Stadion Nasional Warsawa yang Megah Itu

Stadion Nasional Warsawa yang Megah Itu

361
SHARE

Rabu, 17 Oktober 2012 pagi, saya membaca berita tentang penundaan pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2014 antara Polandia versus Inggris di Stadion Nasional Warsawa, Polandia. Membaca berita ini, tiba-tiba pikiran saya melayang ke stadion termegah di negara Beato Yohanes Paulus II itu.

Saya berada di dalam Stadion tersebut untuk menyaksikan laga semifinal antara Italia versus Jerman Piala Eropa 2012 pada Jumat, 29 Juni 2012 malam waktu setempat atau Sabtu, 30 Juni 2012 dini hari WIB.

Sebenarnya, sejak tiba di Warsawa pada 20 Juni 2012, saya tidak berani pergi ke sekitar stadion tersebut. Saya khawatir pengamanannya begitu ketat. Apalagi saya tidak mendapat akreditasi dari Federasi Sepakbola Eropa atau UEFA untuk meliput pertandingan Piala Eropa. Padahal, jarak antara Fan Zone di pusat kota dengan stadion itu hanya sepelemparan batu jauhnya. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Bisa juga dengan trem atau bis yang langsung turun di mulut stadion.

Pada laga perempat final antara Portugal melawan Republik Ceko di stadion tersebut, saya hanya merasakan gegap gempita para pendukung kedua tim di kawasan Kota Tua Warsawa. Di sini para pendukung akur. Tidak ada saling ejek, apalagi tawuran antar pendukung seperti di Indonesia. Bahkan, mereka duduk satu meja untuk menikmati bir sebelum menyaksikan aksi para pemain kesayangannya pada malam hari di stadion tersebut. Tetapi saya hanya menyaksikan laga perempat final Portugal versus Ceko itu di Fan Zone.

Saya baru memberanikan diri bepergian ke stadion kebanggaan warga ibukota Polandia itu pada laga semifinal antara Italia dan Jerman pada Jumat, 29 Juni 2012. Pagi-pagi sekali saya sudah berangkat dari Partos Hotel yang terletak di Jalan Mangalia 3 ke Fan Zone. Dari situ saya berjalan kaki ke arah Stadion Nasional Warsawa melintas di atas Sungai Wisla yang membelah Kota Warsawa.

Sejak pagi, kesibukan sudah mulai tampak di sana. Sejumlah wartawan berakreditasi UEFA mulai hilir mudik di sekitar stadion. Sementara saya mencoba memberanikan diri melintas di luar pagar stadion, sambil khawatir jangan-jangan ada petugas yang akan menghentikan saya. Begitu merasa aman, saya meminta seorang ibu dengan anak gadisnya yang membawa bendera Swedia memotret saya di depan stadion itu. Belakangan saya baru tahu ibu dan anak itu ternyata orang Polandia.

Ramai

Kemudian saya menyusuri jalan di sisi kiri Stadion kembali ke Kota Tua dan Fan Zone melalui jalan dan melintasi jembatan lain Sungai Wisla. Sebuah perjalanan yang melelahkan tapi sekaligus mengasyikan. Begitu tiba di Kota Tua dan Fan Zone, pendukung Jerman sudah banyak. Mereka menguasai hampir seluruh restoran baik di sekitar Fan Zone maupun di Kota Tua. Mereka berpesta. Seolah mereka sudah menang sebelum laga.

Dari obrolan dengan para pendukung Jerman yang membanjiri Warsawa hari itu, mereka begitu optimistis. Meski terselip sedikit kecemasan karena Jerman tidak pernah mengalahkan Italia pada turnamen-turnamen resmi. Sementara pendukung Italia tidak terlalu tampak. Kalaupun ada, jumlah mereka tidak terlalu banyak.

Menjelang sore, sekitar pukul 15.00 waktu setempat atau 4,45 jam sebelum laga dimulai, saya kembali berjalan kaki menuju stadion. Kali ini makin banyak orang menuju ke sana. Sesampai di sana, para penjual tiket sudah menumpuk di pintu gerbang. Mereka menawarkan tiket pertandingan tersebut.

Seorang pria asal Jepang menawarkan tiketnya kepada saya. Dia bercerita bahwa dia memiliki dua tiket yang dibelinya secara online. Tetapi dia ingin menjual satunya. Sayang, harganya terlampau mahal, 350 dolar Amerika Serikat untuk sebuah tiket tribun atas.

Saya lalu bergeser dari situ, menjauh sedikit dari gerbang. Pada bagian lain, ketika sedang berdiri menyaksikan ribuan orang yang tiada putusnya mengalir ke stadion, tiba-tiba seorang pemuda Polandia menawarkan tiket kepada saya. Saya cari tiket yang berharga 200 dolar Amerika Serikat. Saat itu, pemuda tersebut mengaku ada tiket seharga itu. Dia lalu pergi sambil miminta saya menunggu. Tak lama berselang, dia kembali. “Tiketnya sudah terjual,” ucapnya dalam Bahasa Inggris patah-patah.

