Home Umum Mendekatkan Diri dengan Buah Hati

Mendekatkan Diri dengan Buah Hati

935
0
SHARE
Sumber Foto: family.fimela.com

Kali ini saya mau menulis tentang mendidik anak, utamanya tentang membangun kedekatan dengan si buah hati. Saya memang bukan seorang ayah yang baik dan sempurna. Namun selalu mencoba untuk lebih dekat dengan kedua putra saya. Saya tidak melakukan hal-hal luar biasa. Juga bukan melulu menjalankan apa yang sudah ditulis para pakar di berbagai buku. Saya lakoni hal-hal sederhana saja dan sesuatu yang sangat alamiah. Yang terpenting membuat mereka happy.

Setiap pagi, saya membangunkan anak sulung saya dengan cara membisiki telinganya. Kadang dengan mengilik alias membuatnya geli. Dengan cara begitu, ia biasanya mau bangun. Meski sekarang usianya sudah tujuh tahun lebih, saya menggendongnya ke kamar mandi. Selanjutnya ia akan mengurus dirinya sendiri. Mulai dari sikat gigi, mandi, lap, hingga ganti pakaian.

Anak kedua saya agak sedikit susah. Ia sulit bangun pagi. Kalau masuk sekolah pagi, kami selalu berantem karena ia harus dimandikan secara paksa. Untung, sekarang ia masuk siang, jadi bisa tidur sepuasnya dan jarang berantem pagi-pagi. Tapi setiap Jumat (saat ia masuk pagi), rutinitas kami tiap pagi adalah membangunkannya dan memandikannya secara paksa. Kadang, ia mencoba menawar. Misalnya, mau dimandikan mami. Padahal, maminya sibuk menyiapkan sarapan dan sangu.

Setelah sarapan pagi, saya mengantar kakak ke sekolah. Kalau adiknya dapat jawal masuk pagi, kami satu motor bertiga. Kami membiasakan untuk saling memberkati sebelum berangkat sekolah. Saya membuatkan tanda salib di dahi mereka dengan kalimat baku seperti ini, “Semoga Tuhan memberkati kakak/adek sepanjang hari ini dalam Nama Bapak, Putra, dan Roh Kudus, Amin”. Lalu anak membuat tanda salib di dahi saya dengan kalimat ini, “Semoga Tuhan memberkati Papi dalam perjalanan ke kantor dalam Nama Bapak, Putra, dan Roh Kudus, Amin.”

Setelah itu saya mencium pipi kiri, kanan, dan kening mereka. Begitu juga sebaliknya. Nanti di sekolah, kami tinggal tos, sebelum mereka diserahkan kepada guru yang menunggu di depan pintu sekolah. Setelah itu, baru saya ke kantor dan tiba di kantor rata-rata jam 08.00 WIB.

Sore atau malam hari, saya mencoba untuk selalu menyediakan waktu bermain bersama mereka. Kadang kami isi dengan joging bareng di taman. Atau mereka gantian bersepeda, saya joging mengitari taman yang tidak seberapa luasnya hingga 50-60 kali. Lumayan. Hitung-hitung membakar lemak selama satu jam.

Habis itu, kami duduk di depan rumah sambil istirahat dan minum air putih. Kemudian mandi bareng. Ada saja kejadian lucu di kamar mandi saat mandi bareng. Sebelum mandi, kami biasanya main dulu; siram-siraman atau lomba sikat gigi. Selain itu, saya menggendong adek baru guyur air satu gayung. Untuk dia, ada sensasi. Begitu kena air bak dari pancuran, ia tertawa terbahak-bahak.

Untuk kakaknya, saya tidak melakukan hal yang sama karena sudah berat. Saya bisanya suruh dia berdiri di belakang saya. Kemudian saya mengguyur melewati kepala. Air yang jatuh di kepalanya membuat ia juga terbahak. Oh iya, kami masih pakai gayung bukan shower.

Baca Kitab Suci

Kadang juga ada perasaan sebal dan kesal. Lebih-lebih kalau disuruh makan. Juga, saat di suruh belajar. Pada situasi seperti ini otoritas kebapakan, saya benar-benar pakai. Tanpa kompromi. Saya matikan televisi, remote dipegang. Kalau tidak, colokan listrik dicabut. Kalau masih ngeyel, terpaksa disentil dan nepok kaki. Kalau sudah begini, biasanya adek nangis, lalu masuk ke kamar. Kalau kakaknya, bila dimarahi dan keinginan menontonnya dibatasi, ia tidak sampai menangis. Tapi raut wajahnya langsung memperlihatkan bahwa ia sedang bad mood.

Tapi setelah “sesi” marah, biasanya saya minta maaf. Mereka juga minta maaf. Kami berpelukan dan saling memaafkan. Setelah periode berantem ini, kondisi kembali normal. Aksi porak porandakan rumah dilanjutkan lagi.

Malam hari, sebelum tidur, kami bisa melakukan sejumlah hal. Mulai dari membaca cerita, mendongeng, bahkan berantem dua lawan satu. Kadang, mereka meminjam tokoh-tokoh dari film kartun dan saya dipaksa memainkan peran salah satu tokoh dari film yang mereka tonton tersebut. Lain waktu, kami main perang-perangan bantal. Kalau ada yang angkat tangan tanda menyerah maka permainan berhenti.

Satu bulan terakhir, ada semacam kebiasaan baru yang kami lakukan. Membaca Kitab Suci. Awalnya, saya diminta untuk mendongeng. Tapi karena dongeng yang tersisa dari ingatan masa kecil saya sudah diceritakan berkali-kali, maka saya tawarkan untuk baca Kitab Suci. Saya bilang, di sana banyak cerita menarik. Ada cerita perang, kisah cinta, dan macam-macam. Mereka setuju.

Lalu saya suruh kakak ambil Kitab Suci yang selama ini menjadi penghuni tetap laci lemari karena tidak pernah dibuka. Saya baca mulai dari Kitab Kejadian. Satu malam satu bab. Kadang, kalau terlalu panjang dibagi dua. Ternyata mereka tertarik dan ketagihan. Sekarang, setiap malam sebelum tidur, mereka minta dibacakan Kitab Suci. Sejauh ini sudah 26 bab. Setelah baca Kitab Suci ini, kami matikan lampu, lalu tidur.

Soal kebiasaan ini, saya memang pernah membaca sebuah buku tentang Yerusalem. Di sana, penulisnya antara lain mengisahkan kebiasaan di keluarganya waktu masih kecil. Diceritakan bahwa orang tuanya sering menceritakan kisah-kisah dari Kitab Suci sebagai pengganti dongeng di malam hari.

Begitulah cara saya membangun kedekatan dengan buah hati. Hal-hal sederhana. Anda juga tentu punya cara tersendiri. Mungkin juga ada kebiasaan yang sama. Apa pun yang kita lakukan, sesederhana apa pun itu, mudah-mudahan membuat anak-anak kita happy dan ikatan emosional kita dengan mereka semakin kuat. (Alex Madji)