Politik Korban SBY

Politik Korban SBY

313
SHARE

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Kamis, 14 Februari 2013 di Istana Negara membuat pernyataan bahwa dirinya selalu mendapat serangan, fitnah, dan hujatan. Bahkan keluarga dan teman-temannya pun ikut dihina dan dihujat.

“Saat-saat ini adalah masa-masa yang berat bagi saya dan keluarga, sebenarnya ini saya alami sejak tahun 2004 sepanjang masa, tetapi akhir-akhir ini luar biasa apakah serangan, apakah hujatan dan bahkan terkadang fitnah yang menimpa saya dan keluarga. Kalau saya sudah sangat siap dengan semuanya itu karena konsekuensi saya sebagai Presiden di negeri ini. Tetapi, yang tentu saya prihatin, keluarga dan bahkan teman-teman saya pun menjadi korban sekarang. Ini. Saya kasihan kepada mereka, oleh karena itu saya meminta maaf, karena saya sebagai Presiden, jadi keluarga dan teman-teman saya ikut menjadi sasaran, serangan, hujatan bahkan sumpah serapah dari sejumlah kalangan yang saya dengar langsung di acara-acara talkshow televisi, social media, SMS dan yang lain-lain,” kata SBY dalam pidatonya di Istana Negara Kamis, 14 Februari 2013(Detikom, 14 Februari 2012).

Ya, dua minggu terakhir memang pemberitaan media massa mengarah kepada SBY. Pertama, soal pajak SBY dan keluarganya. Diberitakan bahwa keluarga SBY “tidak taat pajak” atau kasarnya menunggak pajak. Berita ini membuat kuping SBY merah. Lalu muncul rumor tentang orang-orang yang dicurigai sebagai pembocor informasi pajak SBY. Paling sedikit ada lima orang. Tiga di antaranya adalah Dirjen Pajak saat ini, Misbakhun, dan Anas Urbaningrum.

Kedua, soal surat perintah penyidikan atau sprindik KPK terhadap Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Buntut dari pengambilalihan kendali partai oleh SBY, lalu muncul berita bahwa sprindik yang menyebutkan Anas sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dibocorkan oleh staf di Istana Kepresidenan. Dua orang dari istana yaitu Imelda Sari dan Wim Tangkilisan disebut sebagai pembocor. Kedua orang itu saya kenal dengan baik. Yang satu pernah liputan bareng dan yang lainnya mantan atasan.

Ketiga, masih terkait masalah internal Demokrat. SBY diduga sedang mempersiapkan adik iparnya Jenderal Pramono Edhi sebagai Ketua Umum Partai Demokrat menggantikan Anas Urbaningrum. Gosip lain menyebutkan dia sedang memuluskan langkah putra bungsunya Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas menggantikan Anas, menyusul pengunduran dirinya dari DPR pada Kamis, 14 Februari 2013. Lalu muncul penilaian bahwa SBY mau mempertahankan pengelolaan Partai Demokrat sebagai partai keluarga.

Berita-berita itu kemudian “disimpulkan” SBY sebagai serangan, hujatan, dan fitnah terhadap dirinya, keluarga, dan teman-temannya. Tampaknya, SBY sedang memainkan kembali politik korban. Dia menempatkan dirinya sebagai orang yang dizolimi, orang yang disakiti. Korban. Pada posisi itu diharapkan dia mendapat simpati yang luas dari publik.

Politik korban ini sudah terbukti mujarab dalam perjalanan karier politik SBY hingga duduk di singgasana kursi Presiden. Menjelang pemilu 2004, SBY dikritik habis oleh suami Presiden Megawati Soekarnoputri, Taufiq Kiemas yang saat itu menjadi “Bapak Negara”. SBY disebutnya sebagai jenderal yang kekanak-kanakan. Ledekan ini kemudian memaksa SBY mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan pada Pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Pernyataan Taufiq ini kemudian menimbulkan gelombang simpati yang luar biasa kepada SBY. SBY pun maju dalam pilres sebagai orang yang dizolimi oleh kekuasaan ketika itu. Pada saat bersamaan muncul perasaan anti Megawati. Singkat cerita, SBY kemudian keluar sebagai pemenang pada pemilu 2004 dalam dua putaran. SBY terpilih karena saat itu ada semboyan asal bukan Mega.

Begitu sampai di Istana, menjelang pemilu 2009, SBY kembali memainkan politik korban ini. Saya masih ingat menjelang pemilu 2009, kasus terorisme marak terjadi. Tiba-tiba, pada sebuah siang, di halaman tengah antara Istana Kepresidenan dan Istana Negara, persisnya di depan ruang tunggu wartawan dan tempat jumpa pers bagi para tamu presiden yang terletak di bawah kantor presiden, SBY menggelar jumpa pers.

Ketika itu dia menyebutkan bahwa dirinya menjadi sasaran para teroris. Lalu ditunjukkanlah gambar yang memperlihatkan fotonya menjadi sasaran tembak orang yang mukanya ditutup atau disebut teroris. Kemudian, merebak isu bahwa “teroris” yang dimaksud itu “diolah” oleh tokoh politik tertentu yang juga bakal ikut bertarung pada pemilu 2009.

Simpatik terhadap SBY pun kemudian mengalir sangat deras. Terlepas ada hubungannya atau tidak, yang pasti SBY kemudian kembali memenangkan pemilu 2009 hanya dalam satu putaran dengan perolehan suara hingga 60 persen.

Nah sekarang, kasus serupa kini terjadi lagi menjelang pemilu 2014. Beda dengan 2004 dan 2009, kini SBY menggunakan isu keluarga. Bahwa keluarganya sudah menjadi sasaran fitnah, hujatan, dan serangan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sejauh mana efektivitas dari pernyataan ini, memang belum bisa diukur sekarang.

Tetapi paling tidak ada sebuah pola yang sama berlaku sejak 2004 sampai 2014 ini. Pada 2014 mendatang SBY memang tidak akan maju lagi sebagai capres karena dibatasi konstitusi. Tetapi rumor yang selama ini beredar menyebutkan SBY akan mendorong istrinya Ny Ani Yudhoyono untuk maju sebagai capres guna melanjutkan program-programnya, meniru apa yang terjadi di Argentina. Meskipun, sebelumnya SBY beberapa kali menegaskan bahwa dia tidak akan mendorong istri maupun anaknya untuk maju sebagai capres. Tetapi, itukan pernyataan politik yang bisa berubah setiap saat.

Nah kita tunggu saja, apakah nanti Ibu Ani yang akan didorong pada Pilpres mendatang, setelah sukses menyingkirkan Anas Urbaningrum? Dan bila iya, apakah Ibu Ani bisa memenangkan Pilpres dengan politik korban yang dipraktekkan SBY seperti yang dilakukan pada 2004 dan 2009? Kita tunggu saja sampai pemilu 2014, sambil menikmati suhu politik yang mulai memanas menuju pertempuran yang sesungguhnya. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY