Home Umum Bagaimana Meneladani RA Kartini?

Bagaimana Meneladani RA Kartini?

1858
0
SHARE
Foto Ilustrasi diambil dari majalahkartini.co.id

Kamis, 21 April 2016 pagi, saya duduk di sebuah bengkel di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Sambil menunggu selesai servis kendaraan, saya mengamati suasana di ruangan tampat saya menunggu. Pemandangan paling mencolok adalah karyawan perempuan bengekel itu mengenakan kebaya. Mulai dari resepsionis di meja paling depan dekat pintu masuk, hingga mereka yang duduk di ruang kasir. Semua berkebaya.

Ada yang memadukannya dengan rok panjang atau batik, tapi ada pula yang memadankannya dengan celana panjang. Mereka tampak tampil anggun. Sementara karyawan laki-laki mengenakan seragam batik warna keemasan campur hitam dipadu dengan celana gelap. Sebagian mengenakan bermacam batik. Kecuali mereka yang bertugas membenahi kendaraan pelanggan. Tetap dengan “pakaian dinasnya”.

Pada sejumlah acara televisi Kamis 21 April 2016, para presenter perempuan juga mengenakan kebaya. Yang cowok lebih beragam. Ada yang pakai jas, ada yang mengenakan pakaian adat berbagai daerah. Topik yang dibahas pun tentang Kartini dengan menampilkan perempuan-perempuan hebat di bidangnya masing-masing.

Sementara di sejumlah grup WA beredar gambar RA Kartini dengan tulisan “Habis Gelap Terbitlah Terang” pada bagian bawah foto dan “Kartini 1902″pada bagian atas. Foto ini dipasang berdampingan dengan foto perempuan dengan dada membusung plus belahan yang memesona. Di atas foto itu tertulis “Kartini 2016” dan pada bagian bawah foto tetera tulisan, “Pergi Gelap Pulang Terang”. Tentu saja ini sindiran untuk para wanita penghibur yang bekerja malam hari dan istirahat pada waktu siang.

Setiap tahun, 21 April dikhususkan sebagai hari Kartini. Ia pahlawan Indonesia. Pelopor emansipasi. Ia memperjuangkan kebebasan perempuan Indonesia tidak dengan mengangkat senjata tapi dengan tulisan. Perjuangannya membuat wanita Indonesia tidak hanya berurusan di dapur atau hanya mengurus anak tapi juga menjadi pemimpin. Berkat perjuangan Kartini, perempuan Indonesia bisa sekolah tinggi.

Dewasa ini, tidak sedikit wanita Indonesia yang tampil sebagai leader. Bahkan, mereka jauh lebih unggul dari laki-laki. Sekadar contoh, salah satu perempuan hebat Indonesia adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti. Meski pendidikan formalnya hanya sampai SMP dan tidak tamat SMA, tapi kerjanya luar biasa. Sejak ditunjuk menjadi menteri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Susi memperlihatkan kelasnya sebagai pemimpin yang betul-betul bekerja untuk kebaikan dan kesejahteraan rakyat Indonesia terutama masyarakat pesisir. Bukan perempuan aji mumpung.

Masih banyak perempuan hebat Indonesia yang berkarya di berbagai bidang. Bukan hanya mereka yang memiliki jabatan tinggi baik di lembaga pemerintahan maupun perusahaan swasta tapi juga perempuan-perempuan yang ada di pelosok-pelosok negeri ini yang memberi seluruh hidupnya untuk orang lain. Mereka yang mengajar di daerah pedalaman dengan gaji dan fasilitas yang super minim. Perempuan-perempuan yang bekerja di panti-panti asuhan atau di tempat-tempat perawatan orang-orang disabilitas. Mereka inilah Kartini-Kartini sejati abad modern ini. Mereka mengubah hidup begitu banyak orang. Memanusiakan manusia.

Dan, begitulah sejatinya meneladani RA kartini. Meniru jejak RA kartini tidak cukup dengan berbusana ala Kartini satu abad silam, berkebaya. Itu hanya artifisial. Yang lebih substantif adalah kerja nyata ikut memerdekakan orang lain dari keterkungkungan, dari kemelaratan, dari kemiskinan, dari perbudakan dan keterbelakangan.

Namun sungguh sedih menyaksikan perempuan-perempuan Indonesia yang ditangkap KPK dan dijebeloskan ke dalam penjara karena korupsi seperti Ratu Atut, Angelina Sondakh, Dewi Yasin Limpo, dan Damayanti Wisnu Putranti. Semoga tidak ada lagi perempuan Indonesia yang mengikuti jejak mereka. Kalau masih ada, lebiha baik tidak pakai kebaya pada hari Kartini ini. (Alex Madji)