Home Inspirasi Jokowi yang Nakal

Jokowi yang Nakal

753
0
SHARE

Jumat, 14 September 2012 adalah hari pertama kampanye pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) DKI Jakarta. Kedua pasangan calon gubernur, Fauzi Bowo (calon incumbent) dan Joko Widodo (Jokowi) berkampanye dengan cara mendatangi pusat keramaian ibukota.

Pada saat bersamaan, di Toko Buku Gramedia Matraman Jakarta Timur, tepatnya di lantai dua, ketika mentari mulai condong agak ke barat, diluncurkanlah sebuah buku terbitan Elex Media Komputindo berjudul, “Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar” karya Domu D Ambarita, seorang teman jurnalis di jaringan koran daerah Kelompok Kompas Gramedia, Tribun, bersama rekan-rekannya.

Saya tidak tahu apakah ini bagian dari kampanye Jokowi atau tidak. Tetapi yang pasti, mayoritas yang datang pada diskusi peluncuran buku itu mengenakan kemeja kotak-kotak merah biru tua, seragam pasangan Jokowi-Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Sedianya, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang memberi kata pengantar pada buku itu hadir. Tetapi hingga acara selesai, Megawati yang juga mantan Presiden tidak tampak. Padahal, Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo sudah terlihat di lantai satu Gramedia.

Sang penulis Domu D Ambarita mengaku, buku itu bukan buku kampanye politik Jokowi, meskipun kesan tidak terhindarkan. Sebab, buku ini mengupas sisi lain kehidupan Jokowi, seorang anak dari bantaran Kali Anyar Solo, Jawa Tengah yang yang sempat tergusur, lalu kemudian menghentak peta perpolitikan Indonesia berkat kiprahnya selama menjadi Walikota Solo dan kesuksesan dalam Pemilukada DKI Jakarta putaran pertama.

“Tidak terhindarkan bahwa ada kesan politis dalam penulisan buku ini karena Jokowi mengikuti Pemilukada DKI Jakarta. Tetapi yakinlah, kami profesional. Tidak ada sponsor, tidak ada pendanaan dari siapa-siapa, termasuk kelompok Jokowi. Sponsor kami hanya penerbit yang meminta kami menulis tentang Jokowi,” kata Domu dalam diskusi peluncuran buku tersebut.

Jokowi adalah Walikota Solo yang pada periode keduanya terpilih dengan mayoritas suara pemilih. Dia kemudian dicalonkan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Pada putaran pertama, dia bersama Ahok menghenyakkan warga ibukota karena sukses meraih suara terbanyak dengan 42,59 persen suara. Sedangkan calon incumbent Fauzi Bowo hanya 34,05 persen suara atau hampir 10 persen di belakang Jokowi. Tetapi karena tidak memenuhi kententuan UU Khusus Ibukota Jakarta yaitu harus meraih suara 50 perse plus satu, maka keduanya, yang meraih suara terbanyak, masuk ke Pemilukada putaran kedua pada 20 September 2012.

“Empat puluh tahun silam, sungai ini menjadi tempat favorit seorang bocah bernama Joko Widodo. Ia masih mengingat nostalgia bermain di sungai, yang ketika itu air mengalir masih bening. ‘Masa kecil yang paling saya ingat, cebur di sungai. Tiap hari, tidak pagi, tidak siang, tidak sore’,” tulis Domu dalam bukunya mengutip Jokowi.

Yang menarik adalah kesaksian ibu Jokowi, Sujiatmi Notomihardjo yang hadir pada peluncuran buku tersebut. Perempuan yang mengenakan stelan ungu muda, selaras dengan krudung di kepalanya itu, tampak masih awet muda. Janda empat anak itu tidak kikuk berada di atas panggung. Setiap pertanyaan master of ceremony (MC) dan peserta diskusi, dijawab dengan lugas dan apa adanya. Polos dan jujur.

Dia menceritakan, ketika kecil Jokowi termasuk anak nakal. Tetapi masih dalam tahap wajar sebagai seorang anak kecil. Dia meminta sesuatu sambil mogok. Dia juga sering main di rel dan naik-naik kereta api, serta main long bambu. Permainan yang terakhir ini menyebabkan alis matanya luka. Meski nakal, Nyonya Sujiatmi tidak pernah menjewer atau memukul Jokowi kecil. Dia mendidik anaknya itu dengan cara-cara yang wajar-wajar saja.

Semula dia menginginkan anaknya itu menjadi pengusaha kayu. Pasalnya, kakeknya, ayah dari sang ibu, adalah pengusaha kayu. Keinginan itu kemudian terwujud, setelah Jokowi terjun pada bisnis yang sama seperti kakek dan om-omnya. Usaha kayu ini, sejak jaman sang kakek hingga masa Jokowi, tidak pernah berskala besar.

Sujiatmi tidak pernah berdoa agar anaknya itu menjadi walikota atau gubernur. Kalau dia kemudian menjadi walikota, itu hanya anugerah Allah. Atau mungkin juga faktor keturunan. Sebab kakek Jokowi dari pihak ayahnya adalah lurah. “Dalam doa saya tidak minta macam-macam. Tetapi yang pasti, saya tiap malam tahajut,” ceritanya.

Nah, bagian ini menjadi menarik karena tidak diceritakan dalam buku, “Jokowi Spirit Bantaran Kali Anyar” karya Domu D Ambarita tersebut. Kini, Jokowi – anak nakal dari bantaran Kali Anyar itu – menjadi orang hebat dan menjadi inspirasi banyak politisi. (Alex Madji)

Foto: Peluncuran buku “Jokowi Spirit Bantaran Kali Anyar” di Gramedia, Jakarta, Jumat, 14 September 2012. (Foto: Alex Madji)