Home Inspirasi Menyaksikan Orang Papua yang Tersisih

Menyaksikan Orang Papua yang Tersisih

851
3
SHARE


Peringatan hari kemerdekaan Papua pada Kamis, 1 Desember 2011 riuh. Hal itu terlihat dari liputan media massa yang begitu luas. Perayaan pun tidak hanya dilaksanakan di Jayapura. Tetapi juga di Timika, Monokwari, dan Merauke. Tidak ada inisiden hebat, meskipun ada pengibaran Bendera Bintang Kejora dan ada pembacaan pidato Presiden Negara Republik Federal Papua Barat Forkorus Yaboisembut yang ditahan pasca ditangkap pada Kongres Rakyat Papua III di Abepura beberapa waktu lalu.

Isu M (merdeka) selalu hidup di tengah masyarakat Papua. Tiap tahun isu ini digulirkan. Tetapi apakah mereka mau merdeka secara ideologis dan keluar dari NKRI? Atau mereka hanya ingin keluar dari situasi keterpinggiran dan ketersingkirian yang mereka alami? Saya tidak ingin menjawab, apalagi mengulas pertanyaan-pertanyaan itu. Saya hanya ingin menceritakan apa yang saya lihat di Jayapura, ibukota Provinsi Papua.

Cukup sering saya ke Papua. Terutama Jayapura. Pernah tinggal sepekan di Hotel Matoa Jayapura untuk meliput acara pengembalian UU Otsus kepada Pemerintah Pusat, beberapa tahun silam. Pernah juga ke Sorong, Monokwari, dan Merauke. Hanya Dua tahun terakhir ini saya absen ke provinsi paling timur itu.

Kalau Anda ke Jayapura, ada fakta yang sangat mencolok terlihat sejak turun di Bandara Sentani. Begitu keluar ruang kedatangan, orang-orang yang menjajakan jasa angkutan atau yang mereka sebut taksi, nyaris tidak ada orang-orang asli Papua yang berciri-ciri rambut kriting dan berwarna kulit hitam (ini bukan sara, karena saya juga hitam). Kalaupun orang-orang seperti ini ditemukan di Bandara, mereka hanya penjual koran dan buruh angkut. Kebanyak para sopir taksi itu adalah mereka yang berambut lurus dan warna kulitnya terang alias coklat.

Pemandangan menarik juga diperlihatkan di Kota Jayapura. Di jantung kota, ada sebuah pusat perbelanjaan Gelael. Saya pernah iseng masuk ke dalamnya. Astaga! Tidak satupun orang berambut keriting dan berkulit hitam menjadi pelayannya. Ke mana mereka? Walahualam.

Mama-mama Papua hanya menjual sirih pinang yang digelar begitu saja di depan Gelael itu. Yang mendatangi mereka pun, hanya orang-orang Papua sendiri. Sebab hanya mereka yang memiliki budaya makan sirih pinang. Apakah ada pendatang yang membeli jualan mereka? Sepengamatan saya, tidak ada.

Di hotel-hotel, hanya segelintir pemuda Papua yang bekerja sebagai karyawan. Itupun sebagai room service dan cleaning service. Kebanyakan, terutama karyawati hotel, adalah perempuan-perempuan berkulit kuning langsat. Tidak satu pun nona-nona Papua yang ditempatkan di desk terdepan hotel, yaitu bagian informasi. Kemana nona-nona Papua? Lagi-lagi walahualam.

Di tempat-tempat makan juga sama. Hampir semua rumah makan di Jayapura milik orang luar. Tidak ada satu pun orang asli Papua yang masuk dalam usaha kuliner itu. Orang-orang asli Papua, terutama para pejabatnya, hanya sebagai pengguna.

Di pasar-pasar juga begitu. Pasar Hamadi, misalnya, dikuasai pendatang. Di pasar yang terkenal sebagai pusat kerajinan Papua ini jarang dijumpai orang asli Papua. Kerajinan-kerajian Papua justru dijual oleh para pendatang. Hanya segelintir orang asli Papua ada di situ.

Hanya ada satu pasar di mana saya jumpai penjualnya hampir seluruhnya orang Papua, yaitu di Sentani. Tetapi itu pasar kaget. Letaknya di sisi jalan raya. Pace-pace (bapak-bapak) dan mace-mace (mama-mama) menjual segala macam hasil pertanian di situ.

Itulah sedikit fakta yang saya saksikan di Jayapura. Siapa yang membuat mereka tersisih dan tersingkir di tanah kelahiran mereka sendiri? Apakah karena mereka tidak mampu bersaing? Lalu ini salah siapa? Salah mereka sendiri? Ah masih terlalu banyak pertanyaan yang bisa dilontarkan.

Mungkin jawaban paling penting dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah bangunlah Papua bukan hanya secara fisik tetapi juga pembangunan manusianya dari segala macam aspek. Mereka harus dihargai dan diperlakukan sama dengan manusia dari daerah-daerah lain. Jangan diskriminatif. Menurut saya, ini adalah kunci penyelesaian masalah Papua. Kalau tidak, Papua tetap akan bergolak seperti tergambar dalam foto perempuan yang tubuhnya diwarnai Bendera Bintang Kejora dalam aksi demo di Jakarta, Kamis (1/12/2011) karya Fotografer Suara Pembaruan, Joanito De Soaojoa. (Alex Madji)