Home Inspirasi Pungli Itu Terjadi di Depan Gereja

Pungli Itu Terjadi di Depan Gereja

412
SHARE


Minggu, 15 Januari 2012 pukul 09.45 WIB. Perayaan ekaristi di Gereja Santa Maria Regina (Sanmare), Sektor IX Bintaro Jaya belum kelar. Tetapi saya sudah duduk di antara gerobak jajanan di depan gereja. Ya, saya tidak mengikuti perayaan ekarisiti hari itu karena harus menemani anak sulung saya bermain. Tadinya dia ingin ke Sekolah Minggu. Tetapi karena libur, saya mau tidak mau menemaninya bermain.

Pagi itu saya kelaparan. Dari rumah hanya sarapan dua potong ubi rebus, seekor ikan bakar, dan secangkir kopi. Bermaksud diet dan mengurangi konsumsi nasi, saya alpa sarapan nasi. Ternyata perut ini tak kuat. Dasar perut nasi. Maka saya berburu sarapan. Gado-gado pakai lontong.

Baru saja saya duduk di samping gerobak dan memesan gado-gado, sebuah mobil patroli dari Security Bintaro Jaya parkir di belakang saya. Seorang berpakaian security dan bekepala plontos duduk di belakang kemudi. Tampkanya sudah cukup berumur. Sementara seorang ibu melenggak lenggok menagih di antara para pemilik gerobak. “Saweran-saweran,” ujar ibu gemuk itu cukup keras sambil bergaya seperti penyanyi dangdutan keliling kampung.

Setelah selesai menagih, ibu itu lalu menghampiri sang sopir. Menjulurkan tangannya ke dalam. Sementara pemilik gado-gado, tempat saya pesan gado-gado, juga buru-buru menyerahkan sebungkus gado-gado.

Kesaksian para pemilik gerobak di situ menyebutkan, petugas security dari Bintaro Jaya saban Minggu memungut uang dari para penjual makanan di depan gereja dan supermarket Hari-Hari itu. Besarnya, Rp 5.000 per gerobak. “Mereka sih enak. Main pungut. Kita yang susah. Belum tentu dagangan kita laku,” ujar seorang bapak yang menggelar makanan, dadangannya, di atas motor.

Pedagang lain memberi kesaksian bahwa dari satu lokasi itu saja, Security Bintaro Jaya ini bisa meraup Rp 50.000. Belum dari tempat lain. Sebab mereka keliling mulai dari sektor I dan mengutip dari setiap penjual.

Belum lagi jatah reman yang meskipun besarannya tidak tentu. “Kalau pereman kadang datang sendiri. Dia terima berapa pun yang kita kasih. Dia juga bagi dengan teman-temannya karena mereka banyak temannya,” kisah penjual lainnya tercekat menahan ludah.

Para pedagang kecil ini tidak luput dari pungutan liar seperti itu. Padahal, mereka hanya berdagang sekali seminggu di depan gereja tersebut. Pungutan liar ternyata tidak hanya dilakukan oleh aparat resmi negara, tetapi juga “pegawai” partikelir swasta seperti petugas security tadi. Betapa enaknya hidup sang security itu yang hanya mengutip dari hasil keringat dan jerih payah orang lain. Lalu apa bedanya dia degan preman?

Ah, memang kadang kala kita sulit membedakan antara security yang berarti (menjaga) kemanan dengan preman di negara yang full of free man alias preman.

Keterangan foto: Tampak dalam Gereja Santa Maria Regina. Foto diambil dari http://brideandgroomjournal.wordpress.com/2011/05/26/our-wedding-detail/