Home Inspirasi Terserang Bell’s Palsy

Terserang Bell’s Palsy

519
2
SHARE

Kalimat Dr Willy di Ladogi Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo, Senin 24 Oktober 2011 sore bagai petir di siang bolong. Saya diduga mengidap penyakit Bell’s Pasy. Dugaan itu cukup mengagetkan saya. Bahkan istri saya syok dan cepat-cepat keluar ruangan pemeriksaan gigi. Kegembiraan setelah wisuda Feus sesaat sebelumnya bagai sirna.

Sebelum ke situ, kami ke klinik Doctors&Dentist di Pasar Palmerah, Jakarta Barat. Tapi resepsionis di sana mengatakan bahwa di tempat itu tidak bisa lagi bedah mulut. Bedah mulut dilakukan di RSCM, karena dokter bedah mulutnya praktek di sana dan terlalu jauh datang dari Depok ke Pasar Palmerah.

Beberapa hari ini, saya merasakan perih pada mata sebelah kanan disertai pusing pada kepala sebelah kanan. Mulai Senin, 24 Oktober 2011 pagi, saya merasakan sesuatu yang aneh pada mulut saya. Setiap buang ludah, saya merasa mulut miring ke kiri. Sudah itu, saat kumur, air yang ditekan di dalam mulut keluar ke bagian bibir kiri. Padahal, biasanya, air yang ditekan dan digerak-gerakan di dalam mulut tidak bocor setes pun.

Kemudian, saya merasakan sakit pada bagian belakang telinga dan kini saya tidak bisa bersiul lagi. Selain itu, sejak beberapa hari sebelumnya, ujung lidah saya bagai mati rasa. Nasi goreng yang dibikin Nanik, pembantu kami di rumah, tidak berasa.

Saya mengira, gejala-gejala itu disebabkan oleh gerakan gigi bungsu yang menabrak kakak-kakaknya dan saraf-saraf mata dan sekitarnya terjepit.

Bulan Mei 2011, saya pernah mengalami sakit tak terkira pada rahang kanan. Lalu saya ke klinik Doctors&Clinic di Palmerah Barat. Sampai di sana, saya disuruh foto rontgen gigi. Setelah foto, saya kembali ke sana dan dijadwalkan operasi mulut. Tetapi, bedah mulut saya batalkan karena keesokan harinya, tiba-tiba rasa sakit itu hilang.

Ketika gejala-gejala yang saya sebutkan di atas tadi muncul, saya mengira itu karena gigi bungsu. Maka kali ini saya yang didesak sama istri memutuskan untuk melakukan bedah mulut.

Tetapi betapa kagetnya saya ketika Dr Willy di Ladogi mengatakan, “Kemungkinan Anda terkena Bell’s Pasy. Tapi bukan sesuatu penyakit yang terlalu serius. Saya anjurkan Anda ke Neurolog,” ujarnya.

Menurut dia, keluhan-keluhan saya bukan karena gigi bungsu. Sebab berdasarkan foto rontgen yang saya bawa, gigi bungsu saya masih berada di bawah rahang semuanya. Dia pun menyarankan saya ke neurolog. Dia membaut pengantar dalam secarik kertas dan baru diamplopkan di kasir. Jasa dokter itu kami bayar Rp 75.000.

Sesampai di rumah, kami telusurui jenis penyakit ini di Mbah Google. Gejala yang saya alami, berdasarkan artikel-artikel itu, betul-betul memastikan bahwa saya terkena Bell’s Pasy.

Keesokan harinya, Selasa 25 Oktober 2011, kami ke neurolog di Siloam Hospital Lippo Karawaci. Kami bertemu Dokter Yusak Siahaan. Ketika konsultasi ke dia, sang dokter memastikan bahwa saya terkena Bell’s Pasy. Menurut dia, penyakit ini disebabkan oleh terpaan angin pada wajah baik air conditioner maupun kipas angin.

Tetapi dia buru-buru menegaskan bahwa penyakit itu tidak berbahaya. Sebab dia bukan stroke. Kalau stroke yang diserang adalah pusat syarat yaitu otak. Sedangkan ini hanya syaraf di bawah telinga yang terganggu. Sehingga tekanan darah tidak sampai dahi, mata, dan mulut. Akibatnya, dahi tidak bisa mengernyit, mata tida bisa berkedip dan mulut monyong. Dia menganalogikan penyakit ini seperti jaringan listrik. Bell’s Pasy dianalogkan dengan kerusakan listrik di rumah, sedangkan jaringan dari pusatnya (PLN) alias otak masih normal. Karena itu dia bilang, jangan takut.

Dia malah ketawa ketika saya disuruh monyong karena mulut saya miring dan tidak enak dilihat. Dia menguatkan saya bahwa penyakit ini bisa sembuh total tanpa obat sekalipun, terutama dalam usia-usia seperti saya dan bisa pulih dalam tempo maksimal dua bulan. Meski demikian dia menyarankan saya minum obat, terutama vitamin dan anti radang. Anti radang untuk menghentikan peradangan yang terjadi pada saraf di bawah telinga. Sedangkan vitamin untuk memulihkan kembali saraf yang tidak berfungsi itu.

Selain itu dia mengusulkan untuk melakukan terapi di rumah sakit terdekat dengan rumah. Dia menulis pengantar untuk rumah sakit terdekat. Tetapi kami akhirnya memilih terapi di Siloam Hospital Karawaci mulai Sabtu, 29 Oktober 2011. Maka surat itu dititipkan di fisioterapi rumah sakit itu. Yah semoga cepat sembuh. (Alex Madji)