Home Umum SBY Tidak Perlu Ngemis Bertemu Jokowi

SBY Tidak Perlu Ngemis Bertemu Jokowi

661
0
SHARE
Sumber Foto: Kompas.com

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Rabu 1 Februari 2017 sore menggelar jumpa pers menanggapi dinamika persidangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang berlangsung di kantor Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, sehari sebelumnya. Pada sidang itu, tim pengacara Ahok menanyakan tentang telepon dari SBY kepada saksi yang juga Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin. Kubu Ahok katanya punya bukti rekaman percakapan tersebut.

Tiba-tiba dalam jumpa pers ini, SBY yang adalah Presiden RI ke-6, berbicara tentang penyadapan. Ia juga berbicara tentang beberapa hal lainnya, termasuk keinginannya bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk berbicara secara blak-blakan terkait sejumlah isu yang dikait-kaitkan dengan dirinya.

Saya tertarik pada isu ini. Alasannya, sebagai mantan Presiden, hanya SBY yang belum ditemui Jokowi. Sebelumnya, ia sudah mengundang mantan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri dan mantan Presiden BJ Habibie. Selain itu, Jokowi juga sudah bertemu dengan hampir semua ketua umum partai politik pendukung pemerintah, termasuk Prabowo Subianto yang partai pimpinannya, Gerindra, memilih oposisi. Hanya SBY dan Presiden PKS, ketua umum partai, yang belum diundang Jokowi ke Istana.

Itu sebabnya, permintaan SBY untuk bertemu Jokowi menjadi sangat penting. Dari pernyataannya, tersirat bahwa sebenarnya SBY tidak punya masalah pribadi dengan Jokowi. Bahkan, ia menyebut Jokowi sebagai sahabat. Tidak terjadinya pertemuan empat mata SBY dengan Jokowi karena ada dua sampai tiga orang di sekitar presiden yang tidak menghendakinya alias menghalangi. Sayang, SBY tidak menyebut siapa saja mereka.

Baca berita dari Kompas.com ini: SBY: Ada yang Larang Presiden Jokowi Bertemu Saya.

Saya menduga, salah satu orang yang dimaksud SBY adalah Megawati Soekarnoputri. Sebab, SBY dan Megawati sudah menjadi musuh bebuyutan sejak Pilpres 2004. Selama 10 tahun SBY berkuasa (2004-2014), Megawati tak mau sekali pun bertemu SBY. Undangan-undangan untuk datang ke Istana setiap 17 Agustus tak pernah digubris.

Sementara Jokowi adalah kader PDI Perjuangan, meski bukan pejabat teras partai moncong putih pimpinan Megawati Soekarnoputri tersebut. Bahkan menjelang pilpres 2014, Megawati tidak segan-segan menyebut Jokowi sebagai petugas partai. Mungkin memang tidak ada permintaan khusus dari Megawati kepada Jokowi untuk tidak bertemu SBY, tapi Jokowi sangat paham fatsun politik. Ia tidak ingin mengkhianati dan menyakiti hati Ibu Mega.

Bila dugaan ini benar, maka SBY tidak perlu terlalu berharap bisa bertemu Jokowi secara empat mata. Menurut saya, sebagai mantan Presiden, SBY juga tidak seharusnya mengemis untuk bertemu Jokowi. Seyogyanya, ia tetap menjaga kewibawaannya sebagai mantan presiden. Justru kalau terus mengemis untuk bertemu, SBY kehilangan wibawanya.

Lewat Media

Bila pintu sudah tertutup, SBY bisa menggunakan berbagai macam media, baik melalui media konvensional maupun media sosial, untuk menyampaikan pesan kepada Jokowi. Toh, Jokowi juga membaca berbagai macam media dan cukup aktif di media sosial. Pesan SBY pasti sampai ke Jokowi. Jadi, tidak perlu bertemu empat mata dengan Jokowi untuk berbicara blak-blakan.

Contohnya, jumpa pers atau lebih tepat disebut sebagai pidato panjang kali lebar dari Istana Cikeas beberapa hari menjelang demo besar-besaran 4 November 2016. Ketika itu, ia mendesak supaya Ahok diproses secara hukum bila ingin tidak ada aksi demonstrasi terus menerus. Tanpa penegakan hukum terhadap Ahok, sampai lebaran kuda pun demo takkan berhenti. Pernyataan itu langsung direspons Jokowi.

Ia menginstruksikan aparat kepolisian untuk mengusut kasus dugaan penistaan agama tersebut secara cepat. Polisi hanya diberi waktu dua minggu untuk menuntaskan kasus ini. Setelah jangka waktu tersebut, kasus Ahok ini dilimpahkan ke Kejaksaan dan dalam hitungan jam diteruskan ke pengadilan. Sekarang, Ahok duduk sebagai terdakwa di pengadilan.

Tiba-tiba dalam sidang Selasa, 31 Januari 2017, nama SBY disebut pengacara Ahok. Katanya, mereka punya bukti percakapan SBY dengan Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin sebelum munculnya fatwa MUI bahwa Ahok melakukan penistaan agama.

Terlepas dari benar tidaknya bukti tersebut, termasuk proses mendapatkannya, SBY bisa saja diminta datang ke pengadilan untuk memberi klarifikasi terkait percakapan dengan KH Ma’ruf Amin tersebut. Karena itu, SBY juga harus siap memberi kesaksian. Perang ini pun semakin mengerucut.

Kalau jalan ceritanya seperti itu, kasus Ahok ini akan semakin menarik ditunggu. Siapa benar dan siapa yang salah. Sama menariknya SBY menunggu diterima sambil sarapan atau makan siang dengan Jokowi di teras belakang Istana Merdeka menghadap taman rumput yang luas. Atau kalau belum juga dijadwalkan Istana, tunggu saja sampai lebaran kuda. (Alex Madji)