Home Inspirasi Untung Suroyo Merantau ke Bandung

Untung Suroyo Merantau ke Bandung

1357
0
SHARE

Ignatius Suroyo tidak pernah mengira bisa meraih penghasilan di atas Rp 300 juta per bulan seperti saat ini. Ia juga memiliki aset yang tak terhitung nilainya. Properti dalam bentuk rumah dan apartemen jumlahnya belasan, tersebar di Jabodetabek. Ia juga masih memiliki kebun karet yang siap panen di Lampung. Belum lagi porto folio di pasar uang.

Sejak kecil, Suroyo memang ingin menjadi orang sukses. Minimal  dalam bidang pendidikan. Dalam bidang ini, sejak kanak-kanak, ia ingin menjadi seorang sarjana. Dari SD hingga SMP, perjalanan pendidikannya berjalan mulus. Masalah mulai muncul setamat dari SMP Pangudi Luhur, Boro, pada 1989. Ia sangat ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah teknik mesin (STM) di kampungnya, setelah menyelesaikan SMP. Semula, orang tuanya yang bekerja sebagai petani setuju dengan keinginan putranya ini.

Tapi suatu siang, seorang sepupunya yang sama-sama baru tamat SMP datang ke rumah untuk mengajak Suryo merantau ke Bandung. Mendengar ajakan itu, orang tua Suroyo langsung mengiyakan. Tanpa pikir panjang. Alasannya, tidak punya dana untuk membiayai pendidikan Suroyo.

Mendengar keputusan orang tuanya ini, Suroyo sedih. Tapi tidak bisa berontak. Ia memilih taat pada keputusan orang tuanya dan mengiyakan ajakan sepupunya merantau ke Bandung, Jawa Barat. Ia membatin, bila bertahan tinggal di kampung, maka sudah pasti ia bertani atau berprofesi sebagai pencari kayu bakar seperti kebanyakan orang sekampungnya. Padahal, ia sangat ingin melanjutkan sekolah.

Berangkatlah Suryo kecil bersama sepupunya ke Bandung menggunakan bus dari Terminal Muntilan. Ketika itu, belum jelas benar apa yang akan dilakukan di Bandung. Betul-betul bingung. Galau. Apalagi, sangu yang diberikan orang tuanya sangat minim. Hanya Rp 45.000. Di sisi lain, Suroyo sebenarnya sedih karena harus meninggalkan kedua orang tuanya. Tapi keputusan sudah bulat. Suroyo harus berangkat. Sepanjang jalan, Suroyo terus menangis di bus, kangen sama kedua orang tuanya. Juga tidak bisa tidur.

Keesokan paginya, Juni 1989, Suroyo dan sepupunya tiba di Bandung. Sempat bingung, karena tidak tahu harus ke mana. Keduanya hanya memegang secarik kertas bertuliskan alamat rumah tante mereka. Setelah berkeliling dengan jalan kaki hampir setengah hari, akhirnya Suroyo dan sepupunya menemukan alamat rumah tersebut. Ia menumpang di sana selama dua minggu.

Selama kurun waktu itu, ia praktis menganggur. Untuk membunuh kejenuhan, ia membantu tantenya membersihkan rumah dan momong bayi berumur 1,5 tahun. Ketika tingkat kekhawatiran sampai di ubun-ubun, ia lalu mencari pekerjaan. Ia mendatangi semua toko dan pabrik yang ada di kawasan dekat rumah tantenya dengan berjalan kaki.

Dia datang dari satu pabrik ke pabrik lain, tapi berkali-kali pula ditolak karena umurnya masih terlalu kecil. 15 tahun, ketika itu. Suroyo tidak patah arang. Ia mencari dan mencari. Sampai akhirnya, ia diterima bekerja di sebuah toko kelontong yang menjajakan berbagai kebutuhan. Selama satu setengah tahun bekerja di sini, Suroyo hanya digaji Rp 17.500 per bulan. Jam kerjanya tidak terhitung. Dari jam tujuh pagi sejak toko buka, hingga malam hari saat toko ditutup. Kadang sampai tengah malam.

Untunglah, pemilik toko itu menyediakan mes untuk karyawannya. Lengkap dengan makan dan minum. Sehingga Rp 17.500 per bulan yang diterima Suroyo praktis penghasilan bersih. Ia  masih memiliki penghasilan lain dari mengisi angin bola voli. Total-total ia bisa mencatat penghasilan Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per bulan. Dari gaji sekecil ini, Suroyo kecil masih bisa menabung Rp 10.000 per bulan.  Meski digaji kecil dengan volume pekerjaan yang berat, Suroyo tetap bersyukur karena bisa mendapat pekerjaan. Ia bertahan selama 1,5 tahun bekerja di toko kelontong tersebut.

Kerja di Soverdi
Kemudian, Suroyo pindah ke Jakarta dan bekerja di Soverdi, biara para imam Societas Verbi Divini (SVD) di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur. Di sini, gajinya sedikit lebih baik, Rp 45.000 per bulan plus kamar dan makan dari pagi hingga malam. Setelah bekerja satu tahun di sini, setelah melewati proses yang panjang dan sulit, cita-cita Suroyo untuk melanjutkan sekolah akhirnya tercapai setelah rekan-rekan sekerja dan pimpinan Soverdi mengizinkannya sekolah. Syaratnya, kerja utama tidak boleh terbengkelai.

Ia mengambil kelas malam di SMA Ajidam Jaya di kawasan Gereja Katedral dan Masjid Istiglal. Ketika itu, ia membiayai sendiri sekolahnya sebesar Rp 10.000 per bulan. Sedangkan uang transpor hanya Rp 100 sekali jalan. Sebelum sekolah, ia harus kerja seperti biasa. Mulai dari menyiapkan meja makan untuk para pastor di Soverdi, membersihkan kamar, mencuci piring, hingga menerima tamu.

