Home Umum Setia dalam Penderitaan

Setia dalam Penderitaan

937
0
SHARE
Sumber Foto Illustrasi: www.gkycimone.org

Lima hari sebelum idul fitri 2016, tepatnya, Jumat 1 Juli 2016, seorang kerabat dan keluarga saya dipanggil Tuhan. Ini akhir dari sebuah perjuangan panjang selama satu tahun dan satu bulan, sejak ia divonis menderita kanker serviks, Mei 2015.

Saya sedih dan beberapa kali meneteskan air mata. Apalagi melihat dua anaknya yang masih kecil. Yang sulung baru masuk kelas satu SMA di Seminari Wacana Bakti, setelah menempuh kelas persiapan bawah. Yang bungsu baru naik kelas V sekolah dasar.

Sehari sebelum menghembuskan napas terakhir, saya datang ke rumah sakit, begitu mendengar saudari ini kembali masuk rumah sakit. Meski dengan kondisi yang lemas, ia masih memeluk saya, sambil meminta maaf atas kesalahan yang (mungkin) sudah dibuatnya sambil meneteskan air mata. Saya juga larut dalam sedih dan ikut menitikkan air mata. Saya tiba-tiba menjadi laki-laki yang tidak tegar.

Siang hari, atas permintaannya sendiri, ia diberi minyak suci. Pater Marsel Onggol, OFM bersedia memberi sakramen ini. Saya menjemputnya di Provinsialat OFM Jalan Kramat V, Jakarta Pusat dengan bajaj. Pulangnya, ia kembali seorang diri menggunakan taksi. Tanpa stipendium.

Sepanjang hari itu, saya dan beberapa saudara berada di rumah sakit. Menjelang sore, ia tiba-tiba minta makan dan permen. Firasat saya sudah jelek. Namun, saya coba tetap optimistis. Saya baru kembali ke rumah pukul 22.00 WIB. Seorang saudara lain baru pulang pukul 23.00 WIB. Sementara yang lain terus berjaga. Kepada mereka, saya berpesan untuk mengabari perkembangannya, termasuk kalau terjadi sesuatu.

Jumat, 1 Juli 2016, pukul 03.00 WIB, adik saya yang ikut bertahan di rumah sakit, tiba-tiba menelepon. Setiap telepon tengah malam seperti ini, otak saya langsung berpikir bahwa ada yang meninggal dunia. Sebelum-sebelumnya, telepon dari kampung halaman pada jam-jam seperti ini selalu mengabarkan duka cita. “Cepat datang kak,” kata adik saya dari seberang singkat.


Tak sempat berpikir panjang, saya basuh muka, lalu panasi mobil dan segera berangkat. Sejam kemudian saya tiba di rumah sakit. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB. Saya langsung minta izin petugas keamanan rumah sakit untuk masuk ruang unit gawat darurat. Saya mendapati kondisinya sudah parah. Selang untuk membantu pernapasan sudah dimasukkan ke paru-paru. Ia tidak menyahut lagi. Tak ada komunikasi. Transfusi darah dihentikan.

Kami kemudian berjaga di luar rumah sakit. Di sana, kami mendiskusikan situasi terburuk bersama suaminya. Lagi-lagi saya menteskan air mata, melihat suaminya berbicara sambil menahan tangis. Di tengah rasa putus asa, tiba-tiba dokter memutuskan untuk transfusi lagi. Situasi itu kami sebut mukjizat. Karena itu, beberapa saudara yang praktis tidak tidur semalaman, diminta untuk tidur, termasuk putra sulungnya. Tapi saya juga dilanda rasa kantuk.

Pagi-pagi, beberapa saudara yang tinggal jauh mulai berdatangan. Melihat makin banyak saudara yang merapat, saya baring di mobil. Ternyata situasi kritis terjadi pada pagi itu. Tepat jam 10 pagi, adik saya lalu telepon bahwa saudari kami ini menghembuskan napas terakhir. Saya bergegas. Masuk ruangan gawat darurat dan menemukan saudari ini pergi untuk selamanya.

Kelompok kecil kami lalu mengambil langkah cepat. Kami saweran semampu kami mengantisipasi ada tagihan dari pihak rumah sakit di luar tanggungan BPJS. Pada saat bersamaan, kami langsung menghubungi rumah duka di Rumah Sakit St Carolus dan memesan ruang duka di sana. Belakangan, jenasah saudari kami ini tak jadi disemayamkan di Carolus karena diambil alih oleh pihak Paroki Maria Kusuma Karmel (MKK), Kedoya. Jenazah kemudian dibaringkan di Rumah Duka Sumber Waras. Singkat cerita, sejak meninggal hingga pemakaman, Sabtu 2 Juli 2016, kami mengurus dengan sangat bagus dan terkordinasi dengan baik sekali. Semua saudara sekampung di perantauan ini kompak dan siap mengerjakan apa saja. Kerja sama dengan pihak paroki MKK juga berjalan mulus.

Merenung

Setelah pemakaman, kami berdoa selama tiga hari di kediaman keluarga yang berduka, Kedoya. Persis disamping Gereja MKK. Malam kedua (dihitung setelah pemakaman), saya ditugasi memimpin ibadat. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada prodiakon, saya pun jadi.

Saya lantas merenungkan tentang kesetiaan keluarga ini dalam penderitaan. Mereka, baik suami maupun istrinya yang sudah wafat itu, sangat tabah. Berkali-kali saya menyampaikan itu sebelumnya setiap kali membicarakan tentang sakit saudari kami ini. Beban mereka sungguh berat. Namun tidak pernah menyerah. Mereka terus berjuang tanpa kenal lelah. Semua dikorbankan. Tenaga, uang, waktu, dan segalanya.

Pernah saudari kami itu putus asa. “Saya sudah tidak kuat kak,” katanya suatu ketika saat berkunjung ke rumahnya. Tapi saya mencoba menguatkannya untuk terus melawan penyakit yang diderita. Ia juga dikuatkan oleh orang-orang lain yang mencintainya, termasuk dari kelompok agama lain yang datang mendoakannya.

Suaminya tidak kalah tegar dan tabah. Meski bebannya berat, ia tidak pernah tidak tersenyum. Kalau orang yang tidak tahu, seolah ia tidak punya beban. Tapi begitulah cara dia menghadap situasi ini. Tetap tenang dan penuh optimisme. Ia tidak pernah punya niat lari dari situasi ini. Sebaliknya, ia tekun merawat istrinya selama satu tahun satu bulan, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Yang paling penting, mereka tetap tekun dalam doa.

Karena itu, saya melihat bahwa keluarga ini sangat setia dalam penderitaannya, sambil berharap ada mukjizat dari Tuhan sang pemilik kehidupan. Meskipun, pada akhirnya Sang Empunya kehidupan itu memiliki keputusan-Nya sendiri. Kemudian, renungan itu saya tutup bahwa kesetiaan dalam penderitaan ini akan berbuah manis yaitu kebahagiaan kekal.

Nabi Amos, sepanjang hidupnya, juga menderita. Bahkan ia sempat “menggugat” Tuhan, sebelum akhirnya menemukan jawaban tentang penderitaan yang dialaminya. Yaitu bahwa penderitaannya bukan berasal dari Tuhan melainkan karena kehendak bebasnya sebagai manusia.

Saudari saya ini sudah belajar dari Nabi Amos. Semoga kesetiannya dalam penderitaan mengantarnya menikmati kebahagiaan hidup yang kekal. (Alex Madji)