Home Inspirasi Perjuangan Hidup Seorang Tuna Netra

Perjuangan Hidup Seorang Tuna Netra

636
3
SHARE

Keterbatasan fisik tidak membuat Saono (44) pasrah dalam menjalani hidup ini. Sebaliknya, dia terus berusaha semampunya untuk menghidupi istri dan kedua buah hatinya.

Saono adalah seorang tuna netra. Sebenarnya bapak dua anak ini dilahirkan normal, tak kekurangan suatu apapun. Hingga kelas dua sekolah dasar, penglihatannya masih normal dan menikmati indahnya dunia.

Malapetaka tidak bisa melihat bermula ketika kelas dua SD. Saat itu, tiba-tiba badannya panas tinggi diikuti kejang-kejang. Karena khawatir, orang tuanya membawa Saono kecil ke mantri. Di sana dia disuntik. “Waktu itu di kampung tidak ada dokter. Yang ada mantri,” ceritanya saat ditemui di Jalan Joglo Raya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, tepatnya di jalan yang membelah kawasan Puri Botanical Residence, Rabu, 3 Oktober 2012 sore.

Sejak dirawat sang mantri, kondisi pria kelahiran Cilacap Jawa Tengah itu bukannya membaik, malah memburuk. Panasnya memang reda, tetapi penglihatannya terganggu. Objek yang dilihatnya tampak kembar. Karena itu, orang tuanya kembali membawa dia ke mantri dengan keluhan baru. “Waktu itu, mata saya disinari,” tuturnya.

Bukannya membaik, penglihatan makin kabur. Lama kelamaan matanya sama sekali tidak bisa melihat cahaya. Tetapi proses menuju ke kebutaan itu tidak seketika. Butuh waktu 8 tahun untuk sampai ke kondisi sama sekali tidak bisa melihat. Saono mengaku mengalami kebutaan total ketika menginjak usia 14 tahun. “Jadi, sekarang sudah berlangsung selama 30 tahun,” ucapnya.

Meski tidak bisa melihat, Saono tetap merantau. Dia datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Dia mengambil prefesi sebagai tukang pijat. Seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi, kini Saono menjadi “pria panggilan”. Dia melayani pesanan pijit di rumah-rumah melalui telepon. “Saya ini datang ke rumah-rumah, jadi tukang pijit keluarga,” ceritanya lebih lanjut.

Penghasilan sebagai tukang pijit sebenarnya lumayan. Dia bisa membayar kontrakan dan menikah. Bukan hanya itu, dia bisa membiayai anak sulungnya sekolah hingga duduk di kelas dua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat ini. Dia juga masih mampu menyekolahkan anak keduanya yang berusia enam tahun di taman kanak-kanak dan tahun depan masuk SD.

Jual Kerupuk
Tetapi karena tukang pijit tuna netra makin banyak sekarang, maka panggilan untuk pijit kadang-kadang sepi. Menghadapi situasi ini, pria yang tinggal bersama keluarganya di bilangan Meruya Selatan, dekat Universitas Mercubuana, Jakarta Barat itu memutar otak agar asap dapur tetap mengepul.

Dia memilih pekerjaan sampingan sebagai penjual kerupuk. Saono diantar tukang ojek dengan bayaran Rp 10.000 pergi pulang (PP) dari kediamannya ke Jalan Joglo Raya tepatnya di Puri Botanical Residence, Jakarta Barat. Dia dan beberapa temannya sesama tuna netra dan tukang pijit menjajakan kerupuk di kawasan itu setiap sore mulai pukul 15.30 WIB sampai pukul 20.00 WIB atau paling lambat pukul 20.30 WIB.

Tidak setiap hari memang. Mereka berjualan kalau tidak ada pesanan untuk pijit. Karena itu, jumlah mereka yang berjualan di Puri Botanical ini tidak tentu. Kadang tiga, empat, atau lima orang sehari. “Kalau tidak ada pesanan pijit saya jualan kerupuk. Tetapi ketika saya sudah jualan kerupuk di sini, lalu tiba-tiba ada telepon masuk untuk minta dipijit, saya tidak bisa melayani,” ceritanya.

Setiap hari dia membawa 40-50 bungkus kerupuk yang dijual Rp 6.000 per plastik isi lima buah krupuk putih yang kriuk-kriuk itu. Rabu, 3 Oktober 2012 sore itu, dia membawa 40 bungkus kerupuk. Kadang laku banyak hingga 20-30 bungkus, bila ada yang borong. Tapi kadang hanya laku 10 plastik.

Kerupuk-kerupuk itu bukan miliknya sendiri. Dia hanya mendapat upah dari sisa setoran sebesar Rp 3.500 per bungkus kepada majikannya. Artinya dia hanya mendapat Rp 2.500 per bungkus (Rp 6.000-3.5000). Jadi, bila hanya bisa menjual 10 bungkus sehari, Saono dan kawan-kawannya mendapat Rp 25.000 sehari. Tetapi yang dibawa pulang ke rumah hanya Rp 15.000, karena harus dikurangi sewa ojek sebesar Rp 10.000 pergi pulang. Nilai yang dibawah ke rumah akan semakin besar kalau jumlah yang laku semakin banyak.

Meski tak seberapa hasilnya, Saono merasa bangga bisa mendapat penghasilan sampingan dan cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur. “Daripada nganggur mas,” ucapnya sedikit bangga.

Saono bercerita, kalau hanya mengandalkan penghasilan sebagai tukang pijit tentu tidak cukup. Meskipun penghasilannya lebih bagus dari berjualan kerupuk. Apalagi harga kontrakan terus naik. Begitu juga harga kebutuhan pokok, belum lagi uang sekolah anak. “Yang pasti itu, harus bayar kontrakan setiap bulan. Terlambat sehari saja, pemilik kontrakan sudah datang mengetuk-ngetuk pintu. Kalau terlambat dua tiga hari, kita sudah diusir,” tuturnya sambil terkekeh.

Meski demikian, Saono merasa bahwa Tuhan selalu memberi jalan kepadanya dan teman-temannya. Karena toh, kebutuhan-kebutuhan mereka sebagai orang kecil selalu tercukupi selama ini. Bukan untuk hidup mewah seperti para koruptor negeri ini, tetapi sekedar untuk mempertahankan hidup. “Meski kurang, tetapi kita tutup dengan percaya.” ujarnya penuh yakin. (Alex Madji)

Foto: Saono sedang menjajakan krupuknya di Puri Botanical Residence, Jalan Joglo Raya, Jakarta Barat. (ciarciar/Alex Madji)