Home Inspirasi Ketika PSSI Telanjangi Indonesia

Ketika PSSI Telanjangi Indonesia

484
0
SHARE

Selasa, 13 November 2012 ini, saya mencoba bermain ke kantor PSSI di Stadion Utama Gelora Bung Karno di kawasan Senayan Jarta Pusat. Tujuannya meliput jumpa pers pra pertandingan persahabatan internasional antara Tim Nasional Indonesia versus Timor Leste. Ini pertandingan persahabatan internasional. Acara jumpa pers mula-mula dilakukan oleh pelatih dan kapten Timor Leste, Emerson Alcantara dan Jessy Pinto kemudian disusul asisten pelatih Indonesia Fabio Olivera dan penyerangnya Syamsul Arif. Acara jumpa pers itu berjalan bagus.

Peristiwa memalukan terjadi beberapa saat berselang, ketika skuat Timnas Timor Leste memasuki lapangan kebanggaan masyarakat Indonesia itu. Di tengah lapangan mereka berkumpul mendengar arahan pelatih asal Brasil, Emerson Alcantara.

Tiba-tiba manajer tim mereka marah-marah dalam Bahasa Indonesia. Dia keluar dari lapangan sambil memprotes. Intinya, mereka menuntut PSSI menyediakan lapangan sebagai tempat latihan mereka. Ya, mereka dilarang untuk berlatih di tempat itu karena besoknya lapangan ini dipakai untuk pertandingan.

Sebenarnya, jadwal mereka berlatih adalah Selasa, 13 November 2012 jam 08.00 WIB. Tetapi setelah koordinasi, jadwal itu diundur ke pukul 16.00 WIB. Alasannya, skuat Timnas Timor Leste baru tiba di Jakarta pada Selasa 13 November 2012 pukul 02.00 WIB dini hari.

Timor Leste sebenarnya tidak mempersoalkan larangan penggunaan Stadion Utama Gelora Bung Karno tersebut. Mereka marah karena PSSI tidak menyediakan lapangan alternatif. Padahal, PSSI-lah yang mengundang Timor Leste untuk menjalani laga persahabatan internasional itu. Menurut sang manajer, PSSI melanggar aturan FIFA dan AFF. Pasalnya, FIFA mengatur bahwa dalam laga persahabatan, pihak pengundang harus menyediakan lapangan bagi tim tamu untuk latihan.

“Ngapain kami diundang ke sini bila kami tidak diberi lapangan untuk latihan. Kalau Anda ke Timor Leste kami akan menyediakan lapangan untuk latihan. Itu standar internasional dan peraturan FIFA. Saya juga aktif di FIFA sehingga saya tahu aturannya,” ujar pria bernama Ignatio da Silva Carvalho itu dengan suara tinggi.

Dia lalu menilai, ketidakprofesionalan itu membuat PSSI dilanda perpecahan. Lebih dari itu, sikap PSSI ini memalukan. Hal itu diakui oleh petinggi PSSI yang datang ke lapangan. “Ini pertandingan persahabatan internasional loh. Kenapa tidak disiapkan lapangan. Ini pasti masuk berita ini,” ujarnya setengah berbisik karena banyak wartawan yang menyaksikan latihan Timor Leste tersebut.

Setelah mendapat protes keras dari pihak Timor Leste, mereka akhirnya dijinkan menggunakan lapangan Stadion Utama Gelora Bung Karno itu. Hanya saja, Timnas Timor Leste tidak menggunakannya untuk latihan dengan bola, melainkan hanya untuk latihan ringan berupa senam. Itu pun tidak berlangsung lama.

Insiden kecil ini sungguh memalukan. Hal ini memperlihatkan bahwa PSSI tidak profesional dan tidak serius serta tidak siap menyelenggaran event internasional. Mereka terlalu menyepelekan persoalan.

Tanpa sadar mereka sebenarnya sudah menelanjangi Indonesia. Mungkin sudah saatnya PSSI dirombak, tetapi tidak dengan aksi saling menjatuhkan seperti yang terjadi selama ini, melainkan dengan meningkatkan kinerja lebih profesional sesuai standar internasional agar PSSI berhenti mempermalukan Indonesia. (Alex Madji)