Home Inspirasi Perjuangan Seorang Tukang AC

Perjuangan Seorang Tukang AC

457
SHARE


Hermawan hanyalah seorang tukang AC (Air Conditioner). Penampilannya sederhana. Tidak beda dengan tukang AC lainnya. Sore itu, Minggu, 1 April 2012 dia datang memperbaiki AC di rumah saya bersama adiknya, Hermanto atau biasa dipanggil Manto.

Hermawan terbilang ramah. Dia bercerita banyak hal, termasuk soal pekerjaannya. Saya pun tertarik dengan sosok ini. Itu sebabnya saya tulis di sini. Meskipun dia orang sederhana. Mungkin ada yang bisa memetik nilai, semangat, dan perjuangan hidup dari orang sederhana seperti Hermawan.

Hermawan yang baru berumur 21 tahun ini tidak pernah menempuh sekolah khusus teknik seperti SMK. Apalagi kuliah di perguruan tinggi. Dia hanya tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Magelang, Jawa Tengah. Dengan modal ijasah SMP dia merantau ke Jakarta. Dia mula-mula bekerja mengikuti orang sebagai pembantu atau asisten memperbaiki atau memasang AC di rumah-rumah atau perkantoran. Karena hanya berijasah SMP, gajinya pun cukup untuk makan.

“Saya pernah dilempari obeng mas karena tidak bisa apa-apa. Bahkan dibodoh-bodohin karena disuruh ke sana ke mari tidak bisa karena belum tahu jalan,” ceritanya mengenang awal hidupnya di Jakarta.

Tetapi kisah pilu itu menjadi cambuk baginya. “Saya belajar pelan-pelan, melihat mereka yang bisa memperbaiki AC. Makin lama, saya juga tahu dan paham seluk beluk AC. Saya memang bertekad untuk bekerja keras, kebetulan saya punya minat pada dunia teknik. Saya paham AC ini betul-betul karena belajar otodidak,” ceritanya.

Setelah agak lama di Jakarta, dia pun mengenal lika liku kota ini. Jalan-jalan mulai dikuasai. Seluruh wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dijajal tanpa kenal lelah demi sesuap nasi. Kerja keras dan ketabahannya membuahkan hasil. Dia tidak lagi menjadi tukang suruh. Tetapi menjadi “leader”.

Setelah lama malang melintang di Jakarta dan mulai menguasai seluk beluk AC, dia bergeser ke Lampung. Dia sana, pekerjaannya pun sama. Tukang AC. Enam bulan dia berada di ujung Pulau Sumatera itu. Kepiawaiannya dalam urusan AC membuatnya dikagumi dan bahkan bisa mengajar siswa SMK.”Di lampung saya mengajar SMK mas,”ceritanya.

Kemudian, sulung dari empat bersaudara ini kembali ke Jakarta. Dia memilih tinggal di Bintaro, tepatnya di Ceger, persis di belakang STAN, tempat kuliahnya Gayus Halomoan Tambuhan, terpidana kasus mafia pajak itu, dan tersangka kasus pajak, Dhana.

Sempat kembali menjadi buruh tukang AC, Mawan cepat sadar. Dia tidak mau lagi menjadi orang yang disuruh-suruh orang lain. Apalagi dengan penghasilan yang begitu kecil. Dia mau menjadi pekerja AC mandiri. Sebagai pekerja AC mandiri, dia menjadi “pria panggilan”. Artinya, baru dapat uang bila dipanggil orang untuk memperbaiki AC di rumah atau kantor. Modalnya, cuma nomor telepon yang ditinggal waktu memperbaiki AC saat beperja pada orang lain.

Meski awalnya sulit, Mawan tetap optimistis. Satu demi satu panggilan memperbaiki AC berdatangan. Dia pun dibantu oleh adiknya Hermanto. Makin lama, order makin banyak. Setiap hari ada saja permintaan memperbaiki AC. Order dari manapun dilayani. Dari Kelapa Gading di Jakarta Utara sampai Cibubur. “Meskipun jauh kami tetap datangi. Tak peduli hujan,” ujarnya.

Minggu, 1 April 2012 itu saja, Mawan mendapat empat orderan. Dia memperbaiki AC dari pagi sampai jam enam sore. Terakhir, ya di rumah kami itu. Luar biasa.

Meski hanya tamat SMP, Mawan berupaya kerja profesional. Dia melengkapi dirinya dengan seragam. Seragam biru putih bertuliskan “Mawan AC” pada bagian punggungnya juga dikenakan adiknya. Tidak hanya itu. Setiap pembayaran disertai dengan nota bon atau kwitansi. Pada lembaran kwitansi itu juga tertulis “Mawan AC” lengkap dengan alamat tinggalnya, sebuah kontrakan di Ceger, Bintaro.

Tampaknya, Mawan paham betul peta persaingan di dunia tukang AC. Dia tidak pasang tarif terlalu mahal. Sebagai bandingan saja, dia mengutip Rp 200.000 untuk las kebocoran pada mesin AC. Padahal, tukang lain yang sehari sebelumnya datang memperbaiki AC yang sama di rumah kami itu menawarkan harga Rp 350.000 untuk pekerjaan yang sama.

Selain sebagai tukang AC, Mawan juga bekerja sebagai tukang ojek pada pagi harinya. Dari Senin sampai Jumat pagi dia mengantar seorang bapak dari Sektor 9, ke stasiun Sudimara dengan bayaran Rp 350.000 per bulan. Setelah itu dia baru memenuhi panggilan untuk memperbaiki AC. Malam harinya, dia ngojek seorang ibu tukang pijit. “Saya melakoni peperjaan apa saja mas, yang penting halal. Saya kerja banting tulang seperti ini karena saya adalah anak sulung. Kalau bukan anak sulung, saya mungkin tidak terlalu bekerja seperti ini,” imbuh pria lajang yang setiap empat bulan kembali ke kampung halamannya di Magelang.

Ya, Mawan memang belum menjadi orang sukses. Tetapi jalan ke arah sana sudah mulai dirintisnya. Dia masih bekerja dengan adiknya, tetapi bukan tidak mungkin, suatu saat dia mempekerjakan orang lain. Semangat juang, kerja keras, keberanian mengambil keputusan untuk bekerja mandiri dari Mawan patut dicontohi. (Alex Madji)