Home Inspirasi Reshuffle Kabinet dan Korupsi

Reshuffle Kabinet dan Korupsi

367
SHARE


Isu reshuffle atau perombakan kabinet kembali mencuat. Sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden pada 2004, isu ini muncul setiap tahun. Siklusnya mulai akhir September hingga 20 Oktober, ulang tahun pemerintahan.

Tahun lalu, isu ini begitu gencar dan bertahan cukup lama. Tetapi SBY bergeming. Pada satu tahun pemerintahannya, dia tidak melakukan pergantian atau pergeseran anggota kabinetnya. Meskipun desakan untuk itu sangat kuat.

Tahun ini, 2011, isu tersebut muncul kembali sejak akhir September. Kadang-kadang unik dan lucu. Para politisi Partai Demokrat bersahut-sahutan berbicara tentang reshuffle. Ketua DPR, Marzuki Alie, misalnya pernah berujar bahwa dia sudah mendapat bocoran nama-nama anggota kabinet.

Didi Irawady Syamsuddin dan Ramadhan Pohan, keduanya kader Partai Demokrat, memastikan ada reshuffle. Tetapi pergantian kabinet ini, kata mereka, bukan sebagai sanksi untuk parpol koalisi yang mbalelo tetapi untuk kinerja pemerintahan yang lebih baik. Alasannya pun kuat, berdasarkan masukan dari masyarakat dan evaluasi kinerja kementerian oleh UKP4 pimpinan Kuntoro Mangkusubroto.

Presiden SBY sendiri juga tidak kalah uniknya. Dia ikut memainkan isu ini. Dia misalnya menanyakan kepada wartawan soal bocoran reshuffle. Memang, SBY punya gaya tersendiri menghadapi wartawan di Istana. Kadang-kadang, para staf khususnya dan Biro Humas memberitahu wartawan bahwa SBY mau didoorstop. Tetapi sesungguhnya bukan doorstop. Sebab, begitu wartawan dikumpulkan entah di depan pintu ruang kerjanya atau di halaman depan Kantor Presiden, SBY datang dan langsung ngomong. Wartawan tinggal mendekatkan recorder ke SBY atau menempel di pengeras suara yang sudah disiapkan. Tidak ada rentetan pertanyaan dari wartawan sebagaimana doorstop sesungguhnya. Selesai bicara dia pergi.

Cara lainnya adalah staf khusus SBY sudah menitipkan pertanyaan kepada beberapa orang “wartawan pilihan”. Tentu ini dilakukan sembunyi-sembunyi. Begitu SBY datang, dia akan memulai dengan bertanya, “Ada pertanyaan?” Lalu wartawan yang tadi dititipi pertanyaan itu mengajukan pertanyaan.

Ada lagi cara yang lebih spontan. Setelah wartawan berkumpul, SBY akan bertanya apa isu yang hangat hari ini? Setelah diberitahu wartawan secara beramai-ramai, dia lalu merespons isu tersebut. Itulah yang dimaksud SBY doorstop.

Gaya SBY seperti tadi membuat isu reshuffle ini menjadi hidup dan riuh. Belum lagi diikuti dengan aksi pemanggilan para menteri dan orang-orang tertentu ke Cikeas, kediaman pribadi Presiden SBY. Hal ini menyedot perhatian media massa dan rakyat yang melihat televisi dan membaca koran dan media online.

Pengelolaan isu ini nyaris menenggelamkan pemberitaan tentang berbagai kasus korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seperti kasus korupsi di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang diduga melibatkan Menteri Muhaimin Iskandar dan perkara mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Mohammad Nazaruddin.

Kasus yang terakhir ini ikut menyeret Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan kader-kader top partai itu seperti Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Mallarangeng dan Angelina Sondakh.

Bahkan kasus ini semakin tenggelam sejak kasus korupsi di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mencuat. Sempat ada dugaan bahwa kasus korupsi di Kemenakertrans sengaja dimunculkan untuk menutupi kasus korupsi di tubuh Partai Demokrat. Begitupun isu reshuffle kabinet dicurigai untuk menenggelamkan kasus korupsi yang melibatkan kader-kader SBY.

Dugaaan dan curiga itu akan semakin terbukit, bila isu reshuffle ini tidak berujung perombakan kabinet, terutama mengganti sejumlah menteri yang bermasalah dan berkinerja buruk. Kalau SBY seperti tahun lalu, tetap bergeming di tengah desakan publik mengganti kabinet, maka benar adanya bahwa ini semua sengaja dimainkan untuk menutupi kasus-kasus korupsi yang seharusnya diungkap sampai tuntas. Maka, kita tunggu keberanian SBY. (Alex Madji)