Home Inspirasi Hiduplah Secara Dinamis

Hiduplah Secara Dinamis

1261
0
SHARE
Sumber gambar ilustrasi; www.anneahira.com

Saudara saya cukup kaku hidupnya. Sulit beradaptasi. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi. Ia tidak terusik dengan kecanggihan yang sudah berlari begitu cepat di luar sana. Meski diolok-olok teman-temannya, ia tak peduli. Makanya, kadang ia dianggap kolot. Tidak up to date.

Saudara saya yang lain sangat sulit dibilangi. Diberitahu begini, ia tetap saja melakukan begitu. Disuruh bikin A, ia malah bikin B. Tidak mau mendengar orang lain. Hidup sesukanya. Tak mau diatur.

Mungkin saja, mereka tidak sendiri. Masih ada begitu banyak orang lain yang hidupnya mengikuti kata hatinya sendiri. Mereka tidak peduli dengan apa yang ada di luar diri mereka. Karena terlalu “ketat” dengan dirinya, mereka menjadi orang yang kaku.

Padahal, dalam hidup ini perlu sikap dinamis. Tidak pakai kaca mata kuda, melainkan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di luar dirinya. Termasuk mendengar masukan yang baik dari orang lain. Penyesuaian dengan dunia luar sangat penting agar kita tetap bertahan hidup. Tanpa menyesuaikan diri dengan perkembangan, maka kita akan tergilas. Apalagi, perkembangan dunia kita ini, kata sosiolog Inggris Anthony Giddens, berlari tunggang langgang alias sangat pesat. Contoh paling nyata adalah dalam dunia teknologi informasi.

Dalam konteks menjadi seorang pengusaha atau sedang belajar menjadi pengusaha, penyesuaian diri atau hidup yang dinamis ini mutlak penting. Tanpa itu, bisnis yang berjalan tak akan berkembang karena ia tidak berjalan sesuai konteks yang ada. Ia berjalan melulu sebagai business as usual.

Usaha yang tidak memperhatikan perkembangan dunia luar, niscaya takkan berkembang. Bahkan mati. Banyak contoh untuk hal ini. Sejak akhir 1990-an hingga awal 2000-an, Nokia adalah raksasa dunia dalam teknologi komunikasi. Mereka tak tertandingi. Namun, beberapa tahun kemudian, teknologi Nokia tergulung dengan munculnya Blacberry dari Kanada. Nokia makin hilang ketika muncul Android yang dipelopori Samsung.

Terancam

Industri media massa juga sedang terancam dengan munculnya revolusi teknologi komunikasi ini. Perkembangan media-media cetak stagnan. Bahkan terus menurun. Malahan, di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, beberapa media cetak sudah gulung tikar. Di Indonesia hal serupa juga sudah dan akan terus terjadi. Tunggu waktu saja.

Ini semua terjadi karena hidup yang tidak dinamis. Merasa diri besar dan raksasa lalu ogah menyesuaikan diri dengan perkembangan di luar diri. Yang terjadi adalah kematian akan segera menjemput.

Wartawan senior yang juga pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama sangat sering menggaungkan pepatah latin ini: Fortiter in re suaviter in modo. Halus dalam cara, keras dalam prinsip. Begitu artinya. Dalam tulisan-tulisannya, pepatah ini selalu terselip. Istilah lain yang kerap diungkapkannya adalah Providentia Dei atau Penyelenggaraan Ilahi.

Keseringan menggunakan pepatah Fortiter in re suaviter in modo mencerminkan kepribadian Jakob Oetama yang dinamis. Perusahaan yang didirikan dan dibesarkannya bersama PK Ojong selalu mampu menyesuaikan diri tanpa harus kehilangan prinsip. Ia bisa mengemas prinsip dasar perusahaan dalam gerak langkah yang dinamis. Hasilnya? KKG berdiri tegak, meski diterjang angin kencang.

Jangankan lembaga usaha seperti itu. Gereja yang hidup dengan berbagai macam dogma saja, selalu dinamis. Ia selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tidak kaku. Makanya gereja takkan pernah mati. Sebab mereka memiliki semboyan, Ecclesia semper reformanda est. Gereja selalu reformasi. Dogma boleh ketat tapi kedinamisan tetap dijaga agar tidak digilas kemajuan.

Kalau lembaga-lembaga seperti itu saja hidup dinamis, apalagi kita sebagai pribadi. Kehidupan yang dinamis mutlak perlu agar kita tidak tergilas kemajuan zaman yang berlari tunggang langgang. (Alex Madji)