Sate Klatak, Nikmatnya Sampai Gigitan Terakhir

Sate Klatak, Nikmatnya Sampai Gigitan Terakhir

923
SHARE
Ilustrasi

Kamis, 6 Maret 2014. Hari mulai merambat malam. Saya dan beberapa teman keluar dari penginapan di Hotel WismaAji di Jalan Ringroad Utara, Yogyakarta untuk mencari makan malam. Dalam rombongan kami, ada seorang yang asli Yogyakarta. Satu lagi pernah kuliah di kota ini. Sedangkan yang lain, termasuk saya, cukup sering ke Yogyakarta, tetapi tidak terlampau mengenal hingga ke sudut-sudutnya.

Maka dua teman tadi dimanfaatkan untuk mencari tempat makan paling enak malam itu. Ditunjuklah tempat makan “Sate Klatak” atau Sate Kambing yang terletak di Pasar Wonokromo, Bantul, Yogyakarta. Tempat ini terletak¬† di dalam pasar Wonokromo. Siang hari tempat ini berfungsi sebagai pasar. Malam hari, dia menjelma menjadi objek wisata kuliner hingga jam satu pagi. Ada yang duduk lesehan. Tersedia pula meja dan kursi. Tinggal pilih mau duduk dimana.

Di Sate Klatak, ada beberapa pilihan; sate klatak alias sate kambing dan tongseng kambing. Malam itu, kami (tujuh orang) memesan sate klatak 11 porsi dan tongseng enam piring. Uniknya, porsinya, baik sate maupun tongseng, kecil-kecil. Untuk sate klatak, satu porsi hanya berisi dua tusuk. Sedangkan tongseng satu porsi hanya disajikan dalam sebuah piring mini.

Sate klatak ini juga memiliki kekhasan lain. Daging-daging tidak ditusuk dengan kayu seperti sate pada umumnya, melainkan dengan besi-besi kecil dari jari-jari sepeda atau sepeda motor. Kekhususan lainnya lagi, dagingnya masih sangat segar karena langsung diiris dari kambing yang sudah dipotong dan bersih serta masih menggelantung di dekat perapian.

Tetapi yang paling khas, sate di Sate Klatak tidak pakai bumbu sama sekali. Satu-satunya bumbu adalah garam. Daging-daging itu hanya dilumuri garam sebelum dibakar. Saat dipanggang, bunyi “klepak-klepek” saat garam beradu dengan api kedengaran dari jauh.

Hasilnya? Lezat. Rasanya natural. Bau dagingnya segar, bebas dari bau amis dan rasanya alamiah tanpa campuran bumbu macam-macam. Rasa garamnya juga tidak dominan. Pokoknya pas dan sedap mantap. Enak di lidah hingga tenggorokan. Untuk memberi rasa pedas dan sedikit menyengat lidah disediakan cabe hijau di piring kecil.

Makannya pun dalam suasana remang. Lampu berkekuatan kurang dari 8 watt yang bersinar redup cukup membuat suasana makin asyik dan romantis untuk mereka yang datang berpasangan. Suasana ini membuat sate klatak yang sudah enak semakin uueeenak. Harganya juga wajar. Pesanan kami bertujuh sebanyak 16 tusuk sate, tongseng 6 piring, plus nasi putih, teh tawar, teh manis dan jeruk panas habis Rp 263.000.

Rasa dan suasana serta harga yang terjangkau ini membuat Sate Klatak jadi tempat makan favorit orang. Ukuran sederhananya adalah jejeran parkir mobil dan motor yang begitu panjang. Tesis bahwa enak tidaknya makanan di sebuah tempat makan diukur oleh seberapa banyak jumlah kendaraan yang diparkir di di depannya terbukti benar di Sate Klatak.

Lalu tiba-tiba  saya teringat cara masak di kampung saya. Ketika masih kecil atau setiap kali pulang libur setelah dewasa, kami sering memanggang daging babi dengan cara seperti ini. Bakar tanpa bumbu, kecuali garam. Rasanya? Persis sama. Enak, segar dan natural sekali. Rasa dagingnya asli tanpa polesan bumbu. Enaknya pun hingga gigitan terakhir. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY