Home Inspirasi Seberapa Penting Sih “Business Plan” Itu?

Seberapa Penting Sih “Business Plan” Itu?

1164
0
SHARE

Seorang teman saya sedang merencanakan sebuah bisnis kecil-kecilan. Ia berencana menjalankan usaha ini sambil bekerja. Semacam kerja sampingan untuk menambah penghasilan. Kebetulan, ia memiliki karib yang baik hati dan mau memberinya pinjaman modal puluhan juta. Pinjaman ini sangat-sangat lunak karena tidak berbunga.

Ia kemudian memilih bidang usaha jualan galon dan tabung gas di daerah Bogor, Jawa Barat. Sebelum memulai usaha tersebut, ia melakukan rencana bisnis yang sederhana tapi mantap atau yang lazim disebut business plan. Business plan akan menjadi peta jalan yang sangat penting baginya untuk meraih kesuksesan dalam usaha ini. Business plan menjadi acuan dan penunjuk arah atau kompas baginya dalam menjalankan roda usahanya tersebut.

Meski usahanya masih bertaraf kecil, ia merasa business plan ini sangat penting. Ia menghitung seluruh biaya dan potensi pendapatan dalam kurun waktu tertentu. Ia juga melakukan analisis pasar yang akan disasar. Ia mencari lokasi yang menurutnya strategis. Pokoknya sangat detil. Saking detilnya, ia pernah berdebat dengan pasangannya tentang perlu tidaknya business plan ini.

Mereka beradu argumen. Teman saya tetap “keukeuh” bahwa business plan ini mutlak penting dan usaha nanti harus dijalankan sesuai peta jalan yang dibuatnya itu. Apalagi, modal yang dipakai adalah uang sahabatnya. Taruhannya sangat besar. Tanpa perencanaan yang matang, bisa-bisa bisnis ini hancur dan persahabatan pun putus. Semuanya hilang.

Istrinya berpandangan lain. Business plan tidak terlalu mutlak. Atau bikin yang sederhana saja. Yang utama adalah eksekusi. Tindakan. Laksanakan sekarang, jangan ditunda-tunda. Terlalu lama berkutat dengan business plan justru membuat rencana bisnis itu sendiri tidak berjalan. Sebab, perubahan di luar sana berlangsung begitu cepat. Ketika business plan rampung, situasi di luar sudah tidak cocok lagi. Lalu kembali mengubah business plan tersebut.

Jangan Rumit
Pendapat sang istri ada benarnya. Paling tidak dikuatkah oleh pemikiran dan pengalaman pendiri Go-jek, Nadiem Makarim. Dikutip dari Detik.com, Rabu 26 Agustus 2015, pria lulusan Universitas Harvard Amerika Serikat itu mengemukakan, untuk memulai bisnis sama sekali tak perlu perencanaan yang rumit. “Orang memulai bisnis kadang terjebak dalam membuat perencanaan. Berkutat di situ, padahal itu jebakan,” ujarnya dalam sebuah acara kewirausahaan di Jakarta.

Menurutnya, kalau mau membuat usaha jangan berlama-lama di tahap membuat business plan. “Ketika fokus di rencana, lingkungan berubah. Belum juga bisnis kita jalan, kita harus‎ ngerubah rencana bisnis kita lagi. Nggak jalan-jalan bisnis kita,” jelasnya lagi.

Untuk itu, menurutnya, yang penting dalam memulai bisnis bukanlah seberapa matang perencanaan. Melainkan, seberapa cepat bisa menjalankan ide bisnis tersebut. “Yang penting bukan rencananya, yang penting seberapa cepat bisa bereaksi terhadap permintaan masyarakat. Seberapa cepat organisasi yang kalian pimpin bisa menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Buang itu rencana bisnis. Kita ikuti saja pasar mau ke mana,” paparnya.

Itulah kunci sukses Nadiem dengan Go-jek-nya. Berani melakukan ide bisnisnya sesegera mungkin, tanpa harus berkutat pada perencanaan yang justru menghambat untuk merealisasikan ide bisnis yang akan jalankan. “Mau ke mana-mana belajar bisnis, kuncinya adalah belajar dengan melakukan,” tegas dia.

Jadi sudah punya rencana bisnis? Kalau sudah, jangan terlalu lama berkutat di business plan. Business plan penting, tapi bikin yang sederhana saja. Yang terpenting, segera eksekusi. Jangan sampai momentumnya lewat dan Anda harus mengubah lagi business plan Anda dan akhirnya berputar di situ-situ saja. Selamat mengeksekusi. Semoga sukses. (Alex Madji)