Home Buku Si Tomboi Pekerja Keras

Si Tomboi Pekerja Keras

1209
0
SHARE
Buku "Untold Story Susi Pudjiastuti' (Foto: Ciarciar.com)

Susi Pudjiastuti namanya. Wanita kelahiran Pangandaraan, Jawa Barat, 15 Januari 1965 ini sekarang menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dalam Kabinet Kerja Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla. Pengangkatannya membuat publik terkejut. Sebab tidak banyak orang yang mengenal dia sebelumnya.

Lebih menghebohkan lagi setelah tahu bahwa putri sulung pasangan Haji Ahmad Karlan dan Hajah Suwuh Lasminah ini tampil apa adanya, jauh dari “jaim” saat pengumuman dan perkenalan kabinet ke publik di halaman tengah Istana Kepresiden 26 Oktober 2014 silam. Setelah pengumuman dan perkenalan, dia melayani wawancara media dan merokok. Pada saat itu pula dia tidak menyembunyikan tato pada kakinya.

Gaya “nyentrik” ini diikuti oleh fakta-fakta mengejutkan pada hari-hari berikutnya yaitu bahwa perempuan berjenis suara alto ini hanya berijasah SMP, dua kali kawin cerai, dan sekarang hidup bersama dengan seorang bule asal Jerman.

Semua itu membuatnya menjadi begitu populer di media massa dan media sosial, bahkan menjadi menteri terpopuler dibanding para menteri lainnya. Populer karena dia dicibir, dianggap remeh, dan dipandang tidak mampu. Tetapi Susi tidak mau menjawab semua cibiran itu dengan kata. Dia membuktikannya dengan kerja nyata. Gebrakan dan kebijakannya pada bulan-bulan awal menghentak publik dan menggetarkan mereka yang selama ini hidup enak dari sektor kelautan dan perikanan. Tidak ada rasa gentar dan takut sedikit pun. Bahkan dia mengirim pesan sangat jelas kepada maling ikan dari luar dan dalam negeri agar berhenti mencuri di perairan Indonesia kalau tidak ingin kapal mereka ditenggelamkan.

Hal-hal itu terjadi karena Susi bukan orang baru di dunia kelautan dan perikanan. Dia adalah pemain dan sudah menguasai medan, terutama dalam bidang tangkapan. Susi adalah pebisnis olahan ikan dan pengekspor hasil laut, utamanya lobster. Dari sini usahanya meluas ke industri penerbangan dengan maskapai penerbangan Susi Air. Kisah suksesnya ini bukan datang seketika. Dia mulai dari bawah. Dari nol. Dimulai dengan menjadi bakul ikan di Pangandaraan, menyusuri pantai-pantai di Jawa dan Lampung, menjual ikan hingga ke Muara Angke Jakarta. Padahal kalau dipikir, dia adalah anak orang kaya yang tidak perlu kerja keras di usia sangat muda, cukup menikmati fasilitas milik orang tua.

Tetapi justru di situlah keunikan Susi. Kisah tentang kerja keras, keuletan, pantang menyerah, jatuh bangunnya, dan kiprah Susi sejak kecil hingga menjadi orang sukses terekam sangat kuat dan dalam pada buku “Untold Story Susi Pudjiastuti; dari Laut ke Udara, Kembali ke Laut” terbitan Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2015 dengan Editor A Bobby Pr.

Kesaksian

Buku ini berisi kesaksian orang-orang terdekat Susi tentang kehidupan masa kecil, masa sekolah di SD, SMP, dan SMA yang tidak sampai tamat di Yogyakarta, kisah kegagalan perkawinan, awal mula membangun usaha, sisi-sisi kemanusiaannya, dan kepeduliannya pada lingkungan.

