Home Umum Sinabung, SBY, dan Kelud

Sinabung, SBY, dan Kelud

674
0
SHARE
SBY makan dengan pengungsi Gunung Kelud (Foto: Merdeka.com)

Gunung Kelud di Jawa Timur akhirnya meletus juga pada Kamis, 13 Februari 2013 tengah malam lalu, setelah  statusnya terus dinaikkan. Abunya terbang jauh hingga wilayah Jawa Barat. Pada saat bersamaan, puluhan ribu warga di radius 10 kilometer terpaksa mengungsi. Sekarang mereka menghadapi bencana lain yaitu banjir lahar dingin dari Kelud.

Belum lama berselang, Gunung Sinabung di Tanah Karo, Sumatera Utara juga memuntahkan lahar panas. Belasan korban jiwa melayang terbakar “wedhus gembel”, sebutan warga di lereng Gunung Merapi, DIY dan Jawa Tengah, untuk awan panas.

Sebelum erupsi hebat, Sinabung sudah erupsi berbulan-bulan, sejak September 2013 yang menyebabkan puluhan ribu warga juga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Mereka tinggal di pengungsian selama berbulan-bulan. Erupsi ini juga merusak lahan pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian warga di sekitarnya.

Sehari setelah letusan Gunung Kelud, Jumat 14 Februari 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung menggelar jumpa pers. Diantara begitu banyak hal yang disampaikan, dia mengumumkan akan segera mengunjungi para korban letusan Gunung Kelud.

“Kompas.com” memberitakan, Minggu, 16 Februari 2014 SBY akhirnya bertolak ke Madiun, Jawa Timur, dengan menggunakan Kereta Api Luar Biasa dari Stasiun Gambir, Jakarta pukul 07.00 WIB. SBY didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri.

Dalam kasus ini, reaksi SBY super cepat, hanya tiga hari setelah kejadian. Keputusannya langsung mendatangi para pengungsi patut diacungi jempol. Apalagi sesampai di wilayah bencana, dia makan bersama dengan pengungsi. Hal-hal seperti ini patut kita kasih “two thumbs”.

Tetapi pada saat bersamaan, reaksi seperti ini mengundang tanya. Sebab, dia tidak mengambil keputusan serupa saat terjadi erupsi Sinabung. SBY harus menunggu berbulan-bulan untuk mengunjungi para pengungsi korban Sinabung. SBY baru mengunjungi korban erupsi Gunung Sinabung pada 23 Januari 2014 atau empat bulan setelah Sinabung mulai erupsi. Belum lagi saat akhirnya ke sana ada gosip tidak sedap bahwa SBY bermalam ditenda yang harganya miliaran rupiah. SBY sendiri sudah membantah ini.

Saya hanya mau mengatakan bahwa SBY berlaku tidak adil terhadap para pengungsi korban letusan Gunung Sinabung karena terlambat hadir di tengah para korban. Padahal perhatian dari seorang bapak mutlak perlu ketika anak-anaknya dirundung duka nestapa. Lalu apakah karena Tanah Karo itu terlalu jauh dari Jakarta? Ataukah karena para korban di sana bukan orang Jawa? Lalu SBY memilih sigap ke Jawa Timur karena lebih dekat dari Istana dan para korban di sana adalah saudara-saudarinya sendiri mengingat SBY juga orang Jawa Timur? Kalau jarak jadi alasan, mengapa ketika gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, SBY langsung terbang dari Papua menuju Aceh.

Sekilas, soal ini sangat sederhana, tetapi sebenarnya mencerminkan hal yang lebih substantif yaitu kebijakan pemerintah dalam hal pemerataan pembangunan. Pemerintah pusat terlalu memperhatikan Jawa, sementara daerah di luar Jawa, terutama di bagian Timur diterlantarkan. Mereka terus hidup menderita dalam kubangan kemiskinan karena tidak ada akselerasi pembangunan. Sebaliknya di Jawa, pembangunan terus berjalan cepat. Akibatnya ada ketimpangan sosial dan ekonomi antara Jawa dan luar Jawa. Dan, inilah yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun sejak Indonesia merdeka.

SBY sebenarnya masih punya waktu untuk memperlihatkan sikap yang adil, minimal dalam hal kecil yaitu perhatian kepada para korban bencana alam. Tetapi dalam hal kecil seperti itu saja dia alpa melakukannya, apalagi dalam hal-hal besar dan substantif seperti yang saya bilang di atas tadi. (Alex Madji)