Home Inspirasi Surat untuk Ende

Surat untuk Ende

640
4
SHARE


Ende, maaf, saya baru menulis untukmu. Kemarin, Kamis 22 Desember 2011 adalah hari ibu. Tetapi saya tidak sempat menulis surat pada hari istimewa itu. Baru hari ini, Jumat, 23 Desember 2011, saya menguntai kata buatmu. Tetapi keterlambatan itu sama sekali tidak mengurangi hormat dan cintaku kepadamu.

Aku teringat kasih dan cintamu yang sudah tercurah. Kulitmu legam terbakar matahari karena berjemur berjam-jam di sawah dan ladang hanya untuk menghidupi kami bertujuh. Pulang dari kebun, engkau tidak pernah melenggang dengan tangan kosong. Selalu dengan keranjang berisi singkong, talas, ubi, atau pisang. Belum lagi kayu bakar di atas kepala.

Ketika tiga bidang kebun kita masih dianami padi, engkau rela memanen seorang diri. Kalaupun ajak orang, hanya satu dua orang kerabat. Entah untuk hemat, aku tak tahu karena ketika itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Sore harinya, engkau memikul padi itu dalam keranjang berisi penuh. Beratnya tidak kurang dari 20-30 kilo gram. Saya hanya bisa mengikutimu dari belakang. Bahkan tidak jarang membuatmu marah dan menambah bebanmu karena masih merengek.

Ketika sawah-sawah kita itu kemudian menjelma menjadi kebun kopi pada 1980-an, punggungmu yang sama bagaikan kuda beban yang mengangkut bulir-bulir kopi berkilo-kilo dalam keranjang. Jalan yang dilalui pun terjal. Peluh bercucur deras, sebelum sampai di rumah kita yang sangat sederhana, sebuah rumah yang dihuni delapan keluarga.

Kadang engkau ke kebun tanpa sarapan memadai. Makan siang pun sering lalai. Engkau baru pulang ketika senja menjelang.

Ende, masih terekam jelas dalam memoriku, ketika hari-hari pada bulan Desember seperti ini, kita makan malam hanya dengan jagung, singkong, dan pisang rebus. Nasi seolah jauh dari kita. Beras ketika itu menjadi barang yang sangat langka dan mahal. Rupiah pun tak punya untuk membelinya pada mereka yang menjual.

Tidak jarang kami menatap tetangga yang makan nasi pada malam hari dengan mata nanar. Apalagi pake lauk. Ikan goreng pula. Tetapi kami tidak pernah membencimu karena tidak memberi kami nasi dan ikan goreng.

Kami tahu, yang Ende punya hanya jagung, singkong, talas, dan pisang. Dan, dengan senang hati kami menikmati itu dalam kehangatan cintamu. Meskipun terkadang kami juga ingin makan nasi dan ikan goreng seperti tetangga sebelah dan terpaksa hanya menelan liur.

Hasil dari kebun kopi yang Ende tanam pun belum pernah dinikmati sendiri hingga saat ini. Tidak pernah hasil kopi itu Ende gunakan untuk sekedar membeli baju bagus atau makan enak. Ende rela tetap makan singkong, jagung, dan talas. Ende juga rela pakai pakaian compang camping demi kami anak-anakmu. Jarang pakai alas kaki. Sandal jepit paling sederhana sekalipun. Bagimu yang utama adalah kami bisa mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah terbaik di daerah kita. Hasil kebun kopi itu dijual untuk uang sekolah dan asrama kami.

Ende, mengenang engkau, saya pernah menangis tersedu-sedu di atas sepeda motor di jalanan Jakarta yang hiruk pikuk ini karena mendengar engkau sakit. Hatiku teriris mendengar engkau terbaring lemah. Seketika itu juga saya lari ke bank terdekat untuk sekedar mengirim uang perawatan di rumah sakit. Tidak seberapa besarnya. Beruntunglah beberapa hari kemudian engkau pulih.

Setelah beberapa anakmu tinggal jauh, engkau selalu kangen. Terkadang engkau menangis mengingat kami. Tak jarang engkau protes karena kami tidak memanggilmu dalam telepon selama beberapa hari. Semua itu menunjukkan cintamu yang luar biasa dan tidak pernah luntur, meski kami belum berbuat apa-apa untukmu.

Ende hanya doa yang bisa kupinta pada hari yang sangat indah ini. Semoga engkau selalu sehat dan dianugerahi umur yang panjang. Semoga kami bisa membahagiakanmu di hari tuamu. Salam sayang dari anak sulungmu. (Alex Madji)

Catatan: Ende adalah kosa kata Bahasa Manggarai, NTT untuk Ibu, mama/mami dan sebutan sejenis itu.