Home Inspirasi Wahana Air yang Tidak Manusiawi

Wahana Air yang Tidak Manusiawi

500
0
SHARE

Wahana air menjadi daya tarik tersendiri bagi warga di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Itu sebabnya berbagai kompleks perumahan di kawasan ini berlomba-lomba melengkapi diri dengan fasilitas tersebut, sebagai salah satu daya tarik. Di Cikarang, misalnya, ada Waterboom Cikarang yang terletak di kawasan Lippo Cikarang. Di Bumi Serpong Damai terdapat Ocean Park. Pantai Indah Kapuk memiliki Water Bom Pantai Indah Kapuk. Atau di Bogor ada The Jungle. Nama-nama ini hanya sekedar contoh. Tempat-tempat ini menjadi tujuan wisata warga ibukota pada akhir pekan dan hari-hari libur.

Sabtu, 1 Desember 2012 lalu, kami sekeluarga memilih berekreasi wahana air The Jungle yang terletak di kompleks perumahan Nirwana, Bogor, Jawa Barat. Sebenarnya, ini bukan yang pertama kami ke tempat tersebut. Malahan, ketika baru dibuka dan masih gersang, kami sudah ke sana. Setelahnya, kami masih beberapa kali mengunjungi tempat tersebut, termasuk pada Sabtu lalu itu.

Pada kunjungan kali ini, kami menyaksikan pemandangan yang berbeda. Selain pengunjungnya yang semakin banyak, tempatnya juga semakin hijau dan teduh dengan rindangnya pepohonan yang ada. Pemandangan juga cukup bervariasi karena selain bermain air, kita juga bisa menyaksikan “kolam terapung” di mana terdapat ikan-ikan besar yang dipelihara. Atau lebih tepat sebenarnya akuarium besar, meski tidak segede Sea World. Variasi lainnya di tempat ini adalah kicaun burung-burung peliharaan yang terletak di tengah-tengah wahana tersebut.

Seiring dengan makin menariknya tempat ini, jumlah pengunjung pun membeludak. Terutama pada akhir pekan. Sayangnya, hal ini tidak sepadan dengan luas areal yang tidak bertambah. Akibatnya, sebagai tempat rekreasi, tempat ini menjadi tidak manusiawai dan tidak nyaman lagi.

Pada Sabtu lalu itu, di The Jungle nyaris tidak ada tempat yang kosong. Mulai dari pinggir kolam hingga ke kamar mandi semua terisi manusia. Di kolam renang baik untuk anak-anak maupun dewasa, sulit bergerak bebas, saking padatnya manusia.

Yang datang ke tempat ini bukan hanya orang-per orangan. Pada saati itu, sejumlah perusahaan juga menyelenggarakan family gathering di sini. Minimal ada empat perusahaan yang menggelar family gathering, yakni Indofood, BNI dan dua perusahaan lainnya. Belum lagi kelompok-kelompok lain yang dalam jumlah kecil. Maka bisa di mengerti kalau jumlah manusia di tempat itu sangat banyak dan membuat kita sulit bergerak. Kenyataan seperti ini mungkin tidak hanya dialami The Jungle. Wahana air di tempat-tempat lain sangat mungkin mengalami hal serupa.

Akibatnya, rekreasi yang tadinya untuk bersenang-senang akhirnya tidak mencapai sasaran. Yang terjadi malah pusing kepala karena melihat begitu banyak manusia. Rekreasi menjadi tidak terlalu optimal dan tidak nikmat. Sebab bergerak saja susah. Singkatnya, rekreasi itu menjadi sungguh tidak nyaman.

Hal itu seharusnya bisa diatasi kalau saja pihak pengelola membatasi jumlah maksimal pegunjung agar tempat tersebut tetap manusiawi sebagai tempat rekreasi. Kenyamanan konsumen seharusnya menjadi pertimbangan utama. Bukan jumlah rupiah yang masuk ke kantong pengelola. Bila melihat fakta seperti itu, rasanya membeli karcis masuk The Jungle seharga Rp 85.000 pada akhir pekan menjadi percuma. Sebab rekreasinya menjadi tidak optimal.

Diharapkan ke depan tempat-tempat seperti ini dikelola dengan lebih bagus dan mementingkan kenyamanan konsumen agar kebutuhan mereka benar-benar terpenuhi. Jangan sampai, pengelola hanya menginginkan duit dari konsumen, tetapi tidak memperhatikan kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan konsumen. Padahal mereka sudah membayar cukup mahal. Semoga ke depan ada perbaikan di wahana-wahana air seperti ini di Jabodetabek agar tetap enak dikunjungi. (Alex Madji)

Foto diambil dari Radar Bogor