Home Inspirasi Kemanusiaan Romo Suparman Andi MI, Pembebas Orang yang Terpasung (1)

Romo Suparman Andi MI, Pembebas Orang yang Terpasung (1)

1038
0
SHARE
Romo Cyrelus Suparman Andi MI (kiri) sedang membebaskan seorang penderita sakit jiwa yang dipasung di Maumere. (Foto diambil dari dokumen pribadi Romo Andi di Facebook)

Romo Cyrelus Suparman Andi, MI tak pernah mengira inisiatif kecilnya membangun rumah bebas pasung untuk penderita sakit jiwa yang sudah dipasung selama satu tahun bernama Ambrosio di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2015 mendapat sambutan sangat positif.

Kisah ini menyebar begitu cepat dari mulut ke mulut. Keluarga-keluarga yang memiliki anggota penderita sakit jiwa dan dipasung selama bertahun-tahun datang ke Seminari Tinggi St Kamilus, Maumere, minta pertolongan. Bahkan dari hari ke hari, para pastor dan frater dari kongregasi Imam-imam Kamilian ini identik dengan pelayanan pembangunan rumah bebas pasung untuk para penderita sakit jiwa.

Romo Andi MI sudah membangun lima rumah bebas pasung masing-masing untuk Ambrosio (2015), Yohanes (2016), Petu (2018), dan Yohanes (yang lain pada 2018). Rumah kelima, untuk seorang penderita bernama Enti yang dipasung selama 17 tahun, baru saja selesai dibangun beberapa hari lalu.

Rumah-rumah ini hanya berukuran 3×4 meter. Dinding dan langit-langitnya terbuat dari anyaman besi yang dilas, sehingga penderita tidak bisa dengan mudah keluar. Dindingnya ditutupi pakai bambu yang sudah dicacah agar tetap ada sirkulasi udara. Dalam rumah itu disediakan tempat tidur plus kasur dan seprai serta lubang closet lengkap dengan air, yang hanya dipisah kain. Lantainya keramik. Adapun pintu dikunci gembok dari luar.

Rumah-rumah ini sederhana, tapi mungil dan amat sangat jauh lebih layak dari hunian sebelumnya. Selama dipasung, mereka ditempatkan di luar rumah. Di atas sebuah panggung tanpa dinding dengan atap seadanya. Kondisi tersebut membuat pasien sangat tidak terlindungi dari hujan, panas terik matahari, dan dinginnya malam. Juga tidak bisa leluasa bergerak.

Romo Andi, sapaannya sehari-hari, datang membebaskan orang-orang seperti ini. Pasung dibuka dan dipindahkan ke rumah-rumah bebas pasung yang dibangun dekat rumah keluarga. Ia turun sendiri bersama para frater dampingannya. Membawa bahan bangunan seperti seng, baja, pasir, keramik, dan berbagai bahan bangunan lainnya.

Untuk satu rumah bebas pasung, Romo Andi mengeluarkan biaya Rp 18-21 juta. Dengan lima rumah pasung yang sudah dibangun, total dana yang sudah ia keluarkan antara Rp 90 juta sampai Rp 105 juta. Dana tersebut disisihkan dari anggaran makan minum para frater di Seminari St Kamilus.

Sebanyak 12 penderita sakit jiwa yang dipasung di Maumere dan sekitarnya masih antre menunggu dibangunkan rumah bebas pasung. Para pasien ini sudah dipasung antara satu sampai 40 tahun. Terbayang, besarnya dana yang dibutuhkan untuk membangun rumah-rumah mungil bagi mereka.

“Untuk biaya, tiap bulan kami sisihkan dari uang belanja seminari untuk biaya pelayanan. Kemudian, ada juga penderma-penderma seminari yang mau bantu dengan mengirim sedikit-sedikit. Lalu kami gabungkan. Kalau sudah cukup untuk satu rumah, kami akan mulai bangun. Umumnya, kami bangun kalau sudah ada dana dan dengan perencanaan yang matang, sehingga pembangunan tidak tersendat. Rumah harus selesai dibangun dalam 10-14 hari kerja. Karena itu, bahan-bahan harus lengkap semua. Dan, para frater membantu persediaan bahan dan mengantar bahan ke lokasi supaya tukang tinggal kerja di lokasi,” cerita Rm Andi yang lulus doktoral bidang Moral Bioetik dari Universitas Alfonsianum, Roma, dalam percakapan lewat Whatts App belum lama ini.

Besarnya biaya tidak membuat Rm Andi mundur. Justru, ia bersama koleganya semakin semangat menekuni pelayanan tersebut. Namun, bukan dengan pembangunan rumah sakit jiwa, melainkan rumah-rumah bebas pasung.

“Pengalaman pertama dengan pasien pertama dan kedua memotivasi kami untuk melanjutkan cara pelayanan ini. Dari evaluasi kami, ada beberapa keuntungan dari model pelayanan melalui rumah bebas pasung ini,” cerita imam dari Tarekat Hamba Orang-orang Sakit atau yang dikenal juga dengan sebutan Imam-imam Kamilian lebih lanjut.

Apa yang dilakukan Romo Andi sejauh ini, mungkin hanya sebuah hal kecil dan sederhana. Namun, Bunda Teresa dari Kalkuta yang sudah dinobatkan sebagai orang suci pernah berujar, “Kita tidak bisa melakukan karya-karya besar, tetapi kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.” Mungkin cinta besar itulah yang mengobarkan Romo Andi melakukan karya kecil tersebut. (Bersambung/Alex Madji)