Meski terkesan sederhana, tapi pekerjaan ini cukup melelahkan dan menguras tenaga. Malam hari sepulang sekolah, ia juga masih harus membuka pintu untuk para misionaris yang tiba tengah malam di Soverdi. Suroyo sama sekali tidak pernah mengeluh dengan semua itu. Sebaliknya, ia menjalani dengan riang.

Di sela-sela sekolah malam, Suroyo juga mengambil kursus komputer di kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Karena biayanya cukup mahal, ia harus berani meminjam uang ke pimpinan Soverdi sebesar Rp 250.000. Ia rela gajinya dipotong untuk mencicil pinjaman tersebut. Untunglah, pimpinan Soverdi saat itu kemudian mengambil uang pribadi dan menghibahkannya untuk Suroyo.

Setelah belajar keras dan bekerja keras, Suroyo berhasil menamatkan pendidikan SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Bahkan setiap semester ia berhasil menjadi juara pertama. Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Bunda Mulia mengambil jurusan komputer. Suroyo lagi-lagi membiayai sendiri pendidikannya. Ia menyisihkan gajinya yang sebesar Rp 350.000 per bulan dari mantan pimpinan Soverdi yang pindah tugas ke kawasan Senayan, Jakarta. Ia pun lulus tepat 4 tahun, juga dengan nilai yang sangat memuaskan.

Pada semester terakhir, sambil menyelesaikan skripsi, Suroyo mencari pekerjaan dan melamar ke sebuah perusahaan asuransi. Ia diterima. Tugasnya adalah mencari nasabah. Sejak awal, ia sudah bertekad untuk selalu bertemu dengan lima orang dalam satu hari dan “closing” dua orang dalam satu pekan. Tekad ini dijalankan secara konsisten. Kerja kerasnya itu tidak sia-sia.

Agen Asuransi
Setelah tiga bulan bekerja dengan melewati berbagai rintangan, penghasilannya sudah mencapai Rp 950.000 per bulan pada 1999. Ketika penghasilannya sebesar itu, ia lalu memilih hidup mandiri dan tidak ikut mantan pimpinan Soverdi di Senayan. Beberapa bulan kemudian penghasilannya meningkat tajam menjadi Rp 3,5 juta per bulan. Dari hasil kerja ini, ia berhasil membeli sebuah rumah di Bekasi secara tunai.

Lalu, ia pindah ke perusahaan asuransi lainnya karena merasa masih bisa berkembang lebih pesat lagi. Komitmen awal yaitu bertemu dengan lima orang sehari dan “closing” dua orang dalam satu minggu konsisten dijalankan. Untuk meraih target ini tentu saja bukan hal mudah. Ia bekerja sungguh keras. Panas dan hujan tak dihiraukan. Dengan sepeda motor bututnya, ia menjelajahi seluruh wilayah Jabodetabek dari Bekasi, ketika banjir sekali pun. Bahkan tidak jarang ia berjalan kaki untuk menjumpai kliennya. Dari hasil kerja itu, pada awal 2002, ia membeli rumah keduanya di kawasan Bintaro juga secara tunai.

Ia bertekad, belum akan menikah sebelum memiliki kendaraan sendiri. Maka pada November 2002, ia berhasil membeli sebuah mobil Atoz secara tunai. Sebulan berselang, tepatnya pada 30 Desember 2002, ia menikahi gadis pujaan yang dikenal sejak masa SMA dan dipacari selama hampir delapan tahun.

Meski sudah meraih capaian seperti itu, Suroyo tidak berhenti bekerja keras. Ia terus menyusuri wilayah Jabodetabek mencari nasabah. Selain itu, ia juga merekrut orang untuk menjadi agen asuransi di tempat kerjanya. Dua pekerjaan ini dijalankan secara bersamaan.

Seiring makin banyaknya orang yang direkrut, penghasilan Suroyo meningkat drastis dari Rp 50, Rp 80, hingga Rp 100 juta per bulan. Penghasilan besar itu tidak dihabiskannya dalam sebulan. Ia berinvestasi dalam bidang properti yang tersebar di beberapa tempat di Jabodetabek. Ada yang dalam bentuk rumah, apartemen, dan perkantoran. Kalau ditotal, jumlah aset properti ini mencapai belasan unit. Belum lagi, portofolio di pasar saham dan kebun karet.

Saat ini, gaji Suroyo mencapai di atas Rp 300 juta per bulan. Seiring dengan penghasilan besar seperti itu, harta bergerak seperti kendaraannya terus bertambah dan gonta ganti. Kini ia memiliki tiga unit kendaraan roda empat dari tiga merek berbeda, termasuk mobil mewah seperti BMW seri teranyar. Jalan-jalan ke luar negeri sudah menjadi semacam rutinitas untuk Suroyo. Ini semua buah dari kerja keras selama bertahun-tahun.

Meski berpenghasilan besar, Suroyo tidak berhenti bekerja. Ia tetap mencari nasabah, meskipun tidak seperti dulu lagi. Sekarang, nasabah yang mencari dia. Dalam level seperti dia, nilai “closing” juga jauh lebih besar ketika ia berjuang pada tahun-tahun pertama menjadi agen. Selain itu, ia menjadi motivator untuk para agen dan memberi pelatihan di berbagai seminar. Tapi di atas itu semua, dengan penghasilan yang luar biasa besar tersebut, hidupnya tetap sederhana dan bersahaja. (Alex Madji)