Home Umum Kursi-kursi di Pedestrian Jakarta

Kursi-kursi di Pedestrian Jakarta

1637
0
SHARE
Dua perempuan sedang menikmati bangku di trotoar di Jalan Gatot Subroto (Foto: Ciarciar.com)

Bila Anda melewati jalan-jalan utama di Jakarta saat ini, seperti di Jalan Jenderal Sudirman hingga MH Thamrin dan Gatot Subroto hingga MT Haryono, ada pemandangan menarik di sana. Pemandangan yang sama juga bisa ditemukan di Jalan Medan Meredeka Timur, Barat, dan Selatan.

Trotoar-trotoar atau pedestrian di jalan-jalan itu diperbaharui. Konblok-konblok usang diganti dengan beton-beton dibuat dalam ukuran kecil berwarna hijau yang di tengahnya diberi semacam penggaris warna keemasan. Pembaruan pedestrian ini membuat pemandangannya enak dilihat dan warga bisa dengan nyaman berlenggak lenggok di atasnya.

Yang lebih menarik dan menjadi sesuatu yang baru adalah di pinggir paling luar trotoar-trotoar itu dipasang bangku-bangku yang bisa diduduki dua sampai tiga orang dan berjarak sekitar 20 meter antara bangku yang satu dengan yang lainnya.

Ini adalah salah satu trobosan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau yang akrab dipanggil Jokowi. Kalau mengurus trotoar sudah pernah dilakukan gubernur-gubernur sebelumnya. Tetapi dia adalah gubernur pertama yang menyediakan tempat-tempat duduk di sepanjang jalan di ibukota negara ini. Sebelum dia, gubernur silih berganti, tetapi tidak ada yang melakukan hal seperti itu.

Lalu apakah ini perlu dan bermanfaat? Tentu saja perlu dan sangat bermanfaat. Kamis, 31 Oktober 2013 pagi, saya melewati Jalan Gatot Subroto arah Cawang. Pada sebuah kursi di depan gedung Patra Jasa, sebuah keluarga muda (ayah, ibu, dan seorang anak kecil) duduk santai di kursi tersebut, sementara sepeda motor mereka dipinggirkan di luar garis putih jalan itu.

Hari lain, terutama sore hari saat pulang kantor dari arah kuningan ke Slipi, tidak jarang saya temukan karyawan kantor duduk santai, entah sendiri maupun berdua duduk-duduk pada kursi panjang di depan Kantor LIPI dan Kantor Pajak sambil menunggu bis yang akan mengangkut mereka ke rumah masing-masing. Dan sambil duduk, mereka tak canggung memainkan ponselnya. Sebuah pemandangan yang asyik.

Hari lain, saya temukan seorang pemulung sedang asyik tidur dengan memenuhi seluruh bangku panjang di Jalan Gatot Subroto, tanpa memberi tempat kepada orang lain.

Pernah juga sekelompok anak muda di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat mencoba berjalan kaki di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman. Mereka lalu menikmati setiap kursi panjang yang dipasang di pinggiran pedestrian pusat perkantoran Jakarta tersebut. Mereka menilai, ini suatu trobosan yang sangat bagus dan membuat kota ini menjadi bermartabat.

Ya, kursi-kursi panjang itu sudah membantu warga untuk tidak harus pegal berdiri menunggu angkutan publik di pinggir jalan. Ataupun warga bisa duduk santai untuk menikmati suasana kota dengan segala kebisingan dan polusinya. Meskipun, kadang, kursi-kursi itu dimantaatkan sebagai tempat untuk meletakkan kepala para pemulung.

Selain bermanfaat untuk warga, penempatan kursi-kursi ini juga menjadikan Jakarta semakin bermartabat dan menyetarakan dirinya dengan kota-kota besar lainnya di dunia. Jangan usah jauh-jauh untuk membandingkannya. Tengoklah Singapura, terutama di sepanjang Orchad Road. Mereka juga menyediakan fasilitas-fasilitas seperti ini. Begitu juga di kota-kota di Eropa.

Akan sangat bagus kalau Jokowi memperbaiki, bila perlu memperluas trotoar-trotoar di semua jalan Jakarta saat ini dan menyediakan fasilitas seperti itu (kursi-kursi panjang) di  atasnya. Dengan begitu warga kota ini terangsang untuk mau berjalan kaki dan kalau sudah lelah, istirahat sejenak pada kursi-kursi tersebut. (Alex Madji)