Home Inspirasi Yogyakarta Ya Bakpia

Yogyakarta Ya Bakpia

604
3
SHARE


Yogyakarta tidak hanya identik dengan gudek tetapi juga bakpia. Orang-orang yang pulang dari Yogyakarta, kalau tidak bawa gudek, ya bawa bakpia.

Pusat-pusat pembuatan bakpia pun ramai di kunjungi orang, terutama di Jalan KS Tubun. Tetapi bakpia yang paling ramai di jalan itu adalah Bakpia Pathok 25. Ada juga Bakpia 75 yang teletak persis di seberang bakpia Pathok 25 itu, tetapi dari luar kelihatannya tampak sepi.

Sabtu 17 Desember 2011, sore itu, tempat yang agak menjorok ke dalam itu ramai sesak. Gadis-gadis pelayan di ruangan depan sibuk melayani pembeli.

Di ruang belakang, tempat pembuatan bakpia, tidak kalah hiruk pikuknya. Di sebuah meja panjang, laki perempuan dalam balutan seragam merah marun bercorak duduk rapat. Dengan mulut tertutup masker, mereka tekun memtik gundukan adonan di depan mereka menjadi bulatan-bulatan kecil.

Di ujung meja itu, ada beberapa pekerja, kebanyakan laki-laki, yang sibuk menjadikan bulatan-bulatan kecil itu menjelma menjadi bakpia panas. Dari situ, bakpia dimasukkan ke dalam dus-dus kecil, sebelum akhirnya di bawa ke toko bagian depan tadi untuk dijual.

Menurut salah satu sales promotion girl (SPG) Bakpia Pathok 25, Suryani, pusat oleh-oleh bakpia ini paling ramai dikunjungi pembeli pada Sabtu-Minggu. Sementara pada hari-hari kerja, yang berkunjung ke situ hanya sedikit orang.

“Kalau Sabtu Minggu ya begini situasinya. Kalau Senin-Jumat paling dua tiga orang,” ujar perempuan bertubuh agak subur itu.

Karena itu menghadapi pengunjung yang membeludak itu, Bakpia Pathok 25 yang berdiri sejak 1948 itu, harus merekrut tenaga lepas pada akhir pekan. Jumlahnya tergantung padat tidaknya pengunjung. “Kalau ramai sekali bisa mencapai 50-an orang. Tapi kalau tidak ya 25 sampai 30 orang,” imbuhnya.

Sementara karyawan tetapnya hanya berjumlah 40 orang. Itu sudah termasuk mereka yang menyambut pembeli di parkiran hingga di dapur.

Masih menurut Suryani, rumah panjang berbentuk huruf L itu masih bangunan kontrakan. Bangunan itu tidak jauh dari rumah pemiliknya yang persis berada di depan bangunan yang dari luarnya tampak sederhana tersebut.

Kalau Anda datang ke sana, jangan kaget kalau ditanya, pakai apa? Maksudnya pakai kendaraan sendiri, pakai becak, atau travel. Informasi itu akan dilanjutkan dengan handy talky ke bagian penjualan di dalam dengan bahasa sandi mereka.

Sebab ternyata, kalau kita pakai becak atau kendaraan travel harga bakpia per dus kecil beda dengan kalau kita pakai kendaraan sendiri. Datang sendiri harganya lebih murah dibandingkan diantar becak atau travel. Selisih harga itu akan dibayarkan sebagai balas jasa untuk tukang becak atau travel yang mengantar konsumen.

Sore itu, saya bahkan “diinterogasi”, “dimana sandalnya Pak?” Ya, saya datang ke situ nyeker alias tanpa alas kaki sambil tenteng kamera. Bukan karena apa-apa, saya belum sempat beli sandal jepit. Ini bukan trik biar dikasih harga super murah.

Kami pun meninggalkan tempat itu sambil tenteng dua dus bakpia panas sebagai oleh-oleh ke Jakarta. Selepas itu baru beli sandal jepit sebelum menggerayangi sudut-sudut Yogyakarta, kota gudek dan bakpia itu. (Alex Madji)