Home Makanan Warung Makan Anti “Main Stream” di Bali

Warung Makan Anti “Main Stream” di Bali

261
0
SHARE
Foto: Ciarciar.com

Matahari sangat terik Sabtu 21 Juli 2018. Panas membakar. Perut juga sudah keroncongan. Tenaga habis setelah hampir setengah hari mengitari objek wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali. Mulai dari melihat patung GWK dari kejauhan, memasuki tempat suci, hingga menyaksikan berbagai atraksi tarian di objek wisata yang dijanjikan rampung 2018 ini.

Tak jauh dari situ, ada warung makan. Namanya Campur-campur. Semacam warung tegal (warteg) di Jakarta dan sekitarnya. Bedanya, warung ini luas, bersih, dan pilihan menu beragam. Tempat duduknya juga unik. Anda bisa selipkan kartu nama di bawah kaca meja tempat Anda duduk. Selain itu, harga per porsinya murah. Untuk kepala ikan kakap, saya hanya bayar Rp 36.000. Beda dengan harga satu porsi kepala ikan kakap di dekat rumah saya di Graha Bintaro, Tangerang Selatan, yang mencapai Rp 60.000. Padahal rasanya tidak beda jauh.

Pengunjung warung Campur-campur bukan hanya warga lokal. Bule-bule yang datang dengan mengendarai motor juga makan di situ. Banyak pula jumlahnya. Siang itu warung tersebut sangat ramai. Pengunjung keluar masuk. Silih berganti.

Namun, yang lebih menyedot perhatian saya adalah dua buah tulisan yang menggantung pada balok. Yang satu, dekat sangkar burung, bunyinya begini, “We don’t have WiFi. Talk to Each Other. Pretend its 1980”. Saya langsung memotretnya. Saat hendak pesan jus alpokad di pojok kiri, di atasnya ada tulisan lain berbunyi, “Still Looking For WiFi? What About Looking WiFe?” Selesai baca ini, tanpa sadar, saya langsung menengok. Mencari istri saya. Ah, dia sudah duduk manis di meja panjang dekat pintu masuk.

Foto: Ciarciar.com

Konsep warung ini sungguh anti main stream alias anti kemapanan. Warung makan lain berlomba-lomba menyediakan wifi gratis sebagai penyedot minat pengunjung. Warung makan seperti itu menjadi favorit anak-anak muda zaman sekarang. Di tempat-tempat makan seperti ini, mereka bisa duduk berjam-jam atau bahkan sepanjang hari hanya bermodalkan segelas teh manis. Karyawan kantoran juga lazim menyelesaikan pekerjaannya di tempat-tempat tersebut.

Warung makan Campur-campur tidak meniru konsep seperti itu. Mungkin pemiliknya tidak ingin warung makannya jadi tempat tongkrongan gratis. Atau kalau pun mau nongkrong di situ, para pengunjung “dipaksa” kembali ke hakikatnya sebagai manusia sosial yang bergaul dan berbicara satu sama lain. Bukan manusia asosial. Itu sebabnya, pesan tulisan tadi terasa sangat kuat dan mengena. “Talk To Each Other”. Bicaralah satu sama lain. Jangan saling diam.

Pesan ini seakan melawan fakta yang Anda dan saya saksikan setiap hari. Orang saling mengabaikan. Orang terdekat sekali pun. Semua asyik sendiri dengan orang-orang lain di luar sana. Coba saja perhatikan di hampir semua restoran. Satu keluarga duduk di meja makan untuk makan bersama. Namun mereka saling diam. Sibuk dengan telepon pintar masing-masing. Kadang tertawa sendiri. Padahal tidak ada yang sedang bercerita di antara mereka. Ini fakta yang terjadi saat ini.

Maka penekanan pada tulisan di warung Campur-campur tadi bukan pada ketidaktersediaan wifi. Melainkan, pengunjung harus berbicara satu sama lain. Bila perlu, sambil bicara, menatap mata lawan bicara. Agar, perjumpaan tersebut menjadi lebih bermakna dan berkesan. Lebih dari sekadar makan dan minum bersama. Itu esensinya.

Lebih repot lagi kalau gara-gara keasyikan bicara dengan “orang-orang luar”, sampai lupa suami atau istri atau anak-anak yang sedang berada di samping. Yang begini juga lazim terjadi. Sangat akrab dan ramah dengan orang-orang lain yang entah berada di mana, tetapi orang yang sedang berada di sisinya di-cuek-in. Pertanyaan-pertanyaan dijawab ala kadar. Malahan, kalau pertanyaan makin banyak, reaksinya sedikit bersungut-sungut.

Seorang tamu sedang memesan makanan di Warung Campur-campur (Foto:Ciarciar.com)

Pesan tulisan di pojok kiri atas warung Campur-campur tadi sangat mengena. “What About Looking for WiFe?” Dengan kata lain, janganlah mengabaikan dan meniadakan keberadaan dan kehadiran orang terdekat kita. Sebab, ketika terjadi apa-apa dengan kita saat berada bersama itu, orang pertama yang membantu adalah dia atau mereka yang paling dekat. Bukan orang-orang yang berada di luar sana.

Dua pesan tadi membuat kami melepas telepon pintar selama makan di warung nasi Campur-campur. Bukan karena tidak ada wifi. Tetapi supaya lebih fokus menghabiskan kepala ikan kakap yang butuh detail menghabiskan isi di antara tulang belulang. Sampai tidak ada yang tersisa. Malahan, karena nasi merah keburu habis, harus tambah satu porsi nasi putih untuk menuntaskan kuah dan ikan yang tersisa. Terlalu lezat.

Setelah kenyang, kami masih mampir ke warung Gaya Gelato milik orang Italia yang persis berdampingan. Kebetulan tempatnya berpendingin ruangan. Jadi ngadem dulu, sambil anak-anak santap Gelato rasa mangga, sebelum melanjutkan perjalanan ke Uluwatu, menyaksikan tarian kecak pada Sabtu 21 Juli 2018 saat matahari terbenam.

Yah, semoga pesan “We don’t Have WiFi. Talk to each other” dan “Still Looking for WiFi? What About Looking for WiFe?” terus menjadi pengingat untuk saya dan Anda. Perbanyak bicara dengan orang-orang terdekat. Tinggalkan telepon pintar saat sedang bersama. Jangan mau dikuasai gawai. Kitalah yang berkuasa atas mereka. Itu saja. (Alex Madji)