Home Inspirasi Sukses di Dunia Penerbitan

Sukses di Dunia Penerbitan

1148
1
SHARE
Mikhael Ambon dan Louis Sudirman, pendiri Fidei Press

Usaha Penerbit Fidei Press berawal dari sebuah kamar kos di Jalan Tanjung Lengkong, Bidara Cina, kawasan Otista, Jakarta Timur. Modal awalnya pun hanya Rp 3 juta yang disawer dari tiga orang pendirinya. Dimulai sebagai sebuah pekerjaan sampingan, kini menjadi sebuah perusahaan yang menghidupi 15 orang karyawan tetap, seorang karyawan tidak tetap, plus dua orang pendiri berserta keluarganya.

Fidei Press digagas oleh Louis Sudirman, William David, dan Mikhael Ambon. Dua nama pertama, tadinya adalah editor di Penerbit Buku Obor. Sedangkan Mikhael Ambon adalah pegawai di Marian Center sekaligus seorang sales buku, mitra Penerbit Kanisius di Jakarta.  Ketiganya adalah mantan frater.

Sabtu, 28 September 2013 lalu, saya menjumpai Mikhael Ambon di ruang kerjanya di Kantor Fidei Press di Jalan Tanjung Lengkong No 25, RT/RW 06/07, Kelurahan Bidara Cina, Jakarta Timur. Kemudian, Selasa 1 Oktober 2013, saya menjumpai Louis Sudirman di tempat yang sama. Mereka berbagi cerita tentang suka duka membangun dan membesarkan usaha ini.

Louis Sudirman bercerita, usaha ini digagas oleh dirinya dan William David pada awal 2003. Mereka kemudian menggaet Mikhael Ambon sebagai tenaga pemasaran karena dia memiliki relasi di hampir semua toko buku paroki di Keuskupan Agung Jakarta dan menguasai pasar buku rohani Katolik di wilayah ini. “Pertemuan awal membahas gagasan ini dilakukan di Atrium Senen,” ujar Louis mengenang.

Menurutnya, keinginan membuat penerbitan sendiri dilatari oleh ketidakpuasan mereka atas kondisi di Penerbit Obor ketika itu. Bayangkan, hingga 2005, sebelum keluar, sebagai editor, Louis Sudirman hanya digaji Rp 1,7 sampai Rp 1,8 juta. Sedangkan William David yang berposisi sebagai pemimpin redaksi hanya diupah sekitar Rp 2,5 juta.

Sementara Mikhael Ambon mengaku digaji Rp 1,5 juta per bulan dari Marian Center. Hidup dengan gaji seperti itu di Jakarta, sejak keluar frater dari Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere pada 1992, tentu tidak cukup. Lalu mantan frater projo Keuskupan Ruteng ini memilih menjadi sales buku Penerbit Kanisius. Pendapatan sampingan dari profesi seperti ini rata-rata Rp 1,5 juta per bulan. Tetapi pada 2002, dia berhenti menjadi mitra Penerbit Kanisius, karena pindah kerja ke Lembaga Kursus Bahasa Inggris ELP.

Kondisi ini mendorong mereka untuk segera memulai mencari penghasilan tambahan dengan menerbitkan buku. Dalam pertemuan di Atrium itu, nama sudah diperoleh. Mereka pun percaya, sebuah usaha tidak harus dimulai dengan modal besar. Satu-satunya modal yang mutlak perlu adalah keberanian dan kerja keras. “Modal awalnya adalah kerja keras. Kerja, kerja, dan kerja. Sedangkan hasil hanyalah buah dari perjuangan dan kerja keras itu,” tutur Mikhael.

Meski demikian, mereka tetap mengumpulkan dana yang mereka punyai sebagai modal awal. Dalam pertemuan di Atrium Senen itu disepakati bahwa masing-masing mengumpulkan Rp 2 juta per orang guna memulai usaha tersebut. Tetapi kemudian yang ikut saweran hanya Louis dan Mikhael. Bermodalkan dana Rp 4 juta ini mereka menerbitkan buku pertama berjudul “Santo Rafael Malaikat Agung” pada 2003. Biaya cetak buku ini hanya Rp 3 juta.

Sambil buku ini naik cetak, mereka juga mempersiapkan tiga buku berikutnya. Untuk itu, Louis harus berhutang kepada temannya sebesar Rp 2 juta ditambah dana dari Mikhael Ambon sebesar Rp 3 juta untuk menerbitkan buku berikutnya. “Kami tidak bisa menunggu hasil penjualan buku pertama untuk menerbitkan buku berikutnya,” jelas Louis.

