Home Umum Terkadang Haters Dibutuhkan

Terkadang Haters Dibutuhkan

637
0
SHARE
Foto Ilustrasi diambil dari YouTube

Dua kata yang paling populer hingga saat ini sejak pemilu Presiden 2014 adalah haters dan lovers. Haters adalah sebutan yang ditujukan untuk kelompok anti Joko Widodo (Jokowi) yang terpilih pada Pilpres 2014, sedangkan lovers sebaliknya. Di mata para haters, semua kebijakan, bahkan tindak tanduk, Jokowi tidak ada yang benar. Kelompok haters sering disebut sebagai orang-orang yang gagal move on. Tidak mau maju.

Kelompok yang gagal move on ini sekaligus penentang Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Maklum, Ahok adalah mantan Wakil Jokowi di DKI Jakarta sebelum naik pangkat menjadi gubernur menyusul Jokowi terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia dua tahun silam. Mereka menentang apa pun yang dibuat Ahok. Sama seperti menentang apa pun yang dibuat Jokowi. Maklum, keduanya adalah satu paket.

Bagi haters, semua yang dilakukan Ahok tidak ada yang benar. Sampai-sampai, sungai-sungai bersih hasil kerja Ahok di Jakarta disangkal dan dianggap sebagai kerja Fauzi Bowo alias Foke. Ada juga politisi dari kubu haters ini menilai, Ahok tidak punya prestasi selama memimpin DKI Jakarta. Simak saja pernyataan Fadli Zon seperti ditulis dalam berita ini. (http://nasional.kompas.com/read/2016/10/11/16080411/tanggapi.megawati.soal.bukti.kerja.fadli.zon.sebut.prestasi.ahok.cuma.menggusur)

Kebencian terhadap Ahok semakin menggila ketika ia bersama Djarot Saiful Hidayat akan maju lagi pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 menantang Anies Baswedan/Sandiaga Uno dan Agus Yudhoyono/Sylviana Murni. Jangankan kebijakan, keseleo lidah pun jadi masalah besar untuk Ahok. Haters mem-blow up-nya habis-habisan.

Ironisnya, mereka bangga dan senang disebut haters. Padahal dalam Bahasa Indonesia, haters berarti para pembenci. Kata dasarnya benci. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat Departemen Pendidikan Nasional 2008, benci berarti sangat tidak suka. Membenci berarti merasa sangat tidak suka (tidak menyenangi).

Saya kemudian coba memasukkan kata benda “kebencian” di Mbah Google. Lalu Wikipedia menulis begini tentang kata tersebut: Kebencian merupakan emosi yang sangat kuat dan melambangkan ketidaksukaan, permusuhan, atau antipati untuk seseorang, sebuah hal, barang, atau fenomena. Hal ini juga merupakan sebuah keinginan untuk, menghindari, menghancurkan atau menghilangkannya. Kadangkala kebencian dideskripsikan sebagai lawan daripada cinta atau persahabatan; tetapi banyak orang yang menganggap bahwa lawan daripada cinta adalah ketidakpedulian.

Pembeci selalu diasosiasikan sebagai orang yang tidak baik. Bahkan sebagai orang jahat. Mereka juga menjadi orang yang tidak objektif dalam melihat sesuatu. Perbuatan baik saja dianggap jelek, apalagi perbuatan jelek. Mereka lalu menjadi orang yang asal menidak.

Orang yang sudah didasari kebencian tidak memandang sesuatu dengan mata hati. Lebih buruk lagi, hati nurani mereka sudah tertutup oleh kebencian yang begitu dominan. Suara hati jadi tumpul. Karena kebencian, orang yang berbuat baik pun dinilai salah. Apalagi kalau berbuat salah, pastilah dicap sebagai penjahat orang itu. Sebaliknya, orang jahat dianggap baik di mata mereka. Dibolak balik.

Selain itu, kelompok ini selalu menularkan/menyebarkan energi negatif dan memiliki sifat destruktif pada dirinya. Artinya, sikap benci yang menggumpal memiliki daya rusak yang dahsyat baik untuk diri sendiri maupun orang lain, bila sudah menjelma menjadi tindakan nyata. Bila sudah sampai tahap ini, maka situasi chaos sangat gampang tercipta.

Sebaliknya para pendukung Jokowi dan Ahok selama ini disebut sebagai lovers. Kelompok inilah yang terus membela kebijakan-kebijakan Jokowi dan Ahok di media sosial. Lini masa media sosial dipenuhi oleh sharing (bagi-bagi) berita, status, dan pernyataan mereka. Semua tentang yang baik untuk Jokowi dan Ahok.

Tapi, kelompok ini umumnya lebih rasional. Mereka tidak asal menidak. Selalu objektif menilai sesuatu. Mereka tidak membabi buta, tapi penuh pertimbangan dalam menilai sesuatu. Mereka akan mengkritik Jokowi dan Ahok bila kebijakan keduanya salah dan bekerja buruk. Tapi karena dasarnya kasih sayang, orang-orang seperti ini selalu menyebarkan energi dan aura positif.

Nah terkait haters ini, pemain terbaik dunia Cristiano Ronaldo yang merumput di Real Madrid pernah mengungkapkan bahwa ia butuh haters agar ia tetap tampil bagus di atas lapangan. Para haters, kata Ronaldo, akan terus memotivasinya dalam bermain. Sebab ia tidak ingin menjadi seperti pemain atau mantan pemain lain. Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri. Haters-lah yang mendorongnya untuk tetap menjadi yang terbaik

Nah, seperti Ronaldo, Jokowi dan Ahok mungkin juga tetap butuh para haters ini. Sebab kritik mereka akan tetap membuat keduanya melakukan yang terbaik untuk rakyat Indonesia pada umumnya dan DKI Jakarta khususnya. (Alex Madji)