Tips Memulai Usaha

Tips Memulai Usaha

440
SHARE
Direktur Fidei Press Louis Sudirman
Direktur Fidei Press Louis Sudirman
Direktur Fidei Press Louis Sudirman
Mikael Ambong-1
Komisaris PT Fidei Press, Mikhael Ambon

Selasa siang, 1 Oktober 2013, sangat panas. Mengendarai motor dalam kondisi itu plus kemacetan membuat tubuh bermandi peluh. Dalam kondisi demikian, saya memasuki sebuah rumah di Jalan Tanjung Lengkong No 5 RT/RW 06/07, Kelurahan Bidara Cina, Otista, Jakarta Timur. Letaknya, di dalam gang sempit, persis di belakang kantor Kelurahan Bidara Cina yang sedang dibangun.

Meski terletak di gang, siapa sangka ini adalah kantor sebuah perusahaan penerbitan dengan 15 orang karyawan tetap, bernama Fidei Press. Siang itu, saya berjumpa dengan komisaris dan direktur yang sama-sama mendirikan Fidei Press, Mikhael Ambon dan Louis Sudirman. Sebagai sebuah kantor penerbitan, rumah itu penuh dengan tumpukan buku. Saking banyaknya, tumpukan buku itu sampai membentur langit-langit.

Mereka mulai berkantor di rumah dua lantai ini sejak awal 2005 atau setelah Fidei Press memiliki badan hukum pada 2004. Tahun-tahun awal, rumah ini dikontrak Rp 9 juta per tahun. Tetapi sekarang mereka harus membayar Rp 15 juta per tahun. Meski sangat sederhana, tetapi justru dari situlah lahir buku-buku kecil yang laris manis bak kacang goreng di pasaran.

Di kamar depan lantai bawah rumah tersebut yang disesaki dua meja kerja untuk Mikhael dan Louis, keduanya berbagi cerita dan kata-kata motivasional. Dengan bertahan di rumah pada gang sempit itu, Mikhael dan Louis mau mengisahkan bahwa sebuah usaha tidak harus dimulai di tempat yang bagus. Yang terpenting ada kemauan, ketekunan, dan kerja keras. Dilakukan di mana saja, asal dengan keuletan dan kerja keras, niscaya sebuah usaha itu akan berhasil.

Louis Sudirman bukan tidak menginginkan sebuah kantor yang bagus. Tetapi untuk saat ini, mereka memprioritaskan kerja keras. Sebab hanya dengan begitu mereka bisa mendapat pemasukan yang besar. Bila uang mencukupi, gaji karyawan bisa dinaikkan dan sebuah kantor yang ideal bisa terwujud. “Kami belum mau pindah karena tempat ini sangat bersejarah. Tetapi kalau nanti mendapat keuntungan lebih besar, suatu saat akan cari sebuah tempat yang lebih baik,” kata Mikhael Ambon.

Kata-kata motivasional lain yang meluncur dari mulut Louis dan Mikhael siang itu adalah bahwa berusahalah pada bidang-bidang yang kita kuasai. Ini akan sangat mempermudah. Yang dibutuhkan tinggal keberanian untuk segera memulai dan tidak boleh menunda-nunda.

Louis dan Mikhael sepakat, memulai usaha jangan langsung memikirkan hal-hal yang rumit.  Berpikirlah tentang hal-hal yang sederhana. Tetapi kadang, orang langsung berpikir besar, dan melupakan hal-hal yang kecil dan sederhana. Sehubungan dengan itu, mereka berprinsip memulai usaha tidak boleh langsung berpikir menjadi kaya. Bagi Mikhael dan Louis membangun usaha ini bukan untuk menumpuk kekayaan bagi diri sendiri. Bila itu yang lakukan, cepat atau lambat sebuah usaha pasti hancur. Sebab kita hanya akan berpikir tentang jumlah uang yang akan didapatkan.

Apalagi kalau usaha itu sudah berjalan dan memiliki karyawan. Pada tahap ini, yang harus dipikirkan adalah karyawannya. “Anak-anak tidak boleh menjadi korban. Saya yang harus berkorban karena kita harus ingat periuk nasi mereka,” tutur lulusan Seminari Menengah Pius XII Kisol itu. Mikhael menambahkan, “Lebih baik mereka terus ceria dan dapat makan dan kami tidak.”

Karena itu, ketika tahun lalu Fidei Press mengalami guncangan keuangan yang sangat hebat, Louis pun sudah siap untuk menggadaikan mobil pribadinya hanya untuk membayar gaji karyawannya. Mikhael pun bersedia gajinya dipotong demi anak buah. “Saya sudah siapkan seluruh persyaratannya. Tetapi kemudian batal karena ternyata masih bisa diatasi. Pak Mikhael pun bersedia gajinya di potong, tetapi saya bilang tidak usah dulu. saya saja dulu,” cerita Louis.

Tips lain yang meluncur dari Mikhael siang itu adalah bahwa bila kita membangun usaha dengan bermitra bersama orang lain, maka kita harus memikirkan mitra kita. Jangan memikirkan diri sendiri. “Ketika saya memikirkan Pak Louis, maka Pak Louis pasti memikirkan saya. Tetapi kalau saya hanya memikirkan diri sendiri, begitu juga Pak Louis, maka siap-siaplah kita akan hancur,” tutur Mikhael.

Itulah nilai yang dijalan keduanya selama hampir 10 tahun Fidei Press berjalan. Keduanya sedang mempersiapkan alih kepemimpinan. Harapannya, suatu saat, Fidei Press ditangani oleh tenaga-tenaga profesional yang sedang persiapkan ini, sedangkan mereka cukup memantau dari luar dan memikirkan hal lain. Sesekali, keduanya akan datang hanya untuk memberi masukan.

Tetapi semua ini dicapai tidak segampang membalik telapak tangan. Apa yang mereka nikmati saat ini adalah buah dari keberanian memulai, kerja keras, bekerja hingga larut malam, bahkan tidak tidur semalaman serta kecintaan pada pekerjaan yang mereka geluti. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY