Home Inspirasi Sekali Lagi, Indonesia Versus Malaysia

Sekali Lagi, Indonesia Versus Malaysia

472
0
SHARE

Rauk memperebutkan juara grup.

Karena alasan itulah, pelatih kepala tim nasional U-23, Rahmad Darmawan mengistirahatkan sejumlah pemain intinya untuk menghadapi Vietnam, juara grup lainnya di babak semifinal. Bermain dengan sejumlah pemain cadangan itulah yang membuat Indonesia takluk di hadapan pendukungannya sendiri dari musuh bebuyutannya, Malayisa.

Tetapi strategi Rahmad Darmawan itu terbukti sukses. Pemain-pemain inti seperti Patrich Wanggai, Okto Maniani, Titus Bonay, Egi Melgiansah, dan Andik tampil memukau di babak semifinal menghadap Vietnam. Mereka mengurung pertahanan Vietnam. Banyak peluang yang didapat pada laga itu. Tetapi hanya dua gol yang dihasilkan melalui Patrich Wanggai dari tendangan bebas kaki kiri menyusur tanah pada menit ke-60 dan gol spetakuler Titus Bonay dari tendangan kaki kiri dari dalam kotak penalti pada menit ke-89. Indonesia menang 2-0 atas Vietnam.

Pemain-pemain yang patut mendapat apresiasi karena tampil bagus adalah para pemain asal Papua, Titus Bonay, Patrich Wanggai, dan Okto Maniani yang skill individunya sangat luar biasa. Selain mereka, pemain naturalisasi Diego Michels yang tampil dingin dan sangat cerdas memotong bola tanpa harus bermain keras dan kasar patut diacungi Jempol. Selain itu tusukan-tusukannya dari sayap kiri sangat berbahaya. Dia bermain seperti Ashley Cole di Chelsea.

Kapten Egi Melgiansah yang berebut penguasaan lapangan tengah serta Andik yang cepat dan lincah dalam berebut bola dan kencang dalam berlari patut dipuji. Merekalah kunci kemenangan Indonesia atas Vietnam.

Bongkar Pertahanan Malaysia
Kemenangan itu menghantar Indonesia kembali bertemu Malaysia di final. Ini pasti partai seru. Indonesia pasti turun dengan kekuatan penuh dengan pemain-pemain inti tadi yang tidak turun pada pertemuan pertama.

Kehadiran mereka tentu akan memberi warna lain pada laga final nanti. Pihak Malaysia mengakui bahwa Indonesia kalah pada pertemuan pertama karena tidak tampil dengan kekuatan utamanya.

Melihat laga pertama dan laga semifinal melawan Myanmar, Malaysia sangat unggul dalam pertahanan dan serangan balik yang cepat. Selain itu mereka pandai memanfaatkan luas lapangan. Gol tunggal ke gawang Indonesia pada pertemuan pertama adalah hasil serangan balik dari sayap kanan yang tidak bisa diantisipasi dengan baik para pemain bertahan Indonesia.

Pada laga pertama itu, ketatnya pertahanan Malaysia membuat Titus Bonay tidak berhasil mencetak gol. Meskipun, beberapa kali dia memiliki peluang. Paling tidak dua kali. Hanya sayang, bola sepakan kaki kanannya hanya bergulir tipis di luar tiang gawang Malaysia.

Pada final nanti, Patrich Wanggai dan Titus Bonay, serta Okto Maniani harus cerdas membongkar pertahanan Malaysia. Serangan tidak boleh monoton dari sayap kiri seperti ketika melawan Vietnam.

Barisan tengah juga harus lebih cerdas memnciptakan variasi serangan baik dari sayap kiri, melalui sayap kanan, maupun dari tengah. Variasi serangan dari kiri, kanan, dan tengah itu akan membuat pertahanan Malaysia kocar kacir. Selain itu kesalahan kecil yang tidak perlu harus dihindari.

Hal lain yang harus menjadi perhatian serius adalah para pemain bertahan. Dari beberapa laga sebelumnya, para pemain belakang tampak belum tenang. Hanya Diego Michels yang bisa bermain lepas, tenang, dan percaya diri. Para pemain belakang juga jangan asal menendang bola ke depan, tetapi harus terarah ke teman. Hindari pula tekel-tekel keras di wilayah pertahanan. Tendangan-tendangan bebas dari wilayah pertahanan akan berbahaya bagi gawang Indonesia.

Terakhir adalah soal stamina. Stamina para pemain Indonesia masih tampak kedodoran. Mereka harus disiapkan bermain selama 120 menit, dengan asumsi bermain imbang selama 90 menit dan perpanjangan waktu selama 30 menit, dengan kualitas yang sama sejak menit awal sampai menit terakhir. Tanpa stamina yang bagus, Indonesia siap-siap hanya meraih perak pada cabang sepakbola SEA Games tahun ini. Sebab, Malaysia memiliki stamina yang bagus dan bermain solid, serta rapih di setiap lini.

Sekali lagi, kalah pada partai pertama tidak berarti bahwa kekuatan Indonesia berada di bawah Malaysia. Boleh saja kalah pada babak penyisihan. Yang penting menang pada partai puncak. Karena itu, selamat bertarung Garuda Muda. Terbanglah tinggi ke angkasa dengan bermain bagus dan memukau. Pencinta sepakbola Indonesia ada di belakang kalian yang selalu haus akan permainan yang cantik memukau dan prestasi. (Alex Madji)