Home Inspirasi Rakornas Partai Demokrat dan Nyanyian M Nazaruddin

Rakornas Partai Demokrat dan Nyanyian M Nazaruddin

463
0
SHARE


Rapat koordinasi nasional (Rakornas) Partai Demokrat berakhir sudah. Semua pihak mengeritik rakornas tersebut. Pasalnya tidak ada hasil yang signifikan dari perhelatan politik tersebut. Sejumlah pihak menilai, Rakornas ini tidak lebih dari sekedar mendengar nasihat, curahan hati, dan kegundahan Ketua Dewan Pembina Partai itu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pada saat bersamaan, bekas bendahara umum Partai Demokrat M Nazaruddin berhenti bernyanyi dari tempat persembunyian. Sebelumnya, terutama hari-hari menjelang Rakornas, nyanyian Nazaruddin sangat nyaring terdengar. Sering kali dengan nada-nada tinggi. Dia langsung menukik ke Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Intinya, Anas Urbaningrum terlibat dalam korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games 2011 di Palembang dan fasilitas olah raga Hambalang.

Yang tersisa sekarang adalah gema suaranya itu yang dipantulkan kembali dalam berbagai pemberitaan media massa. Boleh jadi, Nazaruddin sedang menikmati masa tenangnya di tempat persembunyian, seperti juga Demokrat menikmati masa tenang seusai Rakornas.

Patut diduga bahwa Nazaruddin bernyanyi karena disetir oleh kelompok tertentu dalam Partai Demokrat itu sendiri. Tujuannya, untuk memojokkan Anas Urbaningrum. Ini sudah disadari Anas. Tujuan lainnya adalah agar Partai Demokrat menguasai ruang publik.

Sebab sensasi demi sensasi yang diciptakan Nazaruddin menjadi santapan empuk media massa. Belum lagi, nyanyian itu disambut oleh para pengurus Demokrat. Bahkan SBY pun tidak tinggal diam. Dia ikut menyahut dengan segala macam gaya dan mimik serta pilihan kata yang ingin menarik simpatik publik. Nyanyian Nazaruddin itu kemudian berubah menjadi koor Partai Demokrat. Dampaknya luas sekali. Pemberitaan tentang Partai Demokrat mendominasi seluruh media massa republik ini. Suasananya riuh rendah.

Karena itu patut diduga, nyanyian Nazaruddin yang kemudian menjadi koor Demokrat diciptakan untuk semakin menacapkan partai itu pada ingatan publik.

Soal citra buruk karena nyanyian itu berjudul korupsi? Tidak peduli. Hal itu bisa dengan gampang diubah dengan pencitraan lainnya pada waktu lain pula. Sebab ingatan rakyat Indonesia ini pendek, sependek ingatan para pemimpinnya. Besok pun rakyat sudah lupa isi dan substansi nyanyian Nazaruddin soal korupsi di tubuh partai itu. Yang terpenting adalah, nama Partai Demokrat berakar dalam pikiran dan benak publik Indonesia.

Mengapa begitu? Karena SBY sendiri, dalam Rakornas di Sentul, Bogor itu, tidak dengan tegas memerintah atau membentuk sebuah tim independen untuk menyelidiki kebenaran nyanyian Nazaruddin. Dia malah memelas agar Nazaruddin pulang ke tanah air dan meminta kader yang tidak menjalankan etika partai untuk mengembalikan kartu tanda anggota. Hanya sebatas itu dan tidak lebih. Ini tidak layak dilakukan oleh SBY yang juga Presiden Republik Indonesia.

Itulah sebabnya, sebagian kalangan, termasuk saya memandang bahwa apa yang dilakukan Nazaruddin itu adalah setingan atau strategi Partai Demokrat sendiri untuk menguasai ruang publik. Inilah titik sambung Rakornas Partai Demokrat dan nyanyian M Nazaruddin. (Alex Madji)