan demi menjaga hubungan baik kami tolak mobil gratis Pater Marsel.

Mobil Pater Marsel hanya mengantar kami ke kantornya di Prundi diikuti travel Suzuki APV dan Toyota Avanza tadi. Sesampai di Prundi, Pater Marsel menyambut kami dengan gayanya yang khas penuh ramah dan senyum berlimpah plus pelukan hangat. Belum juga kami duduk, dia sudah langsung meminta staf perempuannya yang menjaga toko dan wartel di situ mengambil bir dan anggur orang tua. Kami sempat menolak karena kami belum sarapan, tetapi dia keukeh. Katanya, ini adalah bir dan anggur merayakan kekalahan Fidelis Pranda, calon incumbent dalam pemilihan kepala daerah (pemilu kada) Kabupaten Manggarai Barat.

Kami lalu ajak Pater Marsel sarapan di Gardena, sebuah tempat makan favorit di Labuan Bajo selain karena tempatnya yang lumayan bagus, tetapi juga karena pemandangan lautnya yang sungguh indah dan memesona. Dari situ hotel mewah Jayakarta yang masih sangat baru tampak di kejauhan. Sungguh indah. Kami masuk ke rumah makan itu tepat pukul 09.00 dan langsung pesan cap cay dan ikan kuah asam kesukaan Pater Marsel. Sayang sekali, tempat yang indah ternoda pelayanan yang lamban dari para pramuniaga hotel dan rumah makan itu. Pesanan kami baru datang dua jam kemudian, pukul 11.00. Padahal perut sudah keroncongan.

Saking tidak tahannya, Joni Datur atau yang biasa kami panggil Jontor, sepupu kami lainnya yang ke Labuan Bajo mengantar Om Mus sampai bertanya ke beberapa gadis pelayan hotel dan restoran itu, “Enu (nona) apakah kami harus tidur di sini?” Sambil menunggu makanan, Pater Marsel bercerita tentang serunya pemilu kada di Manggarai Barat. Tampak dia sangat puas dan antusias atas kekalahan Fidelis Pranda. Maklum sudah satu tahun lebih dia bersama sejumlah pastor dan aktivis lembaga swadaya masyarkat di wilayah itu menentang kebijakan pro tambang Fidelis Pranda. Empat orang bule dari Prancis dan Italia minta saya menjepret mereka berlatar hamparan laut Labuan Bajo yang bersih dan pulau-pulau kecil yang menyembul di tengah laut biru dan Hotel Jayakarta di kejauhan. Indah. Mereka berbicara Bahasa Inggris. Dengan Inggris patah-patah saya timpali mereka. Seorang bule pria dari Italia mengatakan, “Ha, your English is better.” No, my English is not so good,” ucap saya. Sementara sepasang bule lainnya duduk santi di seberang kami menghadap ke laut dan sembulan pulau-pulau kecil di depan mereka sambil menikmati kopi hitam.

Saya bilang ke mereka, kalau mau bicara Bahasa Italia, di sini (rombongan kami itu) ada orang yang sangat fasih berbicara Italia karena pernah tinggal lebih dari empat tahun di Italia yaitu Pater Marsel. Tetapi mereka hanya saling menyapa dan mengedipkan mata dari jauh. Pater Marsel pun mengaku Bahasa Italianya tinggal sisa-sisanya saja. Maklum sudah lama tidak dipakai. Setelah bosan bersenda gurau dan setelah berkali-kali ditanya, makanan pesanan kami akhirnya datang juga. Ikan kuah asam dan cap cay. Enak memang. Tetapi tunggunya itu yang tidak kuat. Kami melahap makanan itu sampai habis tanpa sisa. Pesan nasi tambah pun lamanya minta ampun, meskipun akhir datang.

Setelah selesai makan, Pater Marsel cepat-cepat menyambangi kasir dan membayar semua makanan yang diorder. Saya, Ino, Egi, dan Joni tidak enak hati. Karena seharusnya yang mentraktir dia adalah kami. Tetapi Pater Marsel membayar semuanya. Lagi-lagi kalimat yang meluncur dari mulutnya, “ini adalah perayaan kekalahan Fidelis Pranda”. Begitulah Pater Marsel, tulus dan jujur.

Lama kami duduk di Gardena, Tarsi Budaya, teman angkatan Egi di Seminari Kisol datang bergabung setelah ditelepon Egi. Tetapi dia tidak makan karena katanya sudah makan dari rumah. Selesai makan, kami berdiri hendak pulang, tiba-tiba Romo Sipri Hormat (bekas guru saya di Seminari Kisol) dan Romo Ardus Jehaut (kakak kelas di Kisol) datang. Mereka yang baru mendarat dari Bali hendak makan siang di tempat itu. Tetapi saya bilang, “Romo kalau sudah lapar sebaiknya cari tempat lain saja. Di sini sangat lama. Kami saja menunggu dua jam baru makanan datang.”

Entahlah mereka tetap makan di situ atau tidak. Kami tidak perhatikan lagi karena kami segera masuk travel yang menunggu di depan Gardena. Kami berpisah dengan Pater Marsel di situ. Kami ke Wela, dia kembali ke tempat kerjanya. (Bersambung/Alex Madji)