Home Inspirasi Rasa Penasaran ke Do’i Coffee Akhirnya Terobati

Rasa Penasaran ke Do’i Coffee Akhirnya Terobati

83
0
SHARE
Ice Coffee Do'i

Siang-siang, 5 November 2019, saya mampir ke kedai kopi, Do’i Coffee, di ruko Regia, Graha Bintaro, Tangerang Selatan. Cuaca terik. Panasnya bukan main. Mumpung pulang siang, saya pun belok sebentar.

Sebenarnya, sudah lama saya ingin mencicipi kopi di kedai ini, tapi selalu tidak kesampaian. Ada saja halangan. Kemarin itu betul-betul saya niatkan untuk ngopi di sini. Saya memang sangat penasaran dengan perkembangan kedai kopi yang satu ini.

Sebenarnya, saya ingin mencicipi kopi manual brew biar bisa membandingkan dengan apa yang saya bikin di rumah. Sayang, sudah sold out. Akhirnya, saya pesan Ice Coffee Do’i. Kekhasan warung ini. Dengan variasi, rasa kopi yang strong.

Saya perhatikan cara buatnya. Kopi digiling lalu dimasukkan dalam espresso manual sebelum diperas. Kopi hasil perasan kemudian dituangkan dalam gelas yang sudah diisi susu sebelum kemudian ditambahi air dan es. Jadilah Ice Coffee Do’i. Rasanya? Lumayan. Rasa kopinya kencang, tapi manis dan susunya juga pas. Es cukup membuat adem di tengah panas panas pukul 15.00.

Baca juga: Caffeela dan Ikhtiar Membantu Petani Kopi Wela

Mengapa saya tertarik menjajal kopi di kedai ini? Begini ceritanya. Kedai kopi itu pertama muncul di emperan ruko Regia. Bukanya pun sore menjelang malam saat ruko tutup. Sebuah gerobak mereka tempatkan di halaman ruko lalu sejumlah meja dan kursi dipajang. Jadilah tempat itu, sejauh yang saya amati, menjadi tempat ngopi dan istirahatnya ojek online. Makin hari, makin ramai.

Entah kenapa, pada tiga bulan terakhir, Do’i Coffee ini masuk ke ruko di seberang dari tempat mereka semula. Bagi saya ini sebuah langkah maju. Mungkin juga kesuksesan. Dari emperan lalu masuk ke dalam ruko. Sejak mereka pindah, pengamatan saya tidak berhenti. Pelanggan tidak berkurang. Justru makin banyak. Jam bukanya pun jadi lebih panjang. Mulai pagi sampai malam. Setiap kali saya lewat, selalu saja ada orang nongkrong.

Saat saya mampir, di sana sudah ada tiga orang, masih muda-muda. Dua laki dan seorang perempuan sedang menkmati menu kopi seperti yang saya pesan. Hari itu, ada tiga orang yang siap melayani pelanggan saat saya mampir. Dua lelaki muda, salah satunya bercelana sangat pendek, dan satu perempuan berhijap.

Baca Juga: Warung-warung Kopi di Sekitar Pasar Segar Bintaro

Saya lalu mengerti mengapa kedai ini ramai. Sangat mungkin karena harganya amat sangat terjangkau. Di daftar menu, ada 59 jenis sajian yang dijajakan dan dibagi dalam 10 kategori. Yaitu Hot Coffee, Hot Non Coffee, Ice Coffee, Ice Non Coffee, Coffee Blanded, Non Coffee Blanded, Manual Brew, Mocktail, Makanan Seger, dan Snack. Dari 10 kategori itu harga termurah adalah Rp 10.000 (espresso) dan termahal Rp 20.000 (ice green tea latte). Sisanya dalam rentang kedua harga tersebut. Terus, Ice Coffee Do’i yang saya pesan harganya berapa? Rp 18.000, tetapi jatuhnya jadi Rp 19.000 karena ketiadaan kembalian Rp 1.000 perak.

Di kedai itu, ada empat meja kecil masing-masing dengan empat kursi di dalam ruko. Di sekitar gerobak yang ditempatkan di depan pintu masuk, yang sekaligus berfungsi sebagai meja seduh, ada juga beberapa kursi lebih tinggi. Anda bisa menikmati kopi di sana sambil melihat bagimana para baristanya menyeduh dan meracik kopi.

Nah, kalau Anda juga penasaran seperti saya menikmati kopi di situ, coba saja mampir sebentar menikmati kopi dan suasananya. (Alex Madji)