Home Inspirasi Kambing Hitam

Kambing Hitam

804
2
SHARE


Ini bukan catatan tentang kambing berwarna hitam. Tetapi tentang sebuah kebiasaan buruk di negeri ini, yaitu suka menyalahkan orang atau pihak atau sesuatu yang lain. Mereka yang seharusnya bertanggung jawab terhadap sesuatu cuci tangan alias lempar tanggung jawab. Yang lazim terjadi adalah mengkambinghitamkan orang lain. Lebih buruk lagi, mengkambinghitamkan benda mati.

Hal seperti itu tidak hanya terjadi dalam dunia politik. Juga dalam bencana. Termasuk dalam peristiwa runtuhnya Jembatan Kertanegara atau Jembatan Mahakam di Kutai Kertanegara pada Sabtu, 26 November 2011 sore.

Jembatan itu rubuh ketika umurnya baru 10 tahun. Padahal, dia didisain untuk kokoh hingga 50 tahun. Tapi apa mau dikata. Roboh dalam usia yang masih sangat muda.

Jembatan tersebut dibangun oleh perusahaan konstruksi milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Hutama Karya. Tetapi belum apa-apa, Menteri BUMN Dahlan Iskan membela anak buahnya. “Runtuhnya jembatan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur kini tidak ada lagi kaitannya dengan Hutama Karya,” tulis Vivanews.com pada Senin, 28 November 2011.

Menurut Dahlan Iskan, jembatan itu sudah lama diserahkan kepada operator pengelola swasta. “Soal pemeliharaan sudah diserahkan kepada pihak swasta,” kata mantan Direktur Utama PLN itu. Karena itu, pihaknya tidak akan memanggil direksi Hutama Karya terkait rubuhnya jembatan terpanjang di Kalimantan itu.

Sementara Bupati Kuta Kertanegara yang juga anak kandung mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani AR, Rita Widyasari, seolah melemparkan tanggung jawab kepada PT Bukaka, perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla, atas runtuhnya jembatan yang dibangun pada masa pemerintahan ayahnya itu. Pasalnya, mereka yang memenangkan tender senilai Rp 2,7 miliar untuk memperbaiki jembatan tersebut.

Sementara Direktur Utama PT Bukaka, Irsal Kamarudin menampik. Robohnya jembatan itu karena kondisi awal sejak dibangun sudah berubah. Sejumlah baut sudah mulai longgar. “Kami mendapat kontrak dari PU (Kementerian Pekerjaan Umum) untuk mengencangkan baut-baut jembatan yang mulai longgar,” ucapnya Senin, 28 November 2011 seperti dikutip Vivanews.com.

Mur-mur atau baut-baut yang longgar itulah yang menyebabkan jembatan menjadi miring dan bebannya menjadi tidak merata hingga akhirnya rubuh. “Memang sudah ada perubahan dari awal jembatan itu dibangun,” lanjutnya.

Dengan kata lain, pembangunan jembatan itu sudah bermasalah sejak awal. Hutama Karya juga patut dimintai pertanggungjawaban atas rubuhnya jembatan tersebut.

Lingkaran kambing hitamnya sangat jelas. Dahlan Iskan menuding pihak swasta sebagai yang bertanggung jawab. Rita Widyasari memperjelas bahwa yang dimaksud adalah PT Bukaka. Lalu Bukaka menuding benda mati baut atau mur yang longgar. Baut longgar itu adalah kesalahan Hutama Karya sebagai penyebab utama rubuhnya jembatan itu.

Karena itu tindakan Dahlan Iskan “melindungi” Hutama Karya sebagai perusahaan yang membangun jembatan tersebut tidak tepat dan terlalu prematur. Seyogyanya, biarkan aparat kepolisian memeriksa Hutama Karya, seperti juga polisi memeriksa karyawan Bukaka yang sedang mempersiapkan pekerjaan perbaikan.

Sehubungan dengan itu, menarik pernyataan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bidang Pencegahan M Jasin bahwa ada indikasi ketidakjujuran dalam pembangunan Jembatan Kertanegara itu, terutama terkait pengadaan barang dan jasa. Tetapi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diminta untuk mengaudit perusahaan yang membangun jembatan itu. Kalau ada indikasi korupsi di dalamnya baru akan ditindaklanjuti KPK. (Suarapembaruan.com, 28 November 2011).

Mari kita tunggu hasil akhirnya. Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas runtuhnya jembatan itu. Atau, seperti biasa terjadi di negeri ini, masalah itu selesai pada pengkambinghitaman dan yang menjadi “korban” adalah baut-baut yang logar itu??? Semoga ada makhluk hidup yang secara gentle akan bertanggung jawab. (Alex Madji)