Home Umum Melawan Ketakutan

Melawan Ketakutan

974
0
SHARE
Ilustrasi

Seharusnya tulisan ini dibuat dan dimuat Kamis, 14 Januari 2016 saat terjadi serangan bom oleh sekelompok teroris di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Tapi karena ide yang telat datang, maka baru kali ini ditayang.

Aksi teror di Jalan Thamrin itu sungguh menghentak. Suasana di kantor, tempat saya bekerja heboh seketika. Teman-teman Berita Satu TV tergolong paling riuh. Teriak. Lari. Mereka berkoordinasi satu sama lain antara mereka yang berada di kantor dan lapangan. Sementara kami yang di harian sore, tidak seheboh mereka. Para redaktur sedang me-lay out halaman masing-masing. Hanya redaktur pelaksana yang berkoordinasi dengan pemimpin redaksi untuk mengubah cover atau berita utama.

Sejurus kemudian, redaktur metropolitan ikutan sibuk memindahkan dan menggerakkan pasukannya untuk meliput kajadian tersebut. Suasana makin riuh setelah beberapa televisi mulai menayangkan gambar tentang apa yang sedang terjadi di Jalan Thamrin. Aksi peledakan pos polisi, baku tembak teroris dengan aparat kepolisian disiarkan langsung. TNI yang mengrahkan panser juga tak luput dari tayangan. Bahkan masyarakat yang menonton kejadian itu ikut disorot.

Pada saat bersamaan beredar kabar bahwa bom juga meledak di sejumlah tempat seperti Palmerah, Alam Sutera (Tangerang), dan Kuningan. Isu lain menyebutkan, seorang pria berlari ke arah Istana dengan motor tril sambil menenteng senjata AK 47. Anggota teroris lainnya berlari ke arah Semanggi dengan mobil hijau, juga sambil membawa senjata laras panjang mematikan.

Informasi-informasi ini betul-betul membuat panik dan menakutkan. Bayangkan kalau mereka menembak membabi buta sepanjang jalan Medan Merdeka atau Jalan Jenderal Sudriman, jumlah korban tewas sudah pasti banyak. Apalagi, ada televisi yang menayangkan korban meninggal di Jalan Thamrin tanpa memburamkan gambar. Menakutkan. Pada saat bersamaan, di media sosial beredar gambar-gambar korban dengan luka-luka menganga. Mengerikan dan tentu saja menambah ketakutan.

Teror pada intinya memang menyebar rasa takut yang mendalam kepala publik. Mereka menyerang agar jumlah korban berjatuhan dalam jumlah besar. Hal itu akan menimbulkan ketakutan yang dahsyat. Dengan rasa demikian, mereka bisa menguasai keadaan dan publik tunduk pada mereka.

Untung, seketika itu juga, publik melawan penyebaran rasa takut ini. Dimulai dengan membuat status-status di media sosial untuk tidak menyebarkan gambar-gambar korban yang menakutkan karena tindakan seperti ini hanya akan membantu teroris mencapai tujuan mereka. Bahkan, beberapa orang menyebutkan, orang yang menyebarkan gambar-gambar horor dari para korban adalah bagian dari kelompok teroris. Bahkan tagar #PrayforJakarta, meniru #PrayforParis, juga hanya akan menguntungkan teroris karena publik diajak bersedih.

Maka kemudian publik secara bersama-sama melawan rasa takut itu dengan membuat sejumlah tagar seperti #Indonesiaunite dan terakhir #KamiTidakTakut. Tagar yang terakhir ini menjadi senjata ampuh melawan rasa takut yang disebarkan teroris. Diimbuhi meme-meme lucu baik dari polisi maupun pelaku teroris yang jadi korban turut melunturkan rasa takut publik. Melihat meme-meme lucu itu orang tersenyum dan sedikit mengusir rasa takut.

Bahkan di tengah aksi teror tersebut, media sosial, terutama kaum hawa, juga marak membicarakan aski polisi ganteng yang turut memburu teroris dengan kostum mahal. Hal-hal seperti ini, terlepas dari kontroversi – terutama untuk hal yang terakhir – turut mengusir rasa takut publik. Alhasil, pascakejadian tersebut aktivitas publik termasuk di sekitar lokasi kejadian berangsur-angsur pulih.

Perlawanan massif ini, dengan cara yang sedernana, membuat aksi teroris gagal total. Mereka memang berhasil meledakkan bom, menembak aparat polisi sehingga menimbulkan korban jiwa aparat keamanan dan masyarakat sipil. Tapi mereka gagal membangun rasa takut yang massif. Sebaliknya teroris menjadi bahan olok-olokan. Mari kita lawan terus penyebaran rasa takut ini. Ini modal yang kuat untuk menghancurkan terorisme dari Indonesia. (Alex Madji)