Kira-kira satu jam, kami bertemu lagi. Dia lagi-lagi menawarkan tiket. “Masih cari tiket? tanyanya. “Iya,” jawab saya, seraya melanjutkan, “tetapi yang maksimal harganya 200 dolar.” Dia kemudian mengeluarkan tiketnya dan saya membayar dengan 200 dolar. Harga asli tiket itu sebenarnya adalah 150 euro atau kalau dikurskan ke dalam dolar Amerika Serikat, kira-kira hampir 200 dolar juga.

Masuk Stadion

Begitu mendapat tiket, saya langsung berdesakan dengan ribuan orang lain yang berebutan masuk ke stadion. Pemeriksaan dilakukan dua lapis. Pertama hanya periksa tiket. Begitu bisa tembus desakan manusia yang begitu banyak dengan bau bir yang menyengat, pada periksaan lapis kedua, tas digeledah. Seluruh isinya dikeluarkan. Setelah diperiksa, ternyata tas juga tidak boleh dibawa ke dalam stadion. Terpaksa harus dititip di loket yang sudah disediakan dan harus mundur.

Padahal isi tas saya banyak. Selain laptop, ada uang, kamera, dan beberapa buku panduan Kota Warsawa. Setelah dijamin aman, saya mengeluarkan kamera karena dibolehkan bawa kamera ke dalam stadion, lalu tas saya tukar dengan kartu penitipan. Setelah semua beres, baru saya antri lagi untuk pemeriksaan, sebelum akhirnya lenggang kangkung ke dalam stadion.

Saya masuk ke stadion itu sebenarnya dengan sedikit tergesa-gesa, karena akibat antri dan pemeriksaan yang cukup lama, pertandingan sudah siap dimulai. Seketika itu juga saya menyaksikan keindahan dan kemegahan serta nyaman. Begitu masuk suasana sudah riuh. Seluruh kursi terisi penuh. Saya harus dengan susah payah mencari tempat duduk yang tertera dalam tiket. Jalur kursi saya sebenarnya sudah berhasil ditemukan, tetapi ternyata dia berada pada nomor tiga dari ujung sana dan untuk sampai ke sana harus melewati sekian banyak orang yang sudah duduk manis di kursinya.

Karena takut mengganggu yang lain, petugas di situ meminta saya untuk keluar lagi dan masuk dari lorong sebelahnya agar lebih mudah sampai di kursi yang saya tuju dan memang masih kosong. Begitu sampai di kursi itu, saya langsung duduk. Saya terkagum-kagum dengan stadion itu. Saya pun memotretnya mencoba membagikannya kepada Anda melalui foto-foto pada tulisan ini.

Belum lama saya duduk, pertandingan segera akan dimulai. Saya bisa dengan jelas menyaksikan para pemain Italia dan Jerman memasuki ke lapangan Stadion Nasional Warsawa. Seorang pria di samping saya mengecat wajahnya dengan bendera Jerman. Tampak jelas dia adalah pendukung Jerman. Beberapa kali dia meneriaki pemain Jerman yang gagal mengumpan atau kehilangan bola dengan sebutan bebek.

Ketika Jerman kalah 1-2 dari Italia, pria itu terdiam. Tak banyak bicara. Tetapi juga tidak marah-marah karena kekalahan tim yang didukungnya. Saya lalu membayangkan wajah sekelompok pendukung Jerman yang saya temui tadi di Fan Zone yang begitu optimistis bisa mengalahkan Italia dan siap melawan Spanyol di final. Mereka pasti sedih seperti pria di samping saya ini. Mereka pasti meneteskan air mata.

Saya pun kemudian meninggalkan stadion itu dengan suka cita, bukan karena Italia menang. Kembali ke jalan darimana saya masuk, mengambil tas di tempat penitipan dan berjalan kaki bersama ribuan orang ke Fan Zone karena jalur ke stadion ditutup untuk seluruh kendaraan.

Dari Fan Zone saya mengambil bis dan terpaksa menunggu sangat lama sebelum akhirnya mendapat bis malam ke Mangalia 3, alamat hotel tempat saya menginap. Sesampai di hotel, saya menulis berita dan memilih gambar untuk dikirim ke Jakarta. Saya baru tidur ketika jam 03.00 dini pada Sabtu, 30 Juni 2012. Padahal siang itu juga saya harus tinggalkan Warsawa untuk kembali ke Jakarta.

Ternyata stadion yang indah dan megah itu juga punya kekurangan. Ketika hujan lebat, air tergenang yang menyebabkan laga kualifikasi Piala Dunia antara Polandia dan Inggris harus tertunda. (Alex Madji)

Foto-foto diambil oleh Alex Madji

1 COMMENT

LEAVE A REPLY