Home Umum Utak Atik Koalisi Pilpres 2014

Utak Atik Koalisi Pilpres 2014

738
0
SHARE
Ilustrasi

Pemilu legislatif 2014 sudah usai. Pemenangnya pun sudah diketahui melalui hitung cepat (quick count) berbagai lembaga survei. PDI Perjuangan dinobatkan sebagai jawara dengan 19 persen suara, diikuti berturut-turut Golkar dengan 15 persen suara, Partai Gerindra (12 persen), Partai Demokrat (10 persen) PKB (9 persen), PAN (7 persen), Nasdem dan PKS masing-masing dengan 6,9 persen suara, PPP (6 persen suara), dan Hanura (5 persen).

Dengan hasil ini, maka tidak ada satu pun partai yang bisa mengajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) sendiri. Untuk itu diperlukan koalisi. Saya melihat ada dua alternatif koalisi. Pertama, koalisi cair. Bila melihat tokoh-tokoh yang sudah ditetapkan sebagai capres sebelum pemilu legislatif, maka minimal ada empat potensi koalisi pada pilpres 20 Juli mendatang.

Koalisi Pertama, PDI Perjuangan dan Nasdem dengan capres Joko Widodo atau Jokowi. Gabungan kedua partai ini saja sudah cukup mengusung capres sendiri karena sudah mendapat 25 persen suara. Lalu siapa cawapres koalisi ini? Pilihan pertama adalah Ketua Umum Nasdem Surya Paloh. Pilihan Kedua Muhammad Jusuf Kalla (JK). Kenapa? Mantan Wapres itu cukup dekat dengan Surya Paloh dan berada dalam satu gerbong sejak Golkar dipimpin Aburizal Bakrie. Dan, sejak awal JK digosipkan akan disodor Nasdem sebagai capres atau cawapres. Bila Jokowi dan PDI Perjuangan memilih JK maka kemungkinan PKB juga akan masuk koalisi ini mengingat JK juga menjadi salah satu bakal capres mereka selain Rhoma Irama dan Mahfud MD.

Koalisi Kedua, Partai Golkar yang akan mengajukan Aburizal Bakrie (ARB) sebagai capres. Dengan perolehan 15 persen suara, dia masih membutuhkan bantuan partai lain. Pilihannya bisa dengan Hanura pimpinan Wiranto yang mengantongi 5 persen suara. Koalisi keduanya, sudah cukup mengusung pasangan capres-cawapres sendiri. Tapi siapa wakilnya? Pilihannya adalah Wiranto, ketua umum Hanura. Bila Wiranto digaet Ical maka kongsi Wiranto-Harry Tanoe bubar dan nasib Hanura juga akan menjadi tidak jelas. Begitupun sebaliknya.

Koalisi Ketiga, Gerindra yang akan mengusung Prabowo Subianto. Partai ini minimal menggandeng tiga partai menengah untuk meloloskan Prabowo. Pilihannya bisa dengan PPP dan PAN. Sejak kampanye, Gerindra sudah dekat dengan PPP. Ketua Umum PPP Suryadharma Ali ikut orasi pada kampanye Gerindra. Sementara dengan PAN, sudah lama orang-orang internal PAN menduetkan Prabowo dengan Hatta Radjasa, Ketua Umum PAN. Pasangan ini cukup masuk akal karena perolehan suara PAN lebih besar dari PPP. Maka duet dari koalisi ini adalah Prabowo-Hatta.

Koalisi Keempat, Partai Demokrat yang mendapatkan 10 persen suara. Partai ini juga harus berkoalisi dengan dua partai menengah untuk bisa mengajukan capres. Pilihannya bisa dengan PAN dan PKS. Berpasangan dengan PAN lebih karena kedekatan hubungan antara Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Umum PAN Hatta Radjasa yang tidak lain adalah besanan. PKS bisa nyantol di situ sebagai kelanjutan dari kerjasama dalam lima tahun terakhir. Bila sentimen ini dipakai, maka Demokrat bisa juga menggandeng PKB dan bahkan Partai Bulan Bintang yang hanya dapat 1 persen suara. Dari kelompok ini capresnya bisa saja pemenang konvensi berpasangan dengan Hatta Radjasa atau tokoh usungan PKB yang jumlah suaranya lebih besar.

Alternatif Kedua, dikotomi nasionalis versus kelompok Islam. Dalam alternatif ini maka hanya akan ada dua  pilihan koalisi. Pertama, PDI Perjuangan, Golkar, Nasdem, Hanura, dan PKPI. Capres dari kelompok ini Jokowi sedangkan cawapresnya dari Golkar.

Pilihan Kedua, koalisi partai-partai Islam seperti PKB, PAN, PKS, PBB atau yang disebut Poros Tengah Jilid 2. Bisa saja Gerindra masuk dalam kelompok ini, meski dia beraliran nasionalis. Tetapi demi posisi untuk Prabowo, maka pilihan ini pun halal. Demikian pun Demokrat yang kehilangan taring pada pemilu ini. Bila demikian, maka tokoh yang akan didapuk sebagai capres adalah Prabowo Subianto, sedangkan wakilnya adalah tokoh muslim yang cukup disegani. Nah, tokoh ini musti dicari lebih jauh lagi.

Hanya saja, sejak awal PKB sudah menolak poros tengah jilid dua ini. Pasalnya, Amien Rais yang menggalang poros tengah ini ikut menjatuhkan Gus Dur, pendiri PKB. Luka lama itu belum benar-benar sembuh. Apalagi, Jokowi terlalu seksi untuk tidak dipilih PKB.

Lalu mana yang tepat? Kita tunggu saja akrobatik para capres dan pimpinan parpol menjelang pilpres nanti. Sejauh ini capres PDI Perjuangan, Jokowi yang paling gencar melakukan pendekatan ke partai-partai lain. (Alex Madji)