Home Gagasan Prabowo Kalah Sebelum Perang?

Prabowo Kalah Sebelum Perang?

311
SHARE
Sumber foto: Tribunnews.com

Prabowo Subianto belum juga mendeklarasikan diri sebagai calon presiden (capres) 2019. Rencana awal, deklarasi tersebut dilakukan pada Rapimnas di Jakarta pekan lalu. Namun batal. Belakangan ditunda pada Rapimnas di kediaman Prabowo, Hambalang, Bogor, Rabu 11 April 2018.

Alasan kegalauan Prabowo karena belum mengantongi tiket menuju 2019. Selain itu, ia juga mempertimbangkan elektabilitasnya yang masih rendah dan belum bisa menyaingi tingkat keterpilihan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Semua lembaga survei memperlihatkan bahwa Prabowo tidak bisa menandingi Jokowi. Beberapa elite Partai Gerindra menambahkan alasan lain tentang kemungkinan tidak majunya Prabowo karena sudah berumur dan faktor kesehatan serta tipisnya logistik.

Kalau sampai Prabowo tidak maju sebagai capres, yang paling sakit adalah kader-kader Partai Gerindra. Sudah lama mereka mendesak agar ia maju lagi dalam kontestasi 2019. Dan, Rapimnas di Hambalang Rabu, 11 April 2018 hanya untuk memberi mandat kepada Prabowo agar maju sebagai capres 2019. Mungkin bukan soal kalah menang, tapi masalah harga diri partai. Selain itu, Prabowo tetap akan menjadi magnet agar partai tersebut bisa mempertahankan perolehan kursi di DPR pada pemilu 2019. Tak terbayangkan perolehan suara Gerindra tanpa Prabowo sebagai daya tarik utama di panggung.

Kegalauan Prabowo selama dua pekan terakhir ini tentu saja mengejutkan. Sebelumnya, dengan gayanya yang khas, ia mengkritik pemerintah. Mulai dari menghamburkan uang negara hanya untuk Asian Games 2018, kecelakaan proyek pembangunan infrastruktur karena banyak anggaran yang dikorup, sampai ramalan Indonesia akan bubar pada 2030.

Kritik-kritik itu memperlihatkan bahwa Prabowo sudah mulai menabuh genderang perang menuju 2019. Kemudian, pemerintah, termasuk Presiden Jokowi dan para pendukungnya menyerang balik Prabowo sampai akhirnya muncul pernyataan dari kalangan internal Gerindra bahwa Prabowo kemungkinan batal maju sebagai capres.

Jokowi-Prabowo

Pada saat bersamaan, muncul pula gagasan baru bahwa Prabowo tetap akan maju pada Pilpres 2019, tetapi sebagai wakil presiden Joko Widodo. Simak saja berita ini: PDIP: Daripada Habis Anggaran, Kenapa Prabowo Tak Join Jokowi? Gagasan ini cukup logis. Sebab peluang terpilihnya sangat besar. Apalagi, mungkin ini kesempatan terakhir Prabowo berkuasa setelah mencoba sejak 14 tahun silam. Kalau Tuhan mengizinkan dan rakyat menghendaki, ia bisa saja menggantikan Jokowi pada 2024.

Sumber Foto: Indopos.co.id

Hanya saja, kalau Jokowi berpasangan dengan Prabowo, pilpres 2019 menjadi tidak seru lagi. Pertandingannya tidak enak dilihat. Monoton. Tidak ada lawan tanding yang sepadan dengan Jokowi-Prabowo. Di satu sisi, ini bagus karena potensi terjadi kegaduhan kecil. Di sisi lain, banyak juga orang yang sedih, terutama pendukung Prabowo yang kebencian terhadap Jokowi belum juga terobati sejak pilpres 2014. Pilihan ini hanya akan menambah luka batin mereka makin menganga. Para pemburu rente dari pemilu juga rugi secara ekonomi karena tidak ada lagi yang bisa diolah.

Juga, bila Prabowo mendampingi Jokowi, kemungkinan keduanya akan melawan kotak kosong. Sebenarnya ini tidak tabu dalam demokrasi tapi tidak bagus untuk pendidikan politik rakyat. Untuk menghindari hal tersebut, yang perlu dilakukan adalah sekutu-sekutu Gerindra seperti PKS harus menggalang koalisi baru untuk mengajukan satu pasang sebagai lawan Jokowi-Prabwo. Misalnya dengan menggandeng Demokrat, PKB, dan PAN. Koalisi ini, misalnya, mengajukan mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantiyo, Agus Harimurti Yudhoyono, Muhaimin Iskandar, atau Presiden PKS Sohibul Imam.

Kalau PKS gagal membangun koalisi baru, maka mereka akan terisolasi dan berjalan sendiri pada pilpres 2019 karena tidak bakal bisa mengajukan calon presiden sendiri. Kekhawatiran ini makin kuat karena hubungan Partai Demokrat dengan Jokowi cukup mesra beberapa waktu belakangan. Sementara PKB hingga saat ini masih berstatus sebagai pendukung pemerintahan, meskipun tetap memasang target tinggi dengan mengajukan Muhaimin Islandar sebagai capres untuk Jokowi.

PKS akan terselamatkan kalau Prabowo memilih posisi sebagai “king maker” seperti Megawati Soekarnoputri di PDI Perjuangan dan Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat. Artinya, Prabowo tidak mecalonkan diri, tapi juga tidak merapat ke Jokowi. Ia akan mengusung orang lain, siapa pun mereka, sebagai jagoan dari Gerindra dan partai-partai sekutunya, termasuk PKS.

Apa pun yang terjadi dari skenario-skenario di atas, tidak berlebihan bila dikatakan sebetulnya Prabowo sudah kalah sebelum perang. Jangankan tidak maju sebagai capres, maju sebagai cawapres Jokowi saja sudah menunjukkan bahwa ia kalah. Namun, mungkin Prabowo tengah memainkan taktik perang berbeda. Ia mundur selangkah untuk kemudian maju seribu langkah guna meraih kemenangan. Siapa tahu. Kita tunggu saja hasil akhirnya nanti. (Alex Madji)