Home Inspirasi Sepeda Ontel dan PKL di Kota Tua

Sepeda Ontel dan PKL di Kota Tua

755
1
SHARE

Rabu, 5 September 2013, saya main ke Kota Tua di Kawasan Kota, Jakarta Barat. Hanya sekedar melihat dan menikmati suasana dan situasi di kawasan tersebut. Memasuki plaza atau lapangan luas di depan “Gouverneurskantoor” atau yang kini menjadi Museum Sejarah, hal yang paling mencolok adalah deretan sepeda ontel.

Meski jadul alias jaman dulu, sepeda-sepeda ini menarik dan unik. Pertama karena mereka dicat dengan berbagai macam warna; merah, kuning, biru, pink dan sebagainya. Belum lagi sepeda-sepeda itu dilengkapi dengan topi seperti yang dipakai keluarga-keluarga kerajaan di Belanda atau Inggris. Kedua, ini adalah kendaraan “resmi” Kota Tua yang bisa dipakai turis untuk sekedar mengelilingi plaza Kota Tua atau memutari seluruh kawasan Kota Tua hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Para pemilik sepeda ini dilengkapi dengan seragam rompi. Mereka juga paham sejarah Kota Tua. Paling tidak menghafal tahun berdirinya bangunan-bangunan dan situs-situs bersejarah di kawasan tersebut. Salah seorang penyewa sepeda, Ahmad, misalnya, saat menawarkan sepeda menyebutkan tahun berdirinya sejumlah situs yang akan dikunjungi dengan sepedanya, sambil menunjuk sejumlah foto.

Dia menuturkan, sepeda-sepeda itu hanya dibayar Rp 20.000 per 30 menit setelah mendapat potongan untuk berputar-putar di plaza Kota Tua tersebut. Tetapi kalau dipakai untuk mengelilingi seluruh kawasan Kota Tua, biayanya Rp 40.000 per 1,5-2 jam. Harga itu sudah termasuk diskon. Normalnya, bisa mencapai Rp 80.000 per sepeda.

Tetapi bila mengunjungi seluruh kawasan Kota Tua, kata Ahmad, seorang wisatawan juga harus didampingi seorang pemandu agar tidak tersesat. Seorang pemandu menggunakan sepeda tersendiri yang dibayar oleh turis seharga Rp 40.000. Sedangkan tenaga si pemandu dibiayai Rp 50.000 sekali jalan. Jadi, kalau mengunjungi seluruh kawasan Kota Tua menggunakan sepeda sewaan itu, minimal harus mengeluarkan anggaran Rp 130.000 (sepeda dua unit dan pemandu). Belum termasuk biaya masuk objek yang dikunjungi. Yah, lumayan mahal juga ya?

Siang itu, sejumlah pengunjung menyewa sepeda-sepeda itu untuk berputar-putar di halaman luas tersebut. Ada yang menyewa untuk sekedar berfoto dengan sepeda jadul sambil mengenakan topi bak keluarga kerajaan tanpa menggowesnya. Ada pula sepasang kekasih, yang satu mengayuh sepeda dengan terus tersenyum lebar sedangkan yang lain merekamnya dengan kamera dari kejauhan. Entah hasilnya seperti apa. Tetapi kelihatannya romantis.

Sementara PKL menjadi menarik karena tempat ini sudah ditetapkan sebagai kawasan bebas PKL pada 26 Agustus 2013. Sejak itu hingga Rabu, 4 September 2013, petugas Satpol PP masih berjaga-jaga. Keberadaan mereka sangat mencolok. Ada yang duduk-duduk sambil ngobrol dan menggoda cewek yang lewat, ada yang duduk-duduk sambil menikmati kopi panas di pos pengamanan. Ada juga yang hanya mondar-mandir.

Meski demikian, PKL tetap saja ada dan berkeliaran bebas. Di pojokan Kantor Pos di depan “Gouverneurskantoor”, misalnya, ada penjual gorengan, minuman, dan rujak. Sementara PKL lainnya aktif menawarkan barang kepada para pengunjung di tengah-tengah plaza. Selain PKL, pengamen dan pemulung juga berkeliaran di sana.

Seorang penjual kopi, pop mie, rokok, dan krupuk bernama Sumiati mengaku terus berjualan, meski sudah dilarang. Dia dan teman-temannya harus main kucing-kucingan dengan petugas. “K ami tetap saja jualan, terutama untuk jualan tentengan seperti ini. Kalau ada petugas dan usir kita ya minggir dulu, nanti balik lagi,” kata perempuan asal Solo itu.

Perempuan paruh baya ini sudah tiga tahun berjualan di kawasan Kota Tua. Dia pun sudah memetik hasilnya. Dengan modal awal Rp 450.000, sekarang dia sudah memiliki satu unit sepeda motor. “Sehari kalau ramai bisa bawa pulang Rp 200 ribu. Tetapi kalau pada hari-hari kerja dan sepi hanya bawa pulang gocap,” ujarnya.

Menurut dia, pengunjung Kota Tua ini paling banyak terjadi pada Sabtu dan Minggu. Sedangkan hari-hari kerja tidak terlampau banyak. “Pariwisata tanpa jualan kayak gini sama juga dengan neraka. Pengunjung yang haus mau minum di mana?” tanyanya retoris.

Pemerintah DKI Jakarta harus menata keberadaan PKL ini dengan lebih baik lagi. Mereka harus menjadi bagian dari pariwisata Kota Tua. Bagusnya, kawasan Kota Tua ini ditata seperti kota-kota tua di luar negeri. Di kota-kota besar di Eropa, kota tua ini menjadi destinasi wisata. Mereka menatanya dengan sangat bagus, indah, dan cantik sehingga enak dan nyaman dikunjungi. Selain gedung-gedung bersejarahnya terawat bagus, akses ke kota tua itu juga mudah.

Di Kota Tua Warsawa, Polandia, misalnya, pedestrian jauh lebih luas dari jalan untuk kendaraan. Bahkan menjelang pusat kota tua, kendaraan tidak boleh masuk. Ini sangat melegakan dan nyaman bagi pejalan kaki.

Bila Kota Tua Jakarta dibuat seperti ini, akan sangat bagus. Ditambah dengan memperbaiki gedung-gedung yang sudah rusak dan hampir roboh agar enak dipandang, pasti akan memberi nilai tambah bagi pariwisata DKI Jakarta. (Alex Madji)

Foto-foto: Ciarciar