Home Inspirasi Akhirnya Diwisuda

Akhirnya Diwisuda

738
2
SHARE


Senin 24 Oktober 2011. Ini hari istimewa bagi adik saya Alfeus Jebabun. Dia diwisuda sebagai seorang sarjana hukum dari Universitas Kristen Indonesia (UKI). Dia lulus hanya dalam 3,5 tahun, sesuai target yang saya berikan.

Ada perasaan bangga di hati bahwa pengorbanan saya untuk mengongkos dia akhirnya berbuah hasil. Meski diwarnai suka duka. Pernah marah dan jengkel tapi tak kurang cinta kasih. Apalagi sekarang dia sudah kerja menjadi peneliti di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Meskipun, penghasilkannya cukup untuk bayar kos dan biaya hidupnya sendiri selama sebulan. Paling tidak dia tidak tergantung lagi pada saya.

Pada acara wisuda itu, saya, istri saya, Maria Susi Berindra, dan anak sulung kami Carrol Houben Alleindra datang. Tiba di tempat acara, Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta Pusat pukul 09.30. Padahal, kami berangkat dari rumah pukul 07.00 WIB.

Acara berlangsung sangat lama dan membosankan. Diisi dengan pidato dari Rektor UKI, Ketua Yayasan UKI, dan pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pemindahan tali topi wisuda, dan penyerahan sebuah gulungan kertas dalam bungkusan hitam yang setelah dibuka anak saya ternyata isinya hanya ucapan selamat karena sudah lulus. Bukan ijazah.

Untuk membunuh kebosanan, kami bertiga ngopi-ngopi di depan ruang acara itu. Bukan persediaan panitia, tetapi beli sendiri. Kami “terhibur” oleh seorang ibu yang datang ke situ mendampingi putrinya diwisuda sebagai sarjana kedoteran. Dia datang sendiri. Dia cerita bahwa suaminya yang dokter tentara sibuk sendiri. Dia banyak berkisah tentang tentara dan kehidupan keluarga tentara.

Seluruh cerita itu berakhir setelah Feus keluar dari ruangan. Sebelumnya dia mendatangi kami di meja itu di sela-sela acara wisuda tapi dia kembali. Kali ini, acara sudah rampung.

Kemudian dilanjutkan dengan sesi foto yang sudah dibayar Rp 350.000 hanya untuk dua sesi foto yakni foto sendiri dan bersama keluarga yang tidak lebih dari lima orang. Kalau lebih, per orangnya dibayar Rp 50.000.

Setelah foto-foto, kami rayakan kegembiraan itu berempat secara sederhana. Kami makan siang di FX Plaza yang tidak jauh dari lokasi JCC. Kami ambil meja di Sate House Senayan. Menu pesanan kami sederhana. Sop Buntut, sate ayam, kambing, kangkung plecing, dan sayur pecel. Sementara minumnya jus stroberry, air mineral, dan es cendol. Lumayan kenyang. Lebih menyenangkan lagi, karena Carrol “cerewet”; bercerita, nyanyi dan sungguh semangat. Mungkin dia juga turut bergembira bersama omnya.

Setelah makan, kami antar Feus ke kosnya di Jalan Pramuka, Jakarta Pusat. Tidak persis di kosnya, tetapi diturunkan di Percetakan Negara. Dari situ dia cukup jalan kaki ke kosnya yang hanya sepelemparan batu jauhnya.

Dari sana kami ke klinik gigi Doctors and Dentist di kawasan Pasar Palmerah, Jakarta Barat untuk memastikan apa yang sedang saya alami saat itu. Tetapi periksa gigi tidak jadi dilakukan di situ,melainkan di Ladogi, Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo. (Alex Madji)