Home Umum Calon Bintang Kabinet Kerja Jokowi-JK

Calon Bintang Kabinet Kerja Jokowi-JK

923
0
SHARE
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti (Foto: www.kronosnews.com)

Sudah lama saya tidak menulis politik. Kali ini saya ingin menulis politik lagi, khususnya tentang Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 26 Oktober 2014 dan dilantik keesokan harinya di Istana Negara, Jakarta. Mengapa dia? Alasannya, sederhana. Dia paling banyak dibicarakan publik di media massa dan media sosial sejak dilantik.

Menteri Susi ini begitu fenomenal. Pertama, karena dia tidak menjaga image sebagai pejabat publik dengan merokok di depan kerumunan wartawan sesaat setelah diperkenalkan kepada publik di kompleks Istana Kepresidenan. Kedua, dia memiliki sebuah tato di kaki kanannya yang tidak dia sembunyikan. Ketiga, dia hanya memiliki ijazah SMP. Keempat, dia dua kali kawin dan selalu dengan orang asing. Suaminya yang sekarang berkebangsaan Jerman.

Uniknya, Menteri Susi tampil ada adanya. Tidak ada hal yang perlu ditutup-tutupi. Dia tampil asli, tidak dipoles dan tidak perlu menjaga image, seperti menteri-menteri sebelumnya. Karena itu, dia tidak peduli merokok di depan umum, tidak perlu menyembunyikan tatonya, dan tidak malu-malu mengaku bahwa dia hanya berijasah SMP.

Keempat hal itu membuat dia menjadi pusat perhatian publik dan menjadi objek pembicaraan di media sosial baik facebook maupun twitter, mengalahkan menteri-menteri lain. Tidak sedikit yang mencela dan mencibir, lebih-lebih karena ijazahnya. Gara-gara ini pula, dia dianggap remeh. Cenderung dianggap tidak mampu. Gara-gara Menteri Susi pula, Jokowi dianggap tidak tepat janji, dan sedikit memunculkan kesan negatif terhadap Jokowi-JK.

Tetapi tidak sedikit pula yang membela dia, terutama mereka yang memiliki pikiran yang cerdas. Setiap kali Menteri Susi diledek dan dihina baik karena merokok, tato, ijazah, maupun karena bersuamikan orang asing, orang-orang cerdas inilah yang membela dia di media sosial. Dasarnya, pertama-tama karena Menteri Susi adalah orang sukses. Meski tidak tamat SMA, Susi Pudjiastuti sukses menjadi miliarder.

Dia pemilik perusahaan pengolahan ikan dan pemilik maskapai penerbangan Susi Air. Dahsyatnya, dia mengawali semua kesuksesan ini dari bawah. Dari sebagai pengepul ikan kemudian bisa membangun pabrik yang mempekerjakan ratusan bahkan ribuan orang. Mayoritas karyawannya, terutama pilot, di Susi Air adalah orang asing. Karena itu pula, meski hanya berijazah SMP, bahasa Inggris Menteri Susu “air-air” alias lancar sekali. Mengalahkan para profesor doktor dari universitas-universitas ternama di negeri ini.

Kedua, Menteri Susi Pudjiastuti adalah seorang humanis. Dialah orang pertama yang mendaratkan pesawatnya ketika bencana gempa bumi dan tsunami meluluhlantakkan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada Desember 2004 silam. Ketika Pangandaraan, tempat hidup Susi dilanda bencana serupa, Susi dengan semua fasilitas yang dimilikinya dikerahkan untuk memberi pertolongan kepada para korban. Sangat menyentuh dan menggidik.

Kisah sukses dan humanis yang ditampilkan media itu, terutama televisi, sejak dia dilantik membalikkan semua cibiran orang terhadap perempuan yang satu ini. Image yang tadinya negatif, kini berbalik menjadi positif. Lebih-lebih lagi, setelah melihat gebrakannya di KKP hanya dalam satu minggu kerja.

Cara bicaranya yang ceplas ceplos, bahasa tubuhnya, mimik wajahnya saat bicara, gaya memimpin rapatnya dengan para birokrat di kementerian, dan keberaniannya membuat dia mendapat apresiasi. Bahkan, dia menyebut cara-cara yang digunakannya adalah cara preman. Dengan “kepremanan” itu, Menteri Susi berani membongkar ke publik tentang kinerja KKP yang bobrok selama ini, yang kerjanya hanya menghabiskan anggaran negara.

Saya baru tahu dari Menteri Susi bahwa KKP selama ini menghabiskan Rp 11 triliun lebih dana subsidi bahan bakar minyak untuk lebih dari 5.000 kapal tangkapan. Tetapi uang negara yang begitu besar itu sama sekali tidak sepadan dengan hasil yang hanya mencapai Rp 300 miliar per tahaun. Sudah hampir pasti, subsidi itu salah sasaran. Menteri Susi harus ungkap ke publik kapal-kapal siapa yang selama ini menikmati subsidi itu. Jangan-jangan mereka yang duduk di Senayan sana.

Ini saja sudah cukup menggetarkan. Sebagai masyarakat biasa, saya melihat bahwa ada yang tidak beres di KKP selama ini. Apalagi kalau bukan korupsi. Maka gebrakan Menteri Susi sudah pasti menggetarkan para pejabat KKP yang selama ini menikmati kekayaan laut Indonesia untuk kepentingan mereka sendiri. Saya berharap, dengan gaya premannya, Menteri Susi terus membongkar pratek busuk yang hidup selama bertahun-tahun di kementerian yang dipimpinnya. Bila perlu menyeret para pelaku pencurian uang rakyat itu ke penjara. Tidak peduli para mantan menteri. Lebih cantik lagi kalau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terlibat di sana. Pasti makin “ngeri-ngeri sedap”.

Dari sini, saya menilai, Menteri Susi Pudjiastuti akan menjadi salah satu bintang dalam Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla dalam lima tahun ke depan. Sejak awal dia memperlihatkan bahwa Jokowi-JK tidak salah pilih, meskipun dia hanya berijasah SMP, memiliki tato, dan perokok. Tetapi dengan keberaniannya dan gaya kepemimpinannya sebagai CEO campur sedikit preman, dia akan menjadikan KKP sebagai sebuah kementerian yang betul-betul bekerja untuk rakyat, sesuai janji Jokowi. Selamat mendobrak Menteri Susi. (Alex Madji)