Home Inspirasi Tips Sukses “Bebek Goreng Haji Yogi”

Tips Sukses “Bebek Goreng Haji Yogi”

2709
0
SHARE

Siapa yang tidak kenal dengan rumah makan Bebek Yogi atau yang sekarang terkenal dengan nama Bebek Goreng Haji Yogi? Saking terkenalnya, Ciputraentrepreneurship.com mengklaim “Bebek Goreng Haji Yogi” sebagai pelopor dan rumah makan bebek terdepan di Jakarta. Tetapi kesuksesan itu tidak diraih dengan mudah. Setelah melewati jalan berliku-luku, rumah makan “Bebek Yogi” akhirnya menuai sukses.

Rumah makan “Bebek Goreng Haji Yogi” didirikan Yogi Tjahjono, seorang pria kelahiran Jakarta dan wartawan sebuah televisi swasta bersama istrinya Ati pada 2006. Mereka sempat merugi selama dua bulan sejak dibuka, tetapi kemudian mereka meraih sukses hingga saat ini. Gerai “Bebek Goreng Haji Yogi” bertebaran di mana-mana, terutama di sejumlah mal di kawasan Jabodetabek.

Nah, apa yang membuat Yogi sukses dengan usaha rumah makannya? Berikut saya bagikan tips sukses pria kelahiran 34 tahun silam itu.

Pertama, Mencari tempat jualan yang strategis. Yogi termasuk orang yang tidak mudah menemukan tempat jualan yang strategis. Dia butuh waktu satu tahun untuk mencari tempat favorit. Sebenarnya, Yogi dan istrinya, sempat berjualan di emperan toko di kawasan Blok M, tetapi mereka harus terusir karena penjual makanan sebelum mereka di situ tidak mengijinkan Yogi dan istrinya berjualan di sana. Padahal, pemilik toko tidak berkeberatan.

Tempat jualan akhirnya ditemukan secara tidak sengaja di Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Persisnya di Jalan Panjang. Kalau dari arah Daan Mogot, posisinya di sebelah kiri jalan persis setelah pertigaan Kebun Jeruk. Atau kalau dari arah Pondok Indah, letaknya di sebelah kanan jalan. Itupun ditemukan secara kebetulan. Ketika Yogi servis motor di sebuah show room motor di sana dia iseng mengutarakan keinginannya untuk buka warung makan di di samping show room motor itu. Si pemilik bengkel pun tidak berkeberatan. Lantas dia mulai berjualan di sana, mula-mula menggunakan mobil box jelek.

Kedua, setelah tempat ditemukan, maka tugas berat berikutnya adalah meramu masakan bebek yang enak dan lezat di lidah. Dia pilih bebek karena pada 2006 itu rumah makan ayam sudah bertebaran di mana-mana dan konsumen sudah jenuh dengan masakan ayam. Maka dia mulai dengan sesuatu yang baru yaitu bebek. Tetapi jenis unggas yang satu ini terkenal dengan alot dan bau amis. Yogi bersama istrinya yang memang doyan bebek mencari ramuan untuk mengatasi dua hal ini. Setelah ditemukan, maka dihasilkanlah masalah bebek goreng dan bebek bakar yang lezat dan memanjakan lidah, tidak alot dan bebas dari bau amis.

Meski enak, ternyata menjualnya tidak mudah. Bayangkan, hari pertama mereka berjualan, dari 20 ekor bebek yang dibawa, Yogi dan Ati hanya mengantongi pendapatan Rp 270 ribu. Keduanya tidak membawa dalam jumlah lebih sedikit karena takut dinilai pelanggan tidak serius. Bahkan selama dua bulan, mereka terus merugi.

Ketiga, Jangan putus asa. Meski rugi, Yogi dan istrinya tidak patah arang. Masakan-masakan yang tidak terjual akhirnya dibagikan secara gratis. Cara ini pun tetap dinilai positif sebagai bagian dari pemasaran.

Keempat, strategi penjualan yang jitu. Setelah memutar otak bagaimana menjual masakannya, Yogi dan istrinya akhirnya menemukan jalan ini. Yaitu, keduanya mengundang teman-teman kantor Yogi untuk makan gratis di warung makan mereka di Kebun Jeruk itu. Syaratnya, mereka harus bawa mobil dan parkir di dekat warung makan mereka. Dengan cara ini dimaksudkan untuk menarik perhatian orang yang lewat dan membuat makin banyak orang penasaran. Sebab, ada keyakinan bahwa setiap tempat makan yang “dikerubuti” mobil maka hampir pasti masakan di tempat itu enak.

Strategi ini terbukti jitu. Satu demi satu orang datang. Dan ketika ada tamu datang, maka teman-teman kantor Yogi geser perlahan-lahan untuk memberi tempat duduk kepada tamu yang berdatangan. Makin lama, makin banyak orang yang datang ke situ dan cerita soal keenakan dan kelezatan Bebek Yogi pun tersebar dari mulut ke mulut.

Kelima, Tetap menjaga kualitas rasa dan masakan, apalagi di tengah semakin banyaknya orang terjun dalam bisnis dengan menu bebek goreng. Hanya dengan tetap menjaga kualitas ini Bebek Yogi terus dibanjiri pengunjung.

Keenam, faktor keberuntungan. Keberuntungan menjadi salah satu kunci sukses dan ada di hampir setiap bidang. Walaupun sudah mengantongi berbagai tips sukses yang tepat, tetapi tanpa faktor yang satu ini niscaya kesuksesan belum akan menghampiri. Jadi, keberuntungan atau dalam bahasa Yogi, rezeki, menjadi sangat penting.

Nah, rumah makan Bebek Yogi sudah pindah dari lokasi awal didirikan. Mereka tidak lagi berada persis di samping show room motor di dekat perempatan Kebun Jeruk, tetapi sudah agak sedikit ke depan, masih di Jalan Panjang dengan arah yang sama. Kini tempatnya lebih bagus dan mentereng dan sudah menjelma menjadi sebuah restoran papan atas. Meski sudah pindah, para pelanggannya pun tetap datang ke sana untuk menikmati enak dan lezatnya “Bebek Yogi”. (Diolah dari berbagai sumber/Alex Madji)