Home Umum Pernak-Pernik Natal Produk Negara Komunis

Pernak-Pernik Natal Produk Negara Komunis

741
0
SHARE
Sumber Foto: www.ciarciar.com

Banyak pihak meributkan halal tidaknya mengucapkan Natal kepada yang merayakan. Ada yang bilang, mengucapkan Natal halal. Yang lain lagi berpendapat mengucapkan selamat Natal haram. Ada pula yang memprotes dan meminta agar tidak ada pemaksaan mengenakan simbol-simbol Natal seperti topi Santa Klaus kepada mereka yang tidak merayakan Natal.

Minggu, 12 Desember 2015 sore, saya coba jalan-jalan di Living World, Alam Sutera, Tangerang. Gegap gempita Natal sungguh terasa di sana. Selain menjual begitu banyak pernak pernik Natal, ada sebuah tempat yang disulap agar anak-anak merasakan Natal di musim dingin. Diciptakan pula sensai bermain salju. Mungkin mau merasakan “White Christmas”. Padahal, dari luar tampak jelas bahwa yang dihasilkan di ruang super dingin itu bukan salju melainkan es. Jadi, anak-anak diajak bermain es batu. Padahal, biaya masuknya mahal. Untuk anak-anak, pada hari biasa Rp 150.000/jam. Untuk Sabtu-Minggu Rp 200.000/jam.

Kemudian, saya coba bolak balik pernak pernik Natal yang banyak dijual di sekitar itu. Mulai dari topi Santa Klaus, bola-bola kecil dengan dominan warna merah dan masih banyak lagi pernak pernik lainnya. Harganya bervariasi. Tapi bukan harga yang saya utamakan. Saya perhatikan, di hampir semua barang itu tertulis “Made in China”.

Dan, semua tahu bahwa China adalah negara komunis. Mereka tidak mengakui adanya Tuhan. Agama pun tidak bisa hidup bebas di sana. Semua agama. Kalau pun ada yang menjalankan agamanya, mereka lakukan secara sembunyi. Untuk kelompok Katolik tekenal dengan sebutan geraja bawah tanah. Lalu saya bertanya dalam hati, kenapa mereka mau memproduksi pernak pernik Natal? Apakah dengan begitu mereka mengakui Natal sebagai hari kelahiran Isa Almasih? Dan, apakah mereka merayakan Natal?

Apa yang mereka lakukan tidak ada urusannya dengan mengakui atau tidak mengakui atau merayakan Natal sebagai hari kelahiran Isa Almasih. Mereka melihat Natal sebagai bisnis. Bukankah hal seperti ini sudah berlangsung berabad-abad? Karena itu, kalau ada yang pakai topi Santa Klaus di gerai-gerai mall, itu murni urusan bisnis saja. Tidak ada kaitannya dengan iman seseorang. Sangat sederhana. Jadi, jangan memperumit hal yang sederhana. Wong yang buat itu saja tidak beragama kok. (Alex Madji)