Home Inspirasi Sebuah Malam di Sungai Gangga

Sebuah Malam di Sungai Gangga

1148
4
SHARE


Selasa, 8 November 2011 senja, saya membaca berita dari kantor berita Associated Press (AP) bahwa 16 orang India tewas karena berdesak-desakan untuk mengikuti upacara suci Agama Hindu di tepi Sungai Gangga. Peristiwa ini terjadi di Kota Haridwar, negara bagian Uttar Pradesh, India Utara.

Tiba-tiba saja pikiran saya terbang ke bagian lain Sungai Gangga. Tepatnya di Kota Patna, juga di negara bagian Uttar Pradesh, India Utara, satu setengah tahun silam.

Akhir Januari hingga 9 Februari 2010 saya berada di India Utara. Mengunjungi tempat-tempat suci Agama Buddha. Mulai dari tempat kelahiran Sidharta Gautama di Lumbini, sebuah kampung di Nepal yang berbatasan dengan India, tempatnya menjadi Buddha di bahwa pohon Body di Bodgaya, tempat berkaryanya di Patna, tempat-tempat persinggahan Buddha di India Utara, hingga ke lokasi wafatnya di Kusinagar.

Ketika itu, saya diundang Kementerian Pariwisata India untuk mengikuti acara Buddhist Conclave di Nelanda, sebuah kampung pedalaman di negara bagian Uttar Pradesh. ‘

Tadinya, saya membayangkan bahwa Buddhist Conclave itu adalah proses pemilihan pimpinan tertinggi Agama Budha seperti pemilihan Paus, pemimpin umat Katolik di Vatikan, Roma. Ternyata meleset. Buddhist Conclave yang dimaksud hanyalah semacam simposium atau seminar tentang Buddhisme.

Mengapa di Nelanda? Karena dua ribu tahun silam sebelum masehi, tempat ini menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahuan Buddhisme. Di sana ada universitas yang luar biasa besarnya bernama Universitas Nelanda. Orang-orang dari seluruh dunia termasuk dari Cina belajar di sana. Kampusnya dilengkapi dengan biara yang maha luas. Jejaknya masih terlihat jelas dari reruntuhan universitas itu.

Buddhist Conclave tidak dilangsungkan di bekas universitas itu, tetapi di luarnya. Tidak terlalu jauh dari tempat yang sudah ditetapkan PBB sebagai warisan dunia dan menjadi objek wisata tersebut. Buddhist Conclave berlangsung di bawah tenda darurat.

Inti Buddhist Conclave adalah bagaimana menjadikan situs-situs suci umat Buddha di India Utara menjadi seperti situs-situs rohaninya umat Kristen di Timur Tengah yang ramai dikunjungi lengkap dengan berbagai fasilitas. Pemerintah India menyadari bahwa fasilitas di situs-situs rohani Buddha sama sekali tidak ada. Bahkan situs-situs rohani itu tidak terjaga dan terurus dengan baik. Kesadaran itulah yang mau dibangun oleh Pemerintah India. Cita-cita lainnya adalah menjadikan India seperti Mekahnya umat Buddha.

Kembali ke Sungai Gangga
Hari itu, Senin 1 Februari 2010. Saya baru tiba dari Bodgaya, tempat Sidharta Gautama menjelma menjadi Buddha setelah melakukan meditasi panjang di bawah pohon Body, menumpang kereta api khusus untuk para pesiarah Buddhist Conclave. Kereta itu disulap bak hotel. Dibikin kamar-kamar. Satu kamar memiliki empat tempat tidur yang disusun. Perjalanan Bodgaya-Patna yang ditempuh satu malam dihabiskan dengan tidur seperti di hotel. Kamar mandi dan toilet kereta pun selalu bersih dan kering. Meskipun bagian luar kereta itu, kotor.

Sesampai di Patna, kami langsung di antar ke hotel. Hanya untuk numpang mandi dan sarapan serta istirahat sejenak. Selepas itu, kami lalu dibawa keliling Kota Patna, tempat di mana Budha memulai karyanya. Di sana banyak situs, tempat-tempat persinggahan Buddha. Siang itu kami makan di restoran.

Sore hari, kami dibawa menyusuri Sungai Gangga. Setelah meliuk-liuk di Kota Padna yang penuh sesak dengan manusia, akhirnya tiba juga dipinggiran Sungai Gangga. Sungai ini bukan hanya suci bagi umat Hindu, tetapi juga bagi umat Buddha. Tuhan Buddha pernah berjalan di atas air sungai yang luas dan lebar ini dengan air yang teduh. Tetapi sebenarnya sungai ini tidak beda dengan Sungai Musi di Palembang atau Sungai Mahakam. Airnya juga seperti itu. Tidak bersih-bersih amat.

Di pinggir sungai, banyak diparkir kapal motor. Begitu rombongan kami datang, bergegas para pengemudi kapal motor itu menawarkan jasanya dengan Bahasa Inggris yang lancar. Tetapi untuk kami sudah disiapkan beberapa perahu motor. Saya bersama dua orang lain dari Indonesia naik satu perahu motor dengan satu orang perempuan dari Vietnam dan beberapa orang dari Thailand. Rata-rata mereka dari kantor travel and tour.

Pemandangan pinggir Sungai Gangga tidak ada yang luar biasa. Hotel-hotel melati bertebaran di pinggir sungai yang bertebing. Satu dua orang tampak mandi di pinggir sungai, senja itu.

Matahari perlahan menghilang di ufuk barat. Perahu kami terus membelah sungai yang tenang. Sementara di pinggir sebelah kanan, api pembakaran mayat berkobar. Wisatawan dilarang mengambil gambar.

Ketika gelap tiba, semua perahu berhenti tepat di depan titik upacara keagamaan umat Hindu di pinggir Sungai Gangga, tidak jauh dari tempat pembakaran mayat tadi. Semua hening. Kecuali bunyi-bunyian alat musik dari tempat doa di pinggir sungai. Kepada para peziarah dibagikan lilin-lilin kecil untuk dinyalakan. Tidak jarang, ada anak-anak kecil yang mendayun sampannya hanya untuk menjual lilin. Sore itu, seorang anak lelaki kecil mendayun sampannya sambil menawarkan lilin dari satu perahu ke perahu lain.

Selesai upacara, para wisatawan pulang, kembali ke titik berangkat. Menyusuri Sungai Gangga dalam kegelapan malam. Ada yang berkelompok, tetapi ada juga yang seorang diri di atas perahu motor. Mendayung dalam sepi.

Lalu tersadar aku dari lamunanku. Itu ternyata pengalaman satu setengah tahun silam. Sementara nyawa ke-16 orang umat Hindu yang tewas karena berdesak-desakan di tepian Sungai Gangga di Haridwar pada Selasa, 8 November 2011 tak terselamatkan. Mereka mengakhiri hidupnya dalam upacara suci di pinggir sungai yang suci pula. (Alex Madji)