Home Inspirasi Pria-pria Nakal di Atrium

Pria-pria Nakal di Atrium

340
SHARE


Mal Atrium, Senen, Jakarta Pusat, pertengahan Maret 2012. Hari itu, saya janji bertemu seorang teman di sana. Kami janji bertemu pukul 19.00 WIB. Tetapi saya datang satu jam lebih awal. Saya lalu naik turun beberapa lantai mal tersebut, sambil menunggu teman saya tiba.

Di sebuah lantai, saya berpapasan dengan seorang bapak. Badannya tidak terlalu besar. Hidungnya mancung. Mengenakan kaus kuning berkerah dipadu jins biru. Tampilannya rapih. Tiba-tiba dia mengedipkan mata. Saya yakin, bapak itu tidak sedang genit dengan saya. Lalu saya coba melempar mata ke kanan. Ternyata di sana ada dua orang perempuan berpakaian seksi. Saya tak sempat menangkap reaksi mata kedua perempuan itu.

Tak lama berselang, saya saksikan bapak itu berlalu. Tak ada akis lanjutan. Kemungkinan, karena kedipannya tak bersambut. Kedua perempuan tadi juga terus berlalu ke arah yang mereka tuju. “Dasar laki-laki hidung belang,” batin saya sambil melintas.

Beberapa minggu berselang, teman saya bermain ke mal yang sama. Kami ngobrol jarak jauh melaui blackberry messanger (BBM). Saya sedang berada di kawasan Gatot Soebroto, Jakarta. Sementara dia baru saja melaporkan SPT di sana.

Teman saya mampir meneguk segelas jus di salah satu sudut mal itu, setelah rampung. Semeja dengannya, duduk seorang bapak. Sudah cukup umur, katanya. Dia ditemani seorang gadis yang masih ABG: anak baru gede. Teman saya ini merekam pembicaraan mereka dalam hati. Pembicaraanya terang. Tidak pakai bahasa simbol.

Si Bapak tua tadi ajak sang ABG untuk BBS alias bobo-bobo siang. Dan sepertinya deal. Sebab tak lama berselang, mereka pergi. Entah kemana. Tetapi ada satu hal yang pasti, di samping mal itu ada hotel, Aston Atrium. Hanya sepelembar batu dari situ juga ada Hotel Oasis. Apakah mereka ke sana, walahualam.

Itu hanya dua kisah yang terekam. Sebelumnya, sudah lama beredar cerita bahwa di mal Atrium Senen itu berkeliaran begitu banyak pria hidung belang. Kebanyakan dari Timur Tengah. Mereka mencari mangsa perempuan-perempuan Indonesia. Atau sebaliknya. Perempuan-perempuan Indonesia mencari mangsa pria-pria Timur Tengah yang berkeliaran di sana.

Aksi para pria Timur Tengah itu tidak hanya terjadi di mal atrium. Di Puncak, Bogor, Jawa Barat, kisah mereka juga sudah menjadi rahasia umum. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menikah siri dengan perempuan setempat. Setelah “puas” mereka kembali ke negaranya meninggalkan perempuan Indonesia dengan buah hati hasil perkawinannya.

Jusuf Kalla ketika menjadi Wakil Presiden secara berseloroh pernah berujar, perilaku itu cukup positif supaya makin banyak rakyat Indonesia memiliki hidung mancung dan menjadi bintang film.

Padahal perilaku para pria Arab itu adalah sebuah pelecehan. Karena itu, sudah saatnya nasib perempuan Indonesia dilindungi dan dibela dari kejahatan kelamin para pria dari Timur Tengah. Tetapi siapa yang memulai?

Keterangan foto: pertunjukan musk di Atrium Senen