Home Umum Saat Bunda Teresa Dikanonisasi, Bulu Kudukku Merinding

Saat Bunda Teresa Dikanonisasi, Bulu Kudukku Merinding

1268
0
SHARE
Foto diambil dari www.pilgrimages.com

Bunda Teresa diangkat sebagai orang kudus pada Minggu 4 September 2016. Ia dikanonisasi oleh Paus Fransiskus dalam sebuah perayaan ekaristi di Lapangan St Petrus, Vatikan. Bunda Teresa menjadi Santa. Hari itu, saya coba mencari di jaringan televisi lokal kalau-kalau ada siaran langsung. Sayang tak ada. Niat mengikuti misa jarak jauh pun sirna karena saya tidak berlangganan televisi kabel. Keesokan harinya, saya mencari dan menemukan di Youtube.com rekaman misa kanonisasi ini. Saya menonton sejak awal hingga akhir misa. Sangat agung.

Melihat siaran itu, seolah saya berada di tengah ratusan ribu umat yang memadati Lapangan St Petrus. Tidak ada ruang kosong di sana. Dari atas terlihat, umat yang mengikuti misa ini seperti semut. Mereka kusyuk dalam doa. Mentari yang begitu panas tak membuat mereka menyingkir ke tempat teduh. Ada yang menahan teriknya panas dengan payung. Yang lain, termasuk para pastor, mengenakan topi. Tapi lebih banyak yang berjemur. Misa itu ditutup dengan Angelus yang dipimpin Paus Fransiskus.

Mengikuti misa ini, saya tertegun. Ada perasaan bahagia. Juga menahan haru. Bulu kuduk sampai merinding. Rasanya bangga menjadi umat Katolik. Di zaman yang begini edan, masih ada orang yang menyerahkan seluruh dirinya untuk orang lain. Orang yang paling menderita, tersisih, tersingkir, terbuang oleh keluarganya, dan bahkan tidak lagi hidup layaknya manusia.

Sebelum Bunda Teresa, sudah ada contoh hidup serupa, seperti yang dijalani Fransiskus dari Asisi. Tapi saya mengira, cerita-cerita seperti itu hanya dongeng. Cerita dari masa lampau yang belum tentu fakta. Tapi apa yang dilakukan Bunda Teresa di Kalkuta, India, menyingkirkan dan merubuhkan seluruh dugaan saya itu. Ini kenyataan. Apa yang ia lakukan, seperti yang juga dijalani Fansiskus Asisi, kemudian dimahkotai gelar kekudusan.

Kekudusan hanyalah mahkota dari ikhtiarnya mewujudkan secara sederhana perintah untuk saling mengasihi sebagaimana diajarkan Gurunya, Yesus Kristus. Cara yang ia pilih adalah memperhatikan dan mengurusi orang-orang miskin, yang tidak punya tempat tinggal, yang tidak diperhatikan, yang terlantar, dan para penderita lepra.

Khotbah

Setelah melihat rekaman misa tersebut, saya juga mendengar pidatonya saat menerima penghargaan Nobel di Oslo, 10 Desember 1979 di Youtube.com. Rekaman yang sama juga bisa dilihat di Nobelprize.org. Ia berbicara tanpa teks dalam Bahasa Inggris rasa lidah India. Sesungguhnya, ini bukan pidato. Tapi khotbah selama 19 menit. Ia memulainya dengan mengajak audiens untuk secara bersama-sama membacakan doa St Fransiskus dari Asisi dari sebuah teks yang sudah dibagikan. Doa yang sangat masyur ini berjudul, “Jadikanlah Aku Pembawa Damai”.

Terima kasih kepada Tuhan atas kesempatan yang indah ini di mana kita bisa berkumpul untuk mewartakan kesukacitaan dan menyebarkan perdamaian. Kesukaciataan tentang mencintai satu sama lain dan pengakuan bahwa orang termiskin dari antara orang miskin adalah saudara dan saudari kita. Karena ini adalah kesempatan untuk berterimakasih kepada Tuhan, saya sudah membagikan kepada Anda semua Doa untuk Perdamaian dari Santo Fransiskus dari Asisi,” ujar Bunda Teresa dalam sambutan di The Aula of the University of Oslo, Norwegia. Di akhir doa itu, ia membuat tanda salib kecil di bibirnya.