Syahdan. Ternyata sambutan publik terhadap buku pertama itu luar biasa. Buku kecil setebal 56 halaman ini langsung menjadi “best seller”. Hingga kini, buku itu sudah dicetak ulang berkali-kali dan oplahnya sudah lebih dari 50.000 eksemplar. Dijual dengan harga Rp 8.000 – Rp 10.000 per eksemplar, cetakan pertama buku ini menghasilkan dana sebesar Rp 24 juta.

Hasil penjualan ini, sama sekali tidak dinikmati sesen pun oleh Louis, Mikhael, dan William. Dananya dipakai untuk menerbitkan buku-buku lainnya dan menggaji satu orang karyawan. “Kami membiarkan dana penjualan buku ini beranak pianak sendiri dan melahirkan buku-buku lainnya,” cerita Mikhael, ayah dua anak itu.

Kerja Keras
Kemudian, mereka menerbitkan tiga buku berikutnya yaitu “Keajaiban Nama Yesus”, “Doa Harian Ibu Teresa”, dan “Doa Favorit”. Ketiga buku itu semuanya dikerjakan Louis Sudirman sambil menyelesaikan pekerjaan kantornya. “Jadi dia lebih banyak menghabiskan waktu malam hari untuk menyelesaikan buku-buku ini,” tutur Mikhael tentang rekannya itu. Bahkan Lois sendiri mengaku, buku “Doa Harian Ibu Teresa” dikebut selama dua minggu karena sudah harus terbit sebelum kanonisasi ibu kaum papa dari Kalkuta, India tersebut.

Sambutan pasar terhadap buku-buku ini juga luar biasa. Semuanya menjadi buku laris di pasar. Bahkan, buku-buku awal ini masih terus dicetak kembali sampai sekarang. Hasil dari buku-buku inilah yang kemudian melahirkan buku-buku berikutnya dan melahirkan Fidei Press sebagai lembaga berbadan hukum dalam bentuk Perseroan Terbatas pada 2004.

Sejak itu, Fidei Press terus bertumbuh. Menurut Louis, sekarang mereka memiliki 14 karyawan tetap, seorang karyawan tidak tetap dengan gaji di atas Rp 2,2 juta, tergantung posisi dan masa kerja. Ditambah dua orang pendiri, total personil Fidei Press menjadi 17 orang. Dia berjanji awal tahun depan, gaji karyawannya akan mengalami kenaikan. “Saya akui gaji mereka masih kecil. Tetapi saya selalu mengajak, kalau ingin kesejahteraan terus meningkat, mari kita kerja keras,” ungkapnya.

Saat ditanya tentang omset per tahun, Louis yang kini menjabat sebagai direktur belum bisa mengungkapkan. Pasalnya, dia baru duduk pada posisi itu dalam sembilan bulan terakhir menggantikan William David yang terpaksa meninggalkan Fidei Press karena mengalami masalah. Lagi pula, laporan keuangan baru akan ketahuan pada Desember mendatang. Tetapi dia menginformasikan, dari buku pelajaran saja, mereka bisa meraup Rp 1 miliar. Dia juga membocorkan bawah peredaran uang di perusahaannya dalam hampir setahun ini sudah mencapai Rp 2 miliar.

Meski sudah sukses, Louis dan Mikhael masih merendah. Mereka bertekad untuk terus bekerja keras agar Fidei Press menjadi semakin besar. Karena ini adalah kunci dasar. Untuk itu keduanya menanamkan prinsip kerja keras ini kepada karyawannya. “Mental kerja itu harus ada. Jangan hanya datang untuk memenuhi jam kerja, lalu pulang, dan menunggu gaji di akhir bulan. Harus tahu apa yang harus saya kerjakan untuk kemajuan perusahaan,” pesannya.

Pesan ini juga bisa menjadi inspirasi bagi yang lain. Membangun usaha baru tidak butuh modal besar. Yang paling utama adalah keberanian, kemauan untuk kerja keras, dan ketekunan. “Uang bisa kita pinjam dari mana-mana. Yang terpenting kita mau bekerja keras. Jangan menikmati hidup sebelum waktunya. Pada saatnya kita akan menikmati hidup, ketika kerja keras kita sudah membuahkan hasil,” ucap Louis menutup perbincangan lebih dari jam itu. (Alex Madji)