Mereka yang berkisah mulai dari mantan pengasuh yang hingga kini masih menjadi juru masak di kediaman Susi di Pangandaraan, teman-teman sekolah di SD, SMP, dan SMA, guru, mantan pejabat, pejabat, mantan suami, karyawan, adik kandung, Wapres Jusuf Kalla dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Dari kesaksian mereka, kesan paling kuat yang bisa ditangkap adalah bahwa dia seorang yang mandiri, pekerja keras, pantang menyerah, tidak bisa diam dan berpangku tangan, serta cerdas. Sejak anak-anak, Susi sudah mandiri. Dia tidak terlalu mau merepotkan pengasuhnya. Dia juga tertib dengan dirinya sendiri dan menjadi contoh untuk adik-adiknya. Sejak kecil dia juga tomboi dan selalu bergaul dengan laki-laki dibanding dengan teman-teman peremuannya, suka panjat pohon, dan mengerjakan hal-hal yang akrab dilakukan laki-laki.

Di sekolah dia termasuk anak cerdas. Kecerdasan ini bukan hanya waktu sekolah dasar tetapi sampai SMA. Bahkan saking cerdasnya, dia memilih berhenti sekolah formal. Tetapi dia tidak pernah berhenti belajar. Dia belajar menjadi pedagang. Sisi kerja kerasnya sangat terlihat jelas pada periode ketika dia mulai merintis usaha. Setelah menikah dengan Yoyok, dia tidak hanya mau menjadi ibu rumah tangga seperti yang diinginkan suaminya. Dia juga mau bekerja keras dengan sama-sama menjadi bakul ikan. Dari sini lahirlah perusahaan olahan ikan.

Ketika tuntutan pasar menuntutnya agar ikan dan lobster bisa sampai lebih cepat dan masih fresh di tangan pelanggan, dia membeli pesawat. Pesawat ini tadinya dimaksudkan untuk membawa tangkapan nelayan, tetapi kemudian dengan cerdas dan jeli dia melihat peluang usaha lain yaitu mengangkut penumpang. Maka didirikan perusahaan penerbangan Susi Air yang memilih melayani penerbangan-penerbangan printis di daerah-daerah pedalaman.

Pilihan ini sangat jitu, karena dia menjadi pelopor pada penerbangan printis. Di maskapai ini, dia mempekerjakan mayoritas pilot orang asing karena pilot-pilot dalam negeri tidak mau terbang ke daerah-daerah terpencil. Mereka lebih memilih langsung pegang pesawat-pesawat jumbo dibandingkan pesawat-pesawat kecil Susi Air.

Tantangan ini ternyata dilihat sebagai peluang lain oleh Susi. Maka dia lalu mendirikan sekolah penerbangan di Pangandaraan guna memasok pilot-pilot lokal untuk maskapainya. Sekarang, semua bisnis itu berjalan bagus dan ditangani orang-orang profesional di bidangnya.

Hal lain yang diungkapkan dalam buku ini adalah sisi kemanusiaan Susi. Ketika tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004, pesawat pertama yang mendarat di Meulaboh, salah satu daerah yang paling parah dihantam tsunami, adalah pesawat milik Susi. Dengan pesawat kecilnya, dia membawa banyak orang ke sana, terutama para pejabat ketika itu. Dengan pesawat itu pula dia membawa bahan-bahan bakar dan berbagai bantuan lainnya untuk para korban di daerah bencana tersebut. Semua bantuan lain baru muncul belakangan, setelah Susi mendaratkan pesawatnya di Meulaboh.

Dia juga ikut mendorong nelayan-nelayan di Meulaboh kembali melaut. Dia membimbing dan membangkitkan kembali keberanian mereka untuk melaut dengan bantuan nelayan-nelayan dari Pangandaraan yang diboyong Susi. Setelah itu, dia membeli hasil tangkapan nelayan dengan harga yang tinggi. Harga beli Susi ini pula yang mendorong nelayan berlomba-lomba melaut.

Terlalu banyak kisah menarik tentang pribadi Susi Pudjiastuti dalam buku ini. Meskipun sisi “The Untold Story”-nya bukan berasal dari mulut Susi sendiri, tetapi dari orang-orang terdekatnya. Karena itu, buku ini sangat inspiratif dan layak dibaca oleh mereka yang ingin belajar dari kisah sukses seorang Susi Pudjiastuti, Si Tomboy dari Pangandaraan. (Alex Madji)