Kemudian ia lanjutkan dengan berbicara tentang mencintai satu sama lain berdasarkan ajaran Cinta Kasih Yesus. Untuk mewujudkan ajaran yang mulia ini, ia memilih berpihak pada mereka yang tidak berdaya, tersingkir dari rumahnya, mereka yang menderita lepra, serta yang tidak mendapat cinta kasih. Semuanya ia rawat dengan sepenuh hati. Ia memberi diri seutuhnya kepada orang-orang ini.

Sumber Foto: newwaysministryblog.wordpress.com
Sumber Foto: newwaysministryblog.wordpress.com

Untuk bisa melayani mereka, ia sendiri menjadi miskin lewat kaul kemiskinannya. Ia menjadi orang yang tidak punya rumah, menjadi orang yang telanjang, dan menjadi orang yang tidak diperhatikan. Ia memilih cara ini untuk bisa memahami orang miskin. “Hari ini, saat saya menerima penghargaan ini, saya bukanlah siapa-siapa. Dan saya mengucapkan kaul kemiskinan. Untuk memahami orang miskin, saya memilih menjadi orang miskin. Tapi, saya bersyukur dan sangat bahagia menerima (penghargaan ini) atas nama orang-orang lapar, orang-orang yang telanjang, orang-orang yang tidak punya tumpangan, orang-orang lumpuh, buta, dan lepra serta semua orang yang merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan, serta orang-orang yang terbuang dari masyarakat. Atas nama mereka, saya menerima penghargaan ini,” ungkap Bunda Teresa.

Pada bagian lain, Bunda Teresa juga berbicara tentang aborsi dengan suara bergetar. Menurutnya, kerusakan perdamaian paling besar dewasa ini adalah tangisan dari bayi-bayi tidak berdosa yang tidak diinginkan untuk lahir di dunia ini. “Bila seorang ibu membunuh anak kandungnya sendiri, di dalam kandungannya, apa yang tertinggal untuk Anda dan saya adalah membunuh satu sama lain. Padahal, dalam Kitab Suci dikatakan, meskipun ibu bisa melupakan anaknya, Saya tidak akan pernah melupakanmu. Saya akan memeliharamu dengan tangan-Ku,” papar Bunda Teresa.

Bunda Teresa juga bertutur, pernah ada seorang anak yang diangkatnya dari jalanan di Kalkuta. Dari wajahnya sangat tampak bahwa anak itu sangat lapar. Bunda Teresa memberinya sepotong roti. Anak tersebut tidak langsung memakan, tapi memotongnya kecil-kecil. “Saya bilang, silahkan dimakan rotinya. Tapi ia memandang saya dan berkata, ‘Saya takut menghabisi roti ini. Saya takut, kalau saya habisi, saya akan kelaparan lagi’,” cerita Bunda Terasa.

Di lain kesempatan, cerita Bunda Teresa lebih lanjut, ada sebuah keluarga yang terdiri dari delapan anak minta beras kepadanya. Setelah diberi beras, sang perempuan mengambil dan membagi dua beras itu lalu pergi. “Ketika kembali, saya bertanya, kamu ke mana dan apa yang kamu lakukan? Ia menjawab, masih ada orang lain yang lapar. Yang mengejutkan saya adalah ada kesadaran dalam dirinya bahwa masih ada orang lain yang kelaparan. Inilah yang menjadi alasan saya mengajak Anda untuk mencintai orang miskin,” ceritanya.

Pesan Bunda Terasa pada khotbah menerima penghargaan Nobel tersebut adalah “…Kekudusan bukanlah pandangan atau konsep yang begitu istimewa dan rumit, melainkan sebuah kewajiban yang sederhana untuk masing-masing kita. Dan, melalui cinta kasih ini, Anda bisa menjadi kudus. Lewat mencintai satu sama lain.”

Akhirnya, Santa Teresa, doakanlah kami. (Alex Madji)