Home Inspirasi Rebutan Lapak PSSI

Rebutan Lapak PSSI

552
0
SHARE


Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) kembali kisruh. Kelompok yang dulu digulingkan dari kepengurusan, kini berupaya menggulingkan mereka yang duduk di tampuk kekuasaan PSSI saat ini. Ada balas dendam di sana.

Apa soal? Kisruh ini sebenarnya rebutan lapak belaka. Harus diakui selama berpuluh-puluh tahun, banyak orang yang hidup, bahkan kaya, karena terlibat dalam kepengurusan sepakbola. Kepentingan ekonomi dan politik dibalut dengan alasan murni; mengurus dan memajukan sepakbola di negeri ini.

Ketika lapak-lapak yang dikuasai selama ini diambil, marahlah mereka. Sebaliknya mereka yang baru membangun lapak berupaya untuk bertahan. Apalagi belum ada untung yang diraih.

Lapak yang menjadi pemicu kekisruhan terbaru ini adalah rebutan hak siar. Selama PSSI dipimpin Nurdin Halid, hak siar pertandingan Liga Super Indonesia ada pada ANTV dengan durasi kontrak selama 10 tahun. Setiap tahun dana dari hak siar untuk PSSI hanya Rp 10 miliar per tahun atau Rp 100 miliar untuk masa kontrak 10 tahun.

Nilai kontrak ini kalah jauh dari Malaysia. Sponsor sepakbola di negeri jiran itu berjibun. Dan, Asosiasai sepakbolanya mendapat dana besar dari hak siar pertandingan liga. Belajar dari situ, saat pengurus baru pimpinan Djohar Arifin masuk, mereka merombak.

Dimulailah proses tender. Singkat cerita, yang memenangkan tender hak siar Liga Primer Indonesia yang digelar PSSI adalah MNC Group untuk durasi 4 tahun. Pasalnya, nilai tawaran mereka sangat tinggi. MNC berjanji memberi Rp 100 miliar ke PSSI pada tahun pertama, Rp 200 miliar pada tahun kedua, Rp 400 miliar pada tahun ketiga, dan Rp 600 miliar pada tahun keempat. Tentu saja PSSI pilih yang menguntungkan.

Tetapi menjadi soal karena PSSI pimpinan Djohar Arifin tidak menyelesaikan terlebih dahulu kontrak dengan ANTV yang berdurasi 10 tahun tadi. Dan, pemilik ANTV adalah Nirwan Bakrie yang selama ini menghidupi dan bahkan mendanai PSSI hingga melakukan pembinaan tim nasional ke Uruguay. Mereka merasa dirugikan dan marah.

Padahal, kalau PSSI pimpinan Djohar Arifin arif, searif namanya, dan bijak serta tidak terdorong semangat asal bukan orang lama, seharusnya selesaikan terlebih dahulu perjanjian kontrak dengan ANTV baru dibuka tender baru. Bahkan, kalau mereka bersedia menyaingi tawaran MNC, hak siar diberikan saja kepada mereka. Opsi lainnya, hak siar itu dibagi dua antara MNC dan konsorsium ANTV, misalnya. Kalau saja itu dilakukan dari awal, kisruh seperti ini kemungkinan tidak membesar.

Itu baru satu soal. Masih banyak lapak lain yang diperebutkan antara dua kubu, yaitu kubu Arifin Panigoro yang sekarang memimpin PSSI dan Nirwan Bakrie yang berjuang untuk menggelar Kongres Luar Biasa untuk kembali ke PSSI.
Nah untuk mengatasi soal seperti ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai kepala negara harus turun tangan. Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie perlu didudukan di satu meja melakukan “perundingan” untuk menyelesaikan urusan pembagian lapak-lapak tadi guna mengakhiri kemelut PSSI. Tanpa itu, apa yang terjadi saat ini akan terus berulang dan rugi akhirnya adalah masyarakat sepakbola Indonesia. (Alex